Banyak penolakan jenazah pasien Corona dan diskriminasi ke petugas medis, membuat banyak pihak kecewa dan marah (Ist)
Banyak penolakan jenazah pasien Corona dan diskriminasi ke petugas medis, membuat banyak pihak kecewa dan marah (Ist)

MALANGTIMES - Stigma dan diskriminasi bagi pasien Corona, baik yang dirawat maupun meninggal dunia, hingga petugas medis yang terus terjadi di berbagai daerah. 

Hal tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah serta elemen lainnya dalam memberikan edukasi terkait covid-19 di masyarakat.

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

Pasalnya, stigma dan diskriminasi itu, akan secara langsung membuat rantai penularan semakin meluas. 

Pasien positif tak akan lagi mau memeriksakan dirinya dan tetap berbaur dengan membawa virus di tubuhnya, dikarenakan rasa takut dan khawatir.

Hal ini bukan isapan jempol saja. Sebut saja contoh yang menghebohkan di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). 

Dimana jenazah pasien positif corona tiga kali ditolak warga ketika hendak dimakamkan. 

Di Bandar Lampung, kasus serupa juga terjadi atas pasien positif Corona. 

Jenazah pasien dengan inisial 02 ini ditolak dua kali oleh warga saat dimakamkan.

Di Sulawesi Selatan hal serupa terjadi. Ambulance berisi jenazah pasien Corona dihadang warga dan akhirnya harus kembali ke rumah sakit. 

Banyak lagi kasus serupa, dimana warga yang merasa ketakutan akhirnya menolak jenazah pasien Corona dimakamkan di lokasi pemakaman mereka.

Kondisi itu tentunya akan semakin membahayakan penanganan dan pencegahan virus covid-19. 

Stigma dan diskriminasi akan jadi blunder menakutkan, yakni semakin tertutupnya warga yang telah terinfeksi tanpa perawatan medis.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun secara tegas meminta kasus penolakan warga Banyumas untuk dimakamkan, adalah yang terakhir.

"Soal penolakan pemakaman pasien positif corona saya harap itu yang terakhir karena kasihan keluarganya. Bisa melukai perasaan keluarga yang dirundung musibah," ucap Ganjar saat itu.

Hal yang sama pun terjadi pada kepala daerah lain di berbagai daerah. 

Saat ada penolakan warga yang ketakutan jenazah yang dikubur bisa menyebarkan virus covid-19, terjadi sang kepala daerah mengimbau agar warga tak melakukan hal itu, selama jenazah pasien Corona telah melalui protokol kesehatan. 

Tak hanya berbagai penolakan pemakaman jenazah pasien Corona, stigma dan diskriminasi ke para petugas medis di berbagai rumah sakit rujukan pasien Corona pun, ramai menghiasi media.

Hal yang kembali akan membuat blunder seluruh masyarakat Indonesia dalam melawan covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir.

Di media sosial, warganet pun terlihat geleng kepala, geram, marah dengan peristiwa itu. 

Akun @dicky_coddy menyatakan, "Inilah contoh kecil ketidaksiapan pemerintah menghadapi musibah ini, membuat masyarakat parno tapi menanganinya seperti jalan di tempat (efek geram terhadap pemerintah)," Jumat (3/4/2020).

Hal senada pun dilontarkan akun @matanajwa, "...Stigma dan diskriminaai semacam ini lah yang justru membuat mata rantai penularan virus semakin sukar diputus. Di sisi lain, ketakutan warga dinilai sebagai imbas dari informasi yang belum memadai dari pemerintah tentang covid-19 ke seluruh lapisan masyarakat," tulisnya.

Warganet lainnya mengungkapkan, bahwa ketakutan yang berlebihan dan kurangnya edukasi membuat manusia tak bisa berpikir secara logis atau tak waras, tulis @diana_hartantika23.

Banyak lagi warganet yang memberikan komentar terkait stigma dan diskriminasi bagi pasien Corona yang meninggal dan para petugas medis. Dimana, menurut @adtyaip_ "prasangka manusia lebih mematikan daripada wabah itu sendiri," tulisnya.

Berbagai kasus itu pula yang membuat organisasi masyarakat keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama (NU) pun akhirnya angkat bicara. 

Melalui Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia agar tidak menolak jenazah pasien terkena wabah Corona COVID-19 untuk dikebumikan di  daerah yang telah ditentukan.

"Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat jangan menolak jenazah saudara kita yang meninggal akibat COVID-19 ini, dengan syarat sudah barang tentu pihak RS yang menangani jenazah sudah betul betul keamanan atau safety sesuai dengan aturan medis," ucapnya melalui akun Instagram @saidaqilsiroj53, Jumat (3/4/2020).

Lanjutnya, dalam syatriat Islam telah mewajibkan kepada umat Islam harus menghormati jenazah sesama umat Islam. 

Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat

Maka siapa pun jenazah beragama Islam harus ditangani dengan penuh penghargaan, dimandikan dengan bersih dan dikafani. 

Termasuk dikubur dengan penuh penghormatan seperti jenazah lainnya pula.

Senada, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas pun menyampaikan hal sama. 

Dirinya yang melihat berbagai penolakan jenazah pasien Corona sangat menyesalkannya.

Anwar menyampaikan, ketakutan di masyarakat jangan sampai berlebihan dan tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan.

"Pemerintah telah mengeluarkan protokol terkait itu. Sehingga jenazah yang telah ditangani petugas medis sudah aman dan tak akan menularkan virus ke masyarakat setempat. Tapi mungkin, perlu ada penjelasan yang sejelas-jelasnya dari para ahli dan pemerintah," ucapnya.

Dirinya melanjutkan, Islam mengajarkan orang yang masih hidup harus dan wajib hukumnya menghormati jenazah.

"Salah satu cara menghormatinya yaitu dengan menguburkannya," tandasnya.