Menko PMK Muhadjir Effendy (bertopi, batik ungu) saat melakukan kunjungan ke Kampung Tangguh Semeru RW 05, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (3/6).(Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Menko PMK Muhadjir Effendy (bertopi, batik ungu) saat melakukan kunjungan ke Kampung Tangguh Semeru RW 05, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (3/6).(Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Keberadaan kampung tangguh di Kota Malang sebagai upaya penanganan percepatan covid-19 mendapat perhatian dari berbagai pihak. Sebab, dengan berbagai fasilitas yang ada, kampung tangguh bisa menjadi langkah dalam menanta new normal atau kelaziman baru di tengah pandemi covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy secara langsung mengapresiasi keberadaan kampung tangguh di Kota Malang.

Salah satunya Kampung Tangguh Semeru RW 05 Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, yang menjadi tujuan kunjungannya hari ini (Rabu, 3/6/2020).

"Saya sangat mengapresiasi Kelurahan Purwantoro ini, terutama RW 05 Kota Malang, yang telah memberikan contoh yang sangat bagus untuk warga masyarakat bagaimana membangun lingkungan yang multifungsi dan sangat mendukung untuk kepentingan upaya kita menanggulangi covid-19 ini," ujarnya.

Muhadjir juga memastikan bagaimana cara petugas yang siap melakukan pemulasaraan jenazah bagi pasien covid-19 di wilayah tersebut hingga rumah isolasi yang diperuntukkan bagi para pasien yang memerlukan karantina.



Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) ini juga menilai tempat isolasi yang sudah disiapkan di area kampung tangguh ini sudah sesuai. Namun, sebisa-bisanya tidak ada yang bersedia untuk dikarantina.

"Tadi saya sudah melihat, di RW ini ada khusus rumah isolasi. Mudah-udahan tidak dipakai. Saya sudah setuju rumah isolasi jangan bagus-bagus. Nanti kalau bagus, semua orang banyak yang pulang hanya untuk diisolasi. Tapi, kalau ruangannya seram, nggak akan main-main. Ini juga bagus, tenaga yang dilatih untuk pemulasaraan jenazah covid-19," imbuhnya.

Beberapa fasilitas lainnya yang dimiliki di Kampung Tangguh Semeru RW 05 tersebut seperti pengolahan ikan lele untuk dijadikan bentuk pangan berupa bakso, steak, nugget hingga sempol.

Kemudian, ketahanan telolet (terong, lombok, lele, tomat). Lalu, lumbung pangan hingga penyediaan mlijo gratis yang diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan.



"Dan ini betul-betul kegotong-royongan yang nyata ini. Tadi saya lihat ada tempat untuk jualan tapi tidak bayar. Apa istilahnya, mlijo gratis. Mlijo kan padahal jualan sayur-mayur itu, tapi di sini gratis," terangnya.

Dalam hal ini, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga menilai kegotong-royongan dari masyarakat di wilayah tersebut dapat menjadi percontohan bagi wilayah lainnya.

"Paling tidak, kalau Kota Malang ini, 50 persen saja dari kelurahan yang ada di sini seperti Kelurahan Purwantoro, saya rasa akan bisa menjadi contoh kota-kota yang lain untuk membangun lingkungan yang hidup sehat, bersih, kemudian masyarakatnya guyup, penuh kegotong-royongan," ungkapnya.

Hal-hal sederhana yang diciptakan dari lingkungan ini sekiranya bisa menjadi bentuk revolusi mental dalam menghadapi new normal nantinya. 

"Ini saya kira contoh yang baik yang bisa diadopsi, didesiminasi oleh daerah-daerah lain. Menurut saya, warga di sini telah melakukan revolusi mental. Jadi, mengubah dari yang tidak baik menjadi baik," tandasnya.