Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Nama sahabat Thulaihah bin Khuwailid al Asadi ra memang tidak sepopuler sahabat nabi lainnya. Meski begitu, kiprahnya dalam membela Islam sangat luar biasa.

 Salah satu kisahnya adalah ketika ia berhasil memorak-porandakan 70 ribu pasukan Persia hanya sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Baca Juga : Teori Baru Bermunculan di Tengah Pandemi Corona: Media Tebar Propaganda, Ciptakan Panik, Ending-nya Krisis Ekonomi

Pendakwah asal Makasar, Ustaz Khalid Basalamah, dalam dakwahnya yang diunggah channel Goutube Ibnu Raswin menceritakan kegagahan  sosok Thulaihah bin Khuwailid al Asadi ra. Keberaniannya yang luar biasa itu pun pada akhirnya menjadi teladan bagi umat muslim.

Sebelum berjuang dengan umat muslim, Thulaihah dikenal sebagai nabi palsu. Soalnya, Thulaihah pernah mengaku sebagai nabi dan membuat sebuah permusuhan dengan umat muslim. Hingga pada akhirnya, Thulaihah bertaubat dan bergabung kembali dengan umat muslim.

Di masa hidupnya yang kembali memeluk Islam dan di bawah pimpinan Khalifah Umar Bin Khattab, Thulaihah beberapa kali mengikuti perang. Dia diutus untuk menyusun strategi perang setiap menghadapi musuh yang datang.

Aksi paling luar biasa yang dilakukan Thulaihah adalah saat berperang melawan Persia dalam Perang Qadisiyah. Perang ini merupakan salah satu perang terbesar yang menelan banyak korban dalam sejarah kaum muslimin menyerang negara adidaya Persia itu.

Dikisahkan, dalam perang tersebut, Thulaihah diutus menjadi mata-mata untuk mengetahui kekuatan lawan. Saat itu, Panglima Perang Qadisiyah adalah Sa'ad Bin Abi Waqqash yang membentuk regu kecil sebagai mata-mata.

"Ada 10 sahabat yang saat itu diutus untuk menyusup dan mencari tahu kekuatan musuh. Dua yang paling menonjol yaitu Amr Bin Karim Bin Zubaidi dan Thulaihah bin Khuwailid al Asadi ra," kata Ustaz Khalid Basalamah.

Di awal pengintaian, para sahabat bertemu dengan 70 ribu pasukan yang dilengkapi dengan gajah putih. Saat itu, delapan sahabat merasa itu merupakan jumlah pasukan yang dikirimkan musuh. Namun Thulaihah dan Amr merasa itu bukan jumlah pasukan musuh sebenarnya.

Hingga pada akhirnya Amr dan Thulaihah memilih melanjutkan perjalanan dan delapan sahabat lainnya kembali ke tempat pengintaian awal. Saat melakukan perjalanan kembali, dua hari berikutnya Amr dan Thulaihah menemukan pasukan yang lebih banyak lagi.

Jumlah pasukan itu mencapai 100 ribu orang. Kemudian keduanya kembali melanjutkan perjalanan dan dua hari berikutnya bertemu dengan 70 ribu pasukan lainnya. Di situ, keduanya yang juga memiliki pengalaman banyak dalam berperang akhirnya memutuskan bahwa itu adalah pasukan terakhir musuh.

Baca Juga : Viral Foto Dokter Hadio di Medsos, Ini Fakta Sebenarnya

"Keduanya ini adalah kepala suku di Yaman yang memiliki keberanian luar biasa. Keduanya disebut-sebut memiliki kekuatan setara dengan seribu tentara," tambahnya.

Saat bertemu dengan pasukan terakhir, Amr berkata pada Thulaihah untuk kembali memberikan informasi kepada pasukan muslim terkait jumlah pasukan musuh. Namun hal itu tak langsumg diterima Thulaihah. Sebab,  Thulaihah saat itu menginginkan langsung menyerang 70 ribu pasukan musuh tersebut.

Amr pun sempat mengingatkan Thulaihah. Namun Thulaihah kembali menegaskan jika ia tak takit mati karena mati adalah saat ajal telah menjemput. Thulaihah pun akhirnya berhasil memorak-porandakan pasukan musuh yang saat itu sedang berkemah.

Hingga pada akhirnya dia berhasil merusak tenda panglima tertinggi musuh dan membawa kuda terbaik Persia. Aksi luar biasa itu dilakukan Thulaihah sendirian di malam hari. Dengan melantunkan takbir, Thulaihah memorak-porandakan kemah pasukan Persia. Hingga pasukan Persia mengira pasukan muslim telah datang menyerang.

Namun pada pagi harinya, Thulaihah dan Amr ketahuan oleh pasukan Persia dan dikejar oleh prajurit terbaik Persia. Thuliahah berhasil membunuh dua prajurit pertama yang diutus Persia dengan mudah. Sementara satu prajurit lainnya tak dibunuh dan dibawa ke markas umat muslim sebagai tawanan.

Tak main-main, tawanan yang dibahwa Thulaihah tersebut ternyata bukanlah pasukan biasa. Melainkan pasukan penting yang mengetahui strategi perang Persia. Informasi yang didapatkan dari tawanan yang selanjutnya memeluk Islam itu pun dimanfaatkan pasukan muslim. Kemenangan pun didapat pasukan muslimin dalam peperangan luar biasa tersebut.