Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang Erik Setyo Santoso ST MT (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang Erik Setyo Santoso ST MT (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Serangan virus Covid-19 tak pelak memberi dampak luar biasa bagi berbagai sektor. Tanpa kecuali bagi para tenaga kerja dan buruh. Pasalnya, sejak pandemi covid-19, tak sedikit perusahaan yang memilih merumahkan karyawannya.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, Erik Setyo Santoso menjelaskan, sejak pandemi covid-19 ada banyak perusahaan yang melapor telah merumahkan karyawannya. Bahkan ada beberapa pula perusahaan yang terpaksa ditutup.

Baca Juga : Hari Ini, Pemkot Malang Luncurkan Bansos Tahap Awal bagi Warga Terdampak Covid-19

"Sejak awal memang sudah banyak perusahaan yang melapor itu pada kami," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/4/2020).

Pada awalnya, perusahaan memilih untuk mempekerjakan karyawannya di rumah atau mematuhi aturan Work From Home (WFH). Saat itu, karyawan tetap digaji penuh sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Namun pada bulan ke dua, para karyawan hanya digaji separo.

Hal itu tak lepas dari kondisi covid-19 yang memang sangat menguji ketahanan para pengusaha. Dia berharap, tak ada pemutusan hubungan kerja atau PHK dengan skala besar sebagai dampak covid-19 ini. Pasalnya, regulasi berkaitan dengan kondisi pekerja dan buruh dalam situasi seperti sekarang belum dimiliki.

"Untuk menjami tak ada PHK memang kami kesulitan. Karena regulasi yang ada adalah untuk kondisi normal. Sementara saat ini kan kondisinya adalah bencana non alam," imbuhnya.

Itu sebabnya, lanjut Erik, saat ini pihaknya sedang melakukan proses pengajuan program jaring sosial khusus bagi para pekerja yang terdampak covid-19. Pendataan terhadap para pekerja akan terus dilakukan dan dimatangkan untuk kemudian diajukan dalam program Jaring Sosial Pemerintah Kota Malang selama pandemi covid-19.

"Jadi agar ada jaring pengaman sosial untuk kasus ini, dan kami usulkan itu," imbuh pria yang gemar berolahraga itu.

Namun sampai saat ini, jumlah pekerja yang terdampak covid-19 masih belum diketahui dengan pasti. Karena laporan yang masuk dari perusahaan terus bertambah. Dia memprediksi junlah karyawan yang dirumahkan akan terus bertambah hingga akhir bulan ini.

"Kami masih terus melakukan pendataan. Belum finalkan angka karena masih berproses dan sepertinya akan banyak. Ketahanan ekonomi pelaku usaha memang ditantang dalam kondisi ini," jelasnya.

Bukan hanya program jaring sosial saja, Disnaker-PMPTSP juga konsentrasi memberikan sosialisasi dan edukasi kepada para pekerja. Terutama untuk menerima bantuan dari program Kartu Prakerja yang diluncurkan pemerintah pusat.

Baca Juga : Pemprov Jatim Buka Posko Pendampingan Pendaftaran Program Kartu Prakerja di 56 Lokasi

Dalam kondisi yang sangat terbatas seperti sekarang, menurutnya informasi dan edukasi banyak diberikan kepada para pencari kerja melalui website resmi dan media sosial Disnaker-PMPRSP Kota Malang. Setiap informasi yang ada disampaikan secara berkala dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Untuk kartu prakerja sendiri, Erik menjelaskan jika informasi berkaitan dengan penjaringan selalu dipublikasikan melalui media sosial yang ada. Pendampingan secara online pun dimaksimalkan melalui media sosial. Lantaran kondisi pandemi covid-19, layanan tatap muka di kantor juga sudah mulai berkurang.

Mantan Kepala Bappeda Kota Malang itu juga menyampaikan, jika pendaftaran kartu prakerja dilakukan secara online. Selain itu, Disnaker-PMPTSP dalam hal ini menjadi fasilitator yang diwajibkan memberikan bantuan kepada para pencari kerja yang kesulitan memanfaatkan layanan online.

"Kami punya help desk, tapi dalam kondisi seperti ini kami lebih memanfaatkan media sosial, dan masyarakat bisa mengakses seluruh informasi yang kami berikan di sana," terangnya.

Dia pun berharap agar para pelaku usaha melakukan modifikasi atas program yang ada dan disesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang. Sehingga, perusahaan bisa berjalan dan dapat tetap menggaji karyawannya.

"Memang tak mudah, tapi kami juga berharap agar ada upaya modifikasi atas program yang dimiliki," pungkas Erik.