Ilustrasi salah satu adegan dalam pertunjukan Tarian Calon Arang di Denpasar, Bali, pada tahun 1930. (Sumber: Koleksi digital perpustakaan Universitas Leiden dari Kemendikbud)
Ilustrasi salah satu adegan dalam pertunjukan Tarian Calon Arang di Denpasar, Bali, pada tahun 1930. (Sumber: Koleksi digital perpustakaan Universitas Leiden dari Kemendikbud)

MALANGTIMES - Seluruh dunia, termasuk Indonesia, saat ini sedang berperang melawan wabah covid-19. Sudah berbulan-bulan lamanya pageblug ini tidak menunjukkan tanda mereda di tanah air. Disebut-sebut penyakit yang muncul pertama di Wuhan, China, ini berasal dari hewan.

Siapa sangka kalau dalam catatan sejarah, di Indonesia juga pernah terjadi wabah penyakit yang melanda. Saat itu, wabah terjadi bukan disebabkan oleh infeksi hewan liar, melainkan santet.

Baca Juga : Gemar Melucu, Sahabat Rasulullah Ini Disebut Masuk Surga dengan Tertawa

Kisah ini tertulis dalam sebuah naskah lontar yang ditulis dalam aksara Bali dengan bahasa Jawa Kuno dari tahun 1462 Saka (1540). Naskah tersebut adalah naskah Calon Arang. Kisah Calon Arang diperkirakan muncul saat pemerintahan Raja Airlangga (1006-1042) di Jawa Timur.

Berikut kisahnya dilansir dari buku The Secret of Santet karya A. Masruri dan artikel Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Calon Arang adalah seorang janda sakti yang tinggal di Desa Girah bersama anak gadisnya yang bernama Ratna Manggali. Ia pernah menggegerkan Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Raja Airlangga.

Konon  para penduduk takut terhadap kesaktian dan kebengisan Calon Arang. Sehingga, tidak ada lelaki yang berani melamar putrinya. Hal ini mengakibatkan Calon Arang marah, lalu menebar musibah di tanah Kediri.

Ia melakukan ritual cara melakukan ritual kepada Bhatari Durga untuk menurunkan wabah penyakit di sebuah kuburan. Dewi Durga pun mengabulkan permohonan Calon Arang.

Setelah itu, pageblug pun menyebar. Hampir seluruh penduduk negeri terserang penyakit. Sakitnya berupa kondisi tubuh panas dingin selama satu hingga dua malam. Banyak pula kasus orang yang pada pagi hari sakit, sorenya meninggal. Atau, pada sore hari sakit, pagi harinya meninggal. Jadi, banyak orang yang meninggal dan dikubur secara bergantian.

Esok pagi mengubur seorang rekan, sore hari si pengubur meninggal dan kemudian dikuburkan. Mayat-mayat bertumpukan dan bertindihan di kuburan. Tidak ada ruang sela di kuburan.

Mayat-mayat tergeletak di jalan, ladang, dan ada juga yang membusuk di rumahnya. Banyak anjing memakan mayat. Burung gagak berterbangan untuk mencari bangkai di setiap sudut desa.

Rumah-rumah di desa menjadi kosong, banyak penduduk yang memilih pergi dan mengungsi ke tempat lain karena wabah ini.

Melihat banyaknya korban berjatuhan dan mengetahui bahwa pageblug itu karena ulah Calon Arang, Raja Airlangga mengirim pasukan ke Desa Girah untuk membunuh Calon Arang. Sayangnya, si janda bengis itu terlalu sakti untuk dikalahkan.

Penyerangan yang dilakukan oleh tentara kerajaan tidak mampu menyurutkan Calon Arang menghentikan santetnya. Sebaliknya, dia semakin marah dan semakin kuat menyebarkan santetnya hingga korban pun semakin bertambah.

Baca Juga : Unggah Konten Remehkan Covid-19, Beauty Vlogger Indira Kalistha Tuai Kritik Warganet

Raja Airlangga tak menyerah. Dia masih terus berupaya mencari cara untuk menghentikan wabah ini. Para pendeta dan resi tak henti berdoa di istana hingga akhirnya turunlah petunjuk bahwa yang dapat mengakhiri pageblug itu hanyalah Mpu Bharadah dari Desa Lemahtulis. Airlangga kemudian mengirim utusan untuk menghadap Mpu Bharadah.

Untuk meredam kemarahan Calon Arang, Mpu Bharadah mengutus muridnya yang bernama Bahula untuk menikahi Ratna Manggali. Tugas sang menantu, selain meredam kemarahan mertuanya, juga menjadi mata-mata bagi kepentingan kerajaan.

Setelah menikah dan tinggal di kediaman mertuanya, Bahula tahu bahwa kesaktian mertuanya itu karena sebuah kitab yang setiap malam dibaca saat Calon Arang melakukan upacara di kuburan. Bahula pun segera menemui gurunya sambil membawa kitab itu dan menceriterakan kebiasaan mertuanya.

Setelah menyerahkan bukti dan data intelijen, Empu Bharadah kemudian menyuruh Bahula kembali ke Girah sebelum Calon Arang mengetahui bahwa Bahula adalah mata-mata. Mpu Bharadah kemudian menyusul ke Desa Girah.

Pada buku The Secret of Santet diceritakan bahwa dalam perjalanan, Mpu Bharadah menyembuhkan banyak orang yang sakit dan menghidupkan kembali mayat yang jasadnya masih utuh.

Di kuburan Desa Girah bertemulah Mpu Bharadah dengan Calon Arang. Mpu Bharadah memperingatkan agar Calon Arang menghentikan santetnya. Calon Arang bersedia menuruti nasihat itu asalkan dia diruwat untuk melebur dosa-dosanya. Tetapi, Mpu Bharadah menolak meruwatnya karena dosa Calon Arang dianggap sudah terlalu besar.

Akhirnya, terjadi pertempuran antara Calon Arang dan Mpu Bharadah. Calon Arang berusaha membunuh Mpu Bharadah dengan menyemburkan api yang memancar dari matanya. Namun, ternyata Mpu Bharadah lebih sakti. Dalam perang tanding itu, Calon Arang mati dalam posisi berdiri.

Setelah itu, Mpu Bharadah menghidupkan kembali Calon Arang untuk diberi ajaran tentang kebenaran hidup agar kelak bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta bersedia mengajarkan jalan ke surga. Setelah selesai mempelajari ajaran-ajaran kebajikan, Calon Arang dimatikan lagi, kemudian mayatnya dibakar.