Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg bersama para Kartini UIN Malang. (Foto: Humas)
Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg bersama para Kartini UIN Malang. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Wabah Covid-19 tidak menyurutkan nyali para Kartini Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang). Justru, perempuan-perempuan hebat ini semakin tangguh berjuang untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

Baca Juga : Seberapa Penting Kelola Stres untuk Hadapi Pandemi Covid-19? Ini Penjelasannya

Direktur Pascasarjana UIN Malang Prof Dr Umi Sumbulah MAg; Wakil Rektor Bidang Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) II Dr Ilfi Nur Diana MSi; Dekan Fakultas Saintek Dr Sri Harini MSi; dan Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Malang Dr Isti'adah MSi adalah beberapa figur Kartini modern era milenial di UIN Malang.

Mereka menjadi narasumber dalam diskusi dan berjemur bersama dalam upaya memperingati Hari Kartini di samping teras depan gedung rektorat, Selasa (21/4/2020).

Acara bertema "Emansipasi Perempuan, Peran Menghadapi Covid-19" ini dimoderatori langsung oleh Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg.

"Hari ini amat sangat spesial karena bertepatan dengan tanggal 21 April 2020 dalam rangka memperingati hari Kartini. Ketika kita sebut hari Kartini maka kata yang muncul adalah emansipasi. Oleh karena itu hari ini kita diskusikan terkait emansipasi perempuan dalam menghadapi kasus Covid-19," ucap host Prof Haris saat membuka acara diskusi.

Mengawali diskusinya, Prof Haris menyampaikan, dipilihnya para narasumber tersebut bukan tanpa alasan. Mereka semua adalah kaum hawa yang memiliki peranan penting di kampus yang berlogo Ulul Albab ini.

Selain itu, para narasumber ini dari dulu sampai sekarang terus aktif sebagai penggerak terkait gender. "Ibu-ibu ini semuanya memiliki kepedulian yang amat sangat tinggi terkait persoalan tentang gender," ucapnya.

Selain itu, ternyata semua narasumber tersebut pernah menjadi sekretaris dan ketua di unit PSGA UIN Maliki Malang.

Diskusi berlangsung dengan gayeng dan lancar. Setiap narasumber menyampaikan berbagai aspirasi dan gagasannya dengan perspektif mereka sendiri-sendiri.

Baca Juga : Pengamat: Tak Hanya Pandemi, Masyarakat Juga Hadapi Fenomena Infodemi

Dan semua apa yang diutarakan narasumber tidaklah lepas daripada emansipasi perempuan yang dikaitkan dengan peranan perempuan untuk menghadapi Covid-19.

Di akhir diskusi, Prof. Haris menyimpulkan bahwa ketika kita berbicara emansipasi perempuan, bukan berarti kita hanya mengadopsi model luarnya saja, misal memakai sanggul, baju kebaya, dan lain-lain yang mirip dengan Kartini.

Namun lebih dari itu, rektor asal Lamongan itu menyatakan, sebenarnya yang perlu diutamakan adalah subtansi dari apa yang dipesankan oleh R.A Kartini. Yakni, tentang upaya melambangkan perempuan sebagai manusia yang sewajarnya.

"Memanusiakan manusia. Inilah pesan humanismenya," tegasnya..

Ia juga menjelaskan bahwa sebenarnya sudah ada contoh perempuan hebat di Zaman Rasulullah SAW. Yakni sosok Khadijah dan Aisyah yang menurutnya bisa menjadi panutan bagi kita semua.

"Dan Bunda-bunda (narasumber) ini adalah representasi dari UIN Maliki Malang yang akan terus merjuangkan emansipasi dengan perspektif Islam," pungkasnya.