Para pejabat yang ramai digadangkan maju sebagai calon Sekda Kabupaten Malang (MalangTimes)
Para pejabat yang ramai digadangkan maju sebagai calon Sekda Kabupaten Malang (MalangTimes)

MALANGTIMES - Didik Budi Muljono, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, tinggal menghitung bulan. Sebelum melepas jabatannya dikarenakan purna tugas, 1 Juni 2020 mendatang.
Rentang waktu menuju masa pensiun itu pula yang membuat Bupati Malang Sanusi meminta Didik untuk bersegera melakukan proses seleksi bagi para calon Sekda baru nantinya.
Sanusi bahkan menegaskan, bahwa dirinya meminta agar panitia seleksi (pansel) menyelesaikan seluruh proses hingga keluar satu nama untuk menduduki jabatan sekda di akhir Mei 2020.

Baca Juga : Di Balik Beludru Kursi Sekda, Ada Dua Kubu Bertarung Sengit? 

 

Walau belum terlihat dipermukaan, kabar terkait nama-nama calon Sekda pengganti Didik, telah merebak di masyarakat. Dukungan ke para calon pun memperlihatkan adanya dugaan pertarungan dua kubu. 

Yakni 'loyalis' Didik yang sempat mencalonkan dirinya sebagai calon Bupati dari PDI Perjuangan. Dengan Sanusi yang kini telah menggenggam tiket untuk berkontestasi di Pilkada 2020 dengan menaiki Banteng Moncong Putih.

Kedua kubu itu pun berada di kendaraan yang sama, yaitu sebagai aparat sipil negara (ASN) di Kabupaten Malang. Sebagai para kandidat Sekda yang tentunya juga memiliki dukungan sesuai pilihan politik kedua kubu dari luar ASN.

Dari berbagai sumber yang berkembang, para kandidat Sekda itu adalah Wahyu Hidayat Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK), Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (bappeda) Tomie Herawanto, Inspektur Daerah Tridiyah Maistuti, dan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembang Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Nurman Ramdansyah.

Nama-nama itu mencuat didasarkan pengalaman mereka sebagai ASN diberbagai kursi yang pernah dijabatnya. Pun dengan berbagai syarat untuk maju sebagai calon Sekda, seperti sedang atau pernah menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (eselon II.b) atau Jabatan Fungsional jenjang Ahli Madya paling singkat 2 (dua) tahun. Atau, memiliki pengalaman jabatan dalam bidang tugas yang terkait dengan jabatan yang akan diduduki secara kumulatif paling kurang selama 5 (lima) tahun, dan persyaratan lainnya.
Beberapa nama itu pun sempat menyampaikan, misalnya Wahyu Hidayat, bahwa dirinya sebagai ASN selalu siap bila pimpinan memerintahkannya untuk mengikuti seleksi calon Sekda.

"Sebagai ASN bila ada perintah pimpinan tentu saya berangkat. Tapi, ini kan pansel juga belum dibentuk," ujarnya ke wartawan.
Wahyu yang namanya santer digadang-gadang oleh berbagai unsur, secara persyaratan memang memenuhi untuk bertarung dalam perebutan kursi Sekda Kabupaten Malang.
Walau secara tegas dirinya mengatakan, bahwa sebagai ASN, loyalitas kepada pimpinan menjadi bagian penting yang tak bisa diabaikan. "Jadi saya ikuti instruksi pimpinan terkait itu. Pansel juga belum dibentuk kan," ucapnya.

Mencuatnya nama Wahyu, walau terkesan menyerahkan nantinya pada pansel, Sanusi terlihat menyetujuinya sebagai seorang pimpinan.
"Saya serahkan ke pansel nantinya. Siapapun yang terbaik bagi Kabupaten Malang," ujarnya secara normatif.

Dari berbagai informasi lainnya, nama-nama para kandidat itu pun telah memiliki dukungan dari pihak luar ASN. Kembali preferensi politik menjelang Pilkada menjadi bagian dari dukungan itu sendiri. Pasalnya, kursi Sekda merupakan jabatan strategis dalam pemerintahan. Yang notabene tak bisa lepas juga dalam tarik menarik kepentingan politik.

Empat nama itu pun sempat ramai diposisikan dalam dua kubu besar sebelum pandemi covid-19 menerjang Kabupaten Malang. Saat Didik Budi masih berpeluang untuk melaju dalam Pilkada 2020. Dan Sanusi pun masih kelimpungan saat itu mencari rekom partai politik.

Baca Juga : Kursi Sekda Habis Juni, Bola Kekuasaan Menggelinding ke Mana? 

 

Kedekatan personal merebak menjadi praduga di antara para pejabat Kabupaten Malang. Bahkan, dari beberapa informasi di dalam pemerintahan, kedua kubu dalam ASN itu memang benar adanya. Dimana keempat kandidat kuat calon Sekda itu pun masuk dalam pusaran kepentingan politik Pilkada 2020.

"Waktu itu memang sangat panas. Bahkan Bupati dalam berbagai kunjungannya juga sempat menyindir-nyindir terkait itu. Bahkan dengan penekanan atas loyalitas ASN," ucap salah satu ASN di Kabupaten Malang yang tak berkenan disebut namanya.

Persaingan ketat saat itu pula yang menggiring opini kedekatan beberapa pejabat Kabupaten Malang sebagai bagian dari dukungan politiknya, baik ke Didik Budi maupun Sanusi. 

Walau secara tegas juga ditampik oleh para kandidat calon Sekda. Dimana, sebagai ASN mereka tak berpolitik praktis dalam berbagai perhelatan pemilu dan pilkada.

Lepas dari kecamuk saling dukung itu, keempat kandidat calon Sekda Kabupaten Malang di atas, telah teruji sebagai ASN yang memenuhi beberapa syarat yang ditentukan.

Lantas siapakah yang memiliki point lebih unggul di tengah tarik ulur kepentingan politik Pilkada. Dengan melihat betapa ngototnya juga Sanusi untuk selekasnya membentuk pansel Sekda. Atau kenapa Didik masih terlihat enggan untuk membentuk dan langsung membuka pengumuman seleksi calon Sekda Kabupaten Malang ke depannya.

MalangTimes akan mengupasnya di edisi berikut.