Langit biru. (Foto: Zico Bonetti for MalangTIMES)
Langit biru. (Foto: Zico Bonetti for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Meski melakukan isolasi diri di rumah, sesekali tengoklah langit. Di beberapa daerah, jika sedang tidak mendung atau hujan, warna langit tidak keruh lagi, melainkan tampak bersih dan berwarna biru. 

Baca Juga : Guru Besar Geofisika UB: Kekayaan Maritim Indonesia Banyak yang Belum Tereksplorasi

Tentu pemandangan yang seharusnya biasa seperti ini sebelumnya jarang ditemui di kota-kota besar yang memproduksi banyak polusi. Namun, kini, langit di kota-kota besar seperti Jakarta sekalipun kembali berwarna biru.

Pakar biologi tanah dan ekologi perakaran Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Dr Ir Kurniatun Hairiah menyatakan, kembalinya warna langit menjadi biru ini disebabkan oleh turunnya konsentrasi NO2. NO2 merupakan gas berbahaya yang dipancarkan oleh kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan fasilitas industri.

Kurniatun mengatakan, penurunan NO2 ini berhubungan dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang bertujuan menekan penyebaran covid-19. "PSBB di beberapa daerah telah menurunkan konsentrasi NO2 secara signifikan dan membuat terjadinya peningkatan kualitas udara di beberapa daerah, seperti di Jakarta," ucapnya.

Guru besar UB ini menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Series 1 bertajuk "Rakyat, Ekologi dan Ketahanan Pangan dalam Menghadapi Pandemi" belum lama ini. "Efek PSBB ini membuat langit di beberapa daerah di Indonesia kembali berwarna biru. Hal ini tentunya karena pada umumnya pandemi Covid-19 banyak terjadi di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi," sambungnya.

Baca Juga : Begini Cara Negara Lain Kurangi Suhu Udara Panas, Bisa Dicontoh Indonesia

Kurniatun menjelaskan, berdasarkan data dari WHO, pengurangan jumlah traffic di beberapa daerah seperti di Wuhan, China, dengan  11 juta penduduk yang terkena lockdown, menurunkan konsentrasi NO2 secara signifikan. "Berdasarkan peta satelit, efek lockdown bisa dilihat pada perbedaan warna langit pada  Januari dan Februari. Jika pada Januari warna langit berwarna oranye atau merah, maka pada Februari warna langit sudah menjadi biru," ungkapnya.

Selain merusak keindahan langit, NO2 yang tinggi juga dapat mengganggu saluran pernapasan manusia. Paparan dalam jangka pendek dapat memperparah penyakit pernapasan, terutama asma, yang menyebabkan gejala pernapasan seperti batuk dan sulit bernapas.