Bupati Malang Sanusi (Ody MT)
Bupati Malang Sanusi (Ody MT)

MALANGTIMES - Di tengah persiapan penerapan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dengan segala aktivitasnya. Para ASN di bawah kepemimpinan Bupati Malang Sanusi dipermukaan terlihat bersatu.

Baca Juga : Kandidat Calon Sekda, Siapa Punya Peluang di Pusaran Politik Pilkada?

Tetapi dibalik itu semua, beberapa pejabat ASN (Aparatur Sipil Negara) sedang mempersiapkan rencana besar untuk merebut kursi jabatan tertinggi ASN di Kabupaten Malang, yakni jabatan Sekda (Sekretaris Daerah).

Kabarnya, para pejabat yang telah siap bertarung memperebutkan kursi Sekda ini telah terbagi dalam dua kubu besar, yakni kubu Bupati Sanusi dan Sekda Didik Budi Muljono yang awalnya diklaim sama-sama kuat.

Sebagai informasi, hingga kini kursi Sekda masih dijabat oleh Didik Budi Muljono. Masa jabatannya hingga, akhir Mei 2020 mendatang dikarenakan menginjak usia pensiun.

Disela memasuki purna tugas ini, Didik masih memiliki kewenangani sebagai Ketua Tim Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan). Kewenangan yang saat ini banyak dipertanyakan banyak pihak, karena terlihat enggan membentuk tim pansel (panitia seleksi) untuk menseleksi calon-calon Sekda yang akan menggantikan posisinya.

Padahal, Bupati Malang Sanusi saat ditemui beberapa waktu lalu di sela-sela agenda pembagian sembako di Kecamatan Ampelgading menuturkan, bahwa mengenai persiapan yang dilakukan untuk menjaring calon-calon Sekda akan terlebih dahulu dibentuk pansel. 

“Saya sudah hubungi Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) pusat. Disarankan untuk segera bentuk pansel yang terdiri dari lima orang," ucapnya.
Pansel itu, lanjutnya, berasal dari unsur BKD dan KanReg Jawa Timur, yang tiga dari akademisi. 

"Karena panselnya Sekda maka akademisinya KASN minta yang S3,” ujarnya, Kamis (23/4/2020) lalu.

Sanusi melanjutkan, pembentukan pansel menjadi syarat untuk seleksi. Dimana, nantinya pansel yang mempersiapkan segala macam syarat-syarat administrasi yang diperlukan. 

Setelah semua terlengkapi, daftar pansel diajukan ke KASN pusat untuk disetujui atau tidak. Jika disetujui, pansel sudah bisa bekerja sesuai tupoksinya dan nantinya jika telah terpilih namanya, maka nama tersebut disodorkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dilantik. 

Sayangnya, dari beberapa informasi, pansel ini pun belum terbentuk saat berita ditulis. Hal yang membuat Sanusi pun meminta Didik untuk segera membentuk pansel secepatnya.
Bahkan, Sanusi menyatakan, untuk seleksi calon Sekda tak memerlukan Baperjakat dalam pembentukan pansel yang dirasanya belum ada progres.
“Nggak perlu Baperjakat, nggak perlu melibatkan. Karena cuma milih satu orang,” tegasnya singkat, beberapa waktu lalu saat ditemui di sela-sela agenda di Pendopo Kabupaten Malang.

"Yang dipilih juga kan satu orang," imbuhnya.

Belum diketahui secara jelas, motif Sanusi sebenarnya terkait tidak melibatkan Baperjakat dalam pembentukan pansel Sekda. Dilihat dari langkah-langkah yang dilakukan Sanusi dan Didik memang terlihat telah memacu dua kubu besar yang berada di pihaknya masing-masing untuk menabuh genderang ‘perang’ dalam proses pemilihan Sekda.

Baca Juga : Di Balik Beludru Kursi Sekda, Ada Dua Kubu Bertarung Sengit?

Pernyataan Sanusi ini bisa jadi dikarenakan, gerak  langkah Didik yang diduga sengaja mengulur waktu dengan tidak memberikan respon terkait pergantian dirinya pada posisi Sekda dalam bentuk proses pembentukan pansel. 

Aroma kepentingan pilkada 2020 yang tertunda dan sempat menempatkan Didik sebagai bakal calon bupati, walau terpinggir dari PDI Perjuangan, menyeruak.

Tak mau kecolongan, Sanusi juga bergerak ambil alih untuk proses pembentukan pansel dengan menunjuk pimpinan tiga kampus di Malang untuk menjadi bagian dari pansel. 

Patut diduga pemilihan ketiga pimpinan kampus tersebut, selain dilihat dari aspek professional  juga terdapat aspek kedekatan dengan Sanusi. 

Seperti diketahui, Sanusi telah meminta pimpinan dari tiga Universitas di wilayah Malang untuk menjadi pansel. Yakni, Universitas Brawijaya, Universitas Islam Malang dan Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim Malang. Terdapat dua rektor dan satu pembantu rektor. 

Dimana para pucuk pimpinan tiga kampus tersebut juga sebelumnya tampak dekat dengan Sanusi. 

“Saya minta akademisinya dari Brawijaya, UIN dan dari UNISMA. Kebetulan untuk Brawijaya itu pak rektor, Prof. Dr. Nuhfil bersedia untuk jadi pansel (panitia seleksi) dan juga Prof. Dr. Maskuri Rektornya UNISMA juga bersedia. Dari UIN itu PR (Pembantu Rektor) tiga, doktor juga,” ungkapnya.

Apakah pemilihan dari kalangan akademisi dengan memilih Rektor Universitas Brawijaya dan Universitas Islam Malang (UNISMA) serta pembantu rektor tiga hanya sebuah bentuk profesionalitas atau kedekatan personal Sanusi dengan ketiga pimpinan kampus tersebut. Sanusi tidak memaparkan secara gamblang terkait alasan pemilihan pimpinan tiga kampus tersebut. Selain telah menempuh studi program doktoral.

Dalam momen seperti ini selalu banyak spekulasi-spekulasi yang bermunculan, karena agenda seperti ini tidak terlepas dengan agenda politik praktis. Agenda ini pun, diduga juga dipersiapkan untuk perebutan kursi Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Malang pada agenda Pilkada Kabupaten Malang 2020 yang rencananya akan digelar pada Bulan Desember 2020 mendatang.