Orang kejang yang ditangani  Satgas Covid-19 UIN Malang. (Foto: istimewa)
Orang kejang yang ditangani Satgas Covid-19 UIN Malang. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang rutin mengadakan talkshow soal covid-19 dengan peserta terbatas dan tetap menjaga jarak di luar ruangan sambil berjemur.

Belum lama ini, di tengah-tengah talkshow, tiba-tiba ada orang tidak sadarkan diri hingga kejang-kejang. Tim Satgas Covid-19 UIN Malang, termasuk mahasiswa Kedokteran yang pada saat itu hadir, langsung sigap menanganinya.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Kejadian itu pun membuat panik orang-orang yang hadir dalam talkshow tersebut. Namun ternyata, adegan tersebut hanyalah "drama".

Ketua Satgas Covid-19, dr Christyaji Indradmojo SpEM menyatakan kepada yang hadir bahwa itu adalah salah satu simulasi untuk kegawat daruratan. "Ini dari anak-anak kita sendiri, dari mahasiswa Kedokteran. Jadi, tadi malam Bapak Rektor meminta kami untuk simulasi gawat darurat," ungkapnya diikuti tepuk tangan dan kelegaan peserta.

Tetapi, rektor tidak menyangka kalau model simulasi dilakukan dengan "drama" seperti itu. Christyaji mengaku ia hanya berkoordinasi dengan para kameramen.

"Karena kami ingin memberi gambaran yang utuh bagaimana kesiapan masyarakat kita dan kesiapan kami saat ada kasus seperti ini," ujar dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) tersebut.

"Mohon maaf kalau ini membuat panik karena saya pikir cara terbaik untuk belajar adalah dari kasus. Sehingga tadi memang kami sengaja tidak memberi tahu, tapi kami persiapkan," sambungnya.

 Christyaji menjelaskan bahwa sebenarnya yang bisa dilakukan untuk menangani kondisi seperti itu cukup sederhana. "Segera pinggirkan korban ke tempat yang aman. Kemudian kalau mampu, melakukan cek nadi dan napas silakan lakukan. Kalaupun tidak, tidak ada masalah. Langsung posisikan miring," paparnya.

Dia menegaskan, jangan pernah membiarkan pasien dalam kondisi terlentang karena risiko lidah jatuh ke belakang. "Sehingga itu kami memiringkanm harapannya kalau muntah, dia langsung keluar dan tidak mengontaminasi area yang luas," jelasnya.

Selain itu, simulasi diusahakan di area yang terbuka (cukup oksigen atau udara segar) sehingga bisa memperbaiki pemberian oksigen kepada pasien.

Dokter spesialis emergency medicine tersebut menegaskan, itu adalah tindakan awal yang sangat bermanfaat untuk pasien.

Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi

Lalu, jangan lupa juga memperhatikan teknik menggotong korban. Yaitu tetap jaga leher. Jangan sampai kepala terayun karena pasien tengadah akan berisiko cedera pada leher.

"Sehingga teknik mengangkat yang kami peragakan adalah tetap memegang kepala supaya leher tidak bergoyang. Karena sering kali masalah justru muncul karena kesalahan kita dalam bertindak," katanya. Lalu, penting untuk tidak panik karena kepanikan justru membahayakan pasien. 

Christyaji pun memberi apresiasi yang luar biasa untuk mahasiswa Kedokteran yang mau bekerja sama dalam simulasi "drama" tersebut.

Sementara itu, Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg mengaku dirinya kaget dan tidak tahu bahwa "drama" tersebut sesungguhnya adalah simulasi.

"Sungguh saya tidak tahu kalau dokter punya kreasi yang luar biasa. Malam sebelumnya saya WA (WhatsApp) beliau supaya hari ini ada pelatihan dan saya normal saja begitu saya ngomong langsung ada yang jatuh. Ternyata yang mendesain adalah Pak Dokter. Jadi, untuk masyarakat mohon maaf. Ini memang drama untuk bagaimana menangani kasus seperti ini," pungkasnya.