Kapolres Malang AKBP Hendri Umar (pegang mikrofon) saat sesi rilis obat tanpa izin resmi di halaman loby Mapolres Malang (Foto: Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kapolres Malang AKBP Hendri Umar (pegang mikrofon) saat sesi rilis obat tanpa izin resmi di halaman loby Mapolres Malang (Foto: Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dua orang pengedar sekaligus produsen obat-obatan yang tidak mengantongi izin resmi, berhasil diamankan Satreskrim Polres Malang. Tersangkanya bernama Bambang Suliswanto dan Zainul Abidin. 

Baca Juga : Baru Sehari Bebas, 2 Napi Asimilasi Mencuri di 5 Lokasi, Dihadiahi 3 Tembakan

Kedua tersangka yang baru saja diamankan anggota kepolisian ini, merupakan warga Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

”Para tersangka ini kami ringkus di sebuah rumah produksi yang berlokasi di Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang,” kata Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar, saat sesi rilis di halaman loby Polres Malang, Selasa (28/4/2020) sore.

Terungkapnya kasus ini, dijelaskan Kapolres Malang, berawal dari laporan masyarakat jika di wilayah Kecamatan Gondanglegi terdapat tempat produksi obat yang diduga tidak memiliki izin edar.

Ketika dilakukan penyelidikan, pada hari Sabtu (25/4/2020) polisi berhasil mengamankan tersangka Bambang saat berada di kediamannya yang berlokasi di Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Dari tangan pria 46 tahun itu, polisi menyita beragam barang bukti. Diantaranya 14 ribu lembar kertas kemasan obat sakit gigi, 4.500 lembar kertas kemasan obat sakit gigi dan gusi bengkak, 10 ribu lembar kertas kemasan obat asam urat, 1.200 lembar kertas kemasan obat asam urat berbeda merk, 1.250 kertas bungkus obat sakit gigi dan gusi bengkak, 100 lembar kertas kemasan obat gusi bengkak, 50 lembar kertas bungkus obat sakit gigi, dan beberapa peralatan lainnya seperti benang rol, bungkus plastik, dan satu lampu minyak.

”Dari keterangan tersangka BS (Bambang Suliswanto), dirinya memproduksi obat tanpa izin edar tersebut bersama temannya yang berinisial ZA (Zainul Abidin) di rumah produksi yang ada di Desa Bulupitu (Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang),” terang Kapolres Malang.

Berawal dari pengakuan tersangka Bambang, polisi akhirnya melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan tersangka Zainul Abidin, saat yang bersangkutan sedang mengemas obat di tempat produksi di Desa Bulupitu tersebut.

Ketika diamankan, pria 54 tahun itu tidak bisa mengelak lantaran tertangkap tangan sedang mengemas obat-obatan tanpa izin edar. Barang bukti yang disita polisi dari tangan tersangka Zainul tersebut, meliputi 20 ribu lembar kertas kemasan obat sakit gigi, 5.500 lembar kertas kemasan obat sakit gigi dan gusi, 200 lembar kertas bungkus obat sakit gigi, 15 ribu lembar kertas obat asam urat, 1.500 lembar kertas bungkus obat asam urat, 1.450 lembar kertas bungkus obat sakit gigi dan gusi bengkak, 200 lembar kertas kemasan obat sakit gusi bengkak, serta beberapa peralatan pengemas obat seperti alat plong kertas, benang rol, plastik pembungkus obat, staples, dan lampu minyak.

Baca Juga : Kebun Jeruk Warga Desa Selorejo Malang Dirusak Oknum, Mengaku Suruhan Kepala Desa

”Kedua tersangka ini memproduksi obat tanpa izin edar resmi di tempat yang sama, hanya saja untuk peredaranya masing-masing memiliki lokasi pemasaran yang berbeda wilayah,” ungkap Kapolres Malang.

Dari hasil penyidikan, lanjut Hendri, tersangka Zainul mengaku jika obat yang dia buat secara asal-asalan tersebut dipasarkan ke beberapa toko rumahan yang ada di seputaran Kecamatan Dampit, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Poncokusumo, dan Singosari.

Sedangkan tersangka Bambang, mengedarkannya di beberapa wilayah Kabupaten Malang yang meliputi Kecamatan Gondanglegi, Pagelaran, Gedangan dan Ampelgading.

”Berdasarkan pengakuannya, obat yang diproduksi tersangka diedarkan di wilayah Malang Raya. Tapi tidak menutup kemungkinan, juga sudah dijual di Pasuruan, Probolinggo, dan daerah perbatasan dengan Kabupaten Malang lainnya,” jelas Kapolres Malang.

Perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini menegaskan, akibat perbuatannya kedua tersangka bakal dijerat dengan pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1, dan pasal 196 juncto pasal 98 ayat 2, dan ayat 3 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

”Untuk ancaman pidananya, kurungan penjara paling lama 15 tahun,” tutup Hendri yang juga pernah menjabat sebagai Kasubbagbungkol Spripim Polri ini.