Salah satu upaya merespon infodemi oleh WHO (sumber : World Health Organization)
Salah satu upaya merespon infodemi oleh WHO (sumber : World Health Organization)

MALANGTIMES - Selain melawan pandemi Covid-19, masyarakat juga dihadapkan pada fenomena infodemi. Infodemi adalah situasi persebaran informasi yang terus menerus.

Menurut Pengamat Komunikasi Bencana Universitas Brawijaya (UB) Malang, Tamitiadini menyebut infodemi menyulitkan masyarakat mengambil keputusan.

Baca Juga : Stok Darah PMI Jatim Menipis Efek Covid-19, Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Tetap Donor

"Banyaknya informasi yang tersebar ini menyulitkan pengambilan keputusan, karena adanya pembauran informasi yang benar dan yang tidak benar," jelasnya.

Lebih lanjut Dian memaparkan, pandemi global Covid-19 berakibat pada peningkatan aktivitas secara daring dan membuat penggunaan media sosial juga ikut meningkat tajam.

"Masyarakat tidak hanya menerima informasi, namun juga aktif menyebar informasi, baik yang terbukti secara ilmiah maupun tidak. Inilah yang mengakibatkan sulitnya seseorang dalam mengambil keputusan," kata dia.

Dosen progam studi Ilmu Komunikasi ini mengungkapkan bahwa infodemi menyebar lebih cepat bahkan dari persebaran Covid-19. Terlebih lagi, terkadang infodemi juga melibatkan kepentingan-kepentingan tertentu dari pembuat berita atau informasi.

Nah, adanya ketidak-seimbangan informasi yang dibutuhkan dan yang disajikan, menurut Dian, mendorong infodemi untuk tumbuh subur dalam kasus persebaran Covid-19 di Indonesia.

Ia menyatakan, infodemi juga berakibat pada kesehatan. Contohnya, soal pesan bahwa bawang putih yang dapat mengobati Covid-19. Pendekatan pesan yang sifatnya anti-sains seperti ini sayangnya tidak hanya diproduksi oleh masyarakat awam, tetapi juga pemerintah.

"Pernyataan dan respons yang diberikan oleh pemerintah pada awal konfirmasi kasus Covid-19 juga cenderung mengabaikan pendekatan science communication," ungkap Dian.

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi masyarakat untuk mengumpulkan pengetahuan tentang Covid-19 secara mandiri. 

"Tanpa kemampuan yang mumpuni untuk memahami pesan, masyarakat mengonsumsi informasi berdasarkan kesepakatan social mereka," ucapnya.

Masyarakat, kata Dian, memaknai aspek risiko dengan cara yang berbeda dan menciptakan standar pengetahuan berdasarkan informasi dan pengalaman yang mereka peroleh. Dalam konteks inilah infodemi menyebar lebih cepat dari pandemi itu sendiri.

Nah, berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah infodemi menurut Dian.

Baca Juga : Pusat Instruksikan Pakai Masker Cegah Covid-19, Kota Malang Minta Masyarakat Bisa Sediakan Sendiri

1. Penguatan aspek kepercayaan terhadap pemerintah menjadi penting. Kepercayaan publik kepada pemerintah menjadi penting untuk menangani Covid-19, dengan informasi yang terbuka dan aktual dari lembaga yang kredibel.

2. Konsisten dalam penyampaian informasi, baik verbal maupun non verbal. Gesture yang konsisten menjadi penting untuk mencegah keraguan masyarakat.

3. Koordinasi antarpeneliti, akademisi, komunitas, industri, hingga figur publik yang juga penting untuk penyampaian informasi yang bertanggung jawab.

Sedangkan untuk warga masyarakat, dibutuhkan kendali dalam bijak bermedia sosial.

"Dengan mengkonsumsi informasi secara sadar, diharapkan masyarakat tidak mudah menyebar informasi sebelum memahami dengan benar apa yang disampaikan. Tidak perlu menjadi yang pertama menerima dan menyebar informasi," ujarnya.

Infodemi tidak hanya muncul saat wabah Covid-19, namun akan terus ada di kasus krisis dan kebencanaan lain sebagai konsekuensi majunya teknologi komunikasi.

"Jadi dibutuhkan kebijaksanaan dan kemampuan memanfaatkan gawai dan informasi yang dimiliki," pungkasnya.