Ilustrasi lockdown (Foto:  DI's Way)
Ilustrasi lockdown (Foto: DI's Way)

MALANGTIMES - Mengatasi pandemi covid-19, beberapa wilayah di Indonesia memberlakukan karantina wilayah.  Hal itu dipercaya bisa mengurangi penularan virus covid-19. 

Namun, strategi itu ternyata memiliki risiko.  Walau angka kematian memang bisa berkurang dengan melakukan karantina wilayah.  Tapi, covid-19 gelombang kedua, ketiga, bahkan seterusnya justru akan muncul lagi.  

Baca Juga : Aksi Tak Terpuji Bule di Bali, Pandemi Covid-19 Malah Party

Hal tersebut dijelaskan di salah satu bagian hasil permodelan terkait wabah Covid-19 yang  dibuat oleh pakar dari berbagai univeristas dan tim SimcovID. Seperti ITB, Unpad, UGM, Essex and Khalifa University, University of Southern Denmark, Oxford University, ITS, Universitas Brawijaya, dan Universitas Nusa Cendana. 

Dalam penelitian tersebut terbagi prediksi berdasarkan tiga jenis skenario intervensi yakni:  

1. Tanpa intervensi: Penyebaran virus dibiarkan tanpa penanganan. 
2. Mitigasi (mulai 15 Maret 2020): Memperlambat penyebaran. 50% Populasi diam di dalam tempatnya, 50% populasi bisa bepergian. 
3. Supresi (jika mulai 12 April 2020): Menekan laju penyebaran. Karantina wilayah. Hanya mengizinkan 10% populasi yang bisa bepergian. 

Dalam skenario tanpa intervensi ini risiko jumlah kematian akan sangat tinggi yakni mencapai 2,6 juta orang meninggal dunia.  Indonesia nantinya akan membutuhkan enam juta ruang perawatan intensif (ICU).  Durasi apedemi akan berlangsung lebih singkat daripada jenis intervensi lainnya.  

Jika hal itu dibiarkan saja pandemi covid-19 ini akan berlangsung 4-5 bulan saja.  

Baca Juga : Aksi Tak Terpuji Bule di Bali, Pandemi Covid-19 Malah Party

Dijelaskan jika semakin banyak orang terkena covid-19, bakal semakin banyak korban jiwa, namun semakin banyak pula orang yang kebal dengannya.

Maka akan terbentuklah kekebalan kelompok dan gelombang kedua tidak akan datang ke masyarakat yang kebal ini.