Petani Desa Jatikerto saat menatap persawahannya yang rusak oleh tikus dan membuat gagal panen (dd Nana)
Petani Desa Jatikerto saat menatap persawahannya yang rusak oleh tikus dan membuat gagal panen (dd Nana)

MALANGTIMES - Di tengah wabah virus Covid-19, hewan pengerat yang tergolong dalam ordo rodentia, yaitu tikus, menjadi ancaman lainnya di tengah masyarakat. Khususnya para petani di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan.

Pasalnya, pasukan tikus itu telah menjarah persawahan petani di wilayah tersebut. Serta membuat hampir sekitar 100 hektar (Ha) sawah mengalami gagal panen.

Baca Juga : Musibah Angin Kencang Rusak Ratusan Rumah di Dua Kecamatan

Ironisnya tak hanya satu panen yang harus diikhlaskan para petani Jatikerto, tapi serangan tikus telah membuat tiga kali panen gagal total. Yakni dari tahun 2019 hingga tahun 2020 bertepatan dengan mewabahnya juga virus Covid-19.

Hal ini dibenarkan oleh Misenan, dari kelompok tani Desa Jatikerto, yang menyampaikan, sudah tiga kali panen gagal dikarenakan hama tikus yang begitu massif menyerang persawahan.

"Sudah tiga kali panen gagal karena tikus. Kita rugi besar. Walau berkali-kali dicoba untuk membunuh tikus, tapi terus sawah kami diserangnya," ucapnya, Kamis (2/4/2020) ke wartawan.

Kerugian finansial yang diderita pun cukup besar dengan wabah tikus di Desa Jatikerto itu. Dengan asumsi 1 ha bisa menghasilkan paling sedikit 7 ton, maka bila yang rusak karena serangan tikus mencapai 100 ha. Ada 700 ton yang hilang dan tak bisa dinikmati oleh petani dalam satu kali panen.

Bila dinominalkan, lanjut Misenan, biaya untuk 1 ha bisa mencapai Rp 18 juta tak termasuk dana lain-lainnya. Sehingga dengan kerusakan mencapai 100 ha di Jatikerto, maka kerugian petani mencapai Rp 1,8 miliar dalam satu kali panen.

Tak hanya petani padi yang mengalami serangan tikus. Tapi perkebunan lainnya, baik jagung, cabai, dan lainnya tak lepas dari serangan tikus.
Hal ini disampaikan oleh Saripin, petani padi yang terkena gagal panen dan menanam cabai tapi juga masih saja dirusak hama tikus. 

"Setelah padi yang gagal panen dan saya tak bisa ambil apapun hasilnya. Cabai juga rusak oleh tikus. Rugi besar, mas," keluhnya saat ditemui di areal persawahan.

Baca Juga : Diterpa Angin Kencang, Masjid dan Ratusan Rumah Warga di Kabupaten Malang Roboh

Disinggung terkait bantuan atau penanganan hama tikus dari tingkat kabupaten melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Saripin menyatakan tak ada.

"Tak ada hingga tiga kali panen padi gagal oleh tikus. Padahal kita butuh bantuan dengan wabah ini," ujarnya.

Bantuan yang diharapkan oleh para petani adalah peralatan untuk membasmi tikus yang hanya dua hari saja bisa memporak-porandakan padi sawah mereka secara luas. Yakni, kompor, maupun lainnya yang bisa membuat pasukan tikus tak merajalela dan membuat panen gagal.

"Jadi kita butuh bantuan sebenanrya dari kabupaten terkait ini. Karena belum ada sama sekali yang turun ke lapangan terkai ini," tandas Saripin