Keriuhan acara Mlg Ska bertajuk Waktunya Bersenang-Senang pada hari Jumat (6/3/2020) di Brawijaya Edu Park. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Keriuhan acara Mlg Ska bertajuk Waktunya Bersenang-Senang pada hari Jumat (6/3/2020) di Brawijaya Edu Park. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Mlg Ska kembali menghadirkan gigs bertajuk Waktunya Bersenang-Senang, Jumat (6/3/2020) malam. pergelaran musik yang belangsung di Brawijaya Edupark Kota Malang ini menghadirkan suasana berbeda dengan mengundang para musisi lintas genre.

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Ratusan penonton dihibur dengan lagu-lagu orisinal dari band lokal dengan genre punk, pop punk, serta hardcore. Band-band yang hadir seperti Begundal Lowokwaru, Brigade 07, Youngster City Rockers, Cable Car Romance, The Laksono, Bread Essence, SAS Skapunk, TBM Finger Skacore, Anniverscary dan Last Destination. Denny Frust, musisi Ska asal Surabaya yang berkarir di Jakarta juga turut naik panggung memeriahkan suasana. 

Suksesnya gigs tersebut tak lepas dari nama Mlg Ska. Selama dua dekade lebih, Mlg Ska konsisten menghadirkan gigs atau pergelaran-pergelaran musik di Malang Raya. Ada sejarah panjang musik di Malang dalam perjalanan Mlg Ska.

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

Mlg Ska berawal dari sekumpulan pemuda pecinta musim Ska di Kota Malang yang sering nongkrong di area depan Sarinah Mall, lalu bergeser ke Tugu Chairil Anwar medio tahun 1997-1999.
Mereka punya semangat berkumpul untuk memperkenalkan musik ska di Malang. Terlebih pada saat itu mulai banyak muncul band-band Ska di Malang seperti Skatoopid, Spiky In Venus, M.B.D.P.H. , Dorayaki, Every Morning, Monkee-X, Moonshine Rebel, Mad Brother, Javanese Bugs dan lain-lain.
Tercetusnya nama Mlg Ska sendiri merupakan kesepakatan bersama, secara resmi mereka memakai nama Mlg Ska untuk komunitas tersebut di tahun 1999. 
Mlg Ska pun tak bisa lepas dari tiga orang pemrakarsa terbentuknya komunitas ini. Mereka adalah Agek Gebyar, Indro Binatang dan Deny Mahendra. Ketiganya hingga saat ini masih tetap konsisten melakukan pergerakan musik ska di Malang.
Agek sebagai salah satu penggagas Mlg Ska menuturkan bahwa sebelum komunitas ini terbentuk, band-band itu menunjukkan eksistensinya dengan perform di acara festival-festival.
"Jadi di tahun 1997-1999 kita sudah ada, tapi sering main-main di acara yang dibuat orang lain dan kebanyakan festival band. Akhirnya memutuskan membuat acara sendiri di tahun 1999 bertajuk Ska To The Max," tuturnya pada pewarta, Jumat (6/3/2020).
Di tahun-tahun awal 2000 juga banyak bermunculan band-band Ska di Malang, seperti Youngster City Rockers, Green Bacterie, Pitskankin dan lain-lain. Band-band itu pun sampai saat ini terus konsisten di pergerakan musik Ska Malang.
Sempat vakum dalam membuat acara gigs ska di medio tahun 2005-2007, Mlg Ska kembali menggebrak panggung permusikan Malang di tahun 2009 dengan menyuguhkan gigs bertajuk Ska-Core, The Devil and More yang berlangsung di salah satu cafe di Landungsari.
"Waktu acara tersebut selain kita menampilkan band-band ska lawas Malang, kita juga mengundang teman-teman dari Solo, Surabaya dan Sidoarjo," beber Agek yang juga sebagai pemain bass di band punk Begundal Lowokwaru.
Gebrakan di tahun 2009 ini kembali menggerakkan pecinta-pecinta ska membuat acara. Misalnya, Contong Kampoeng Ska yang membuat acara bertajuk Danceska For Have Fun pertama sekitar di tahun 2010.
Menurut Agek, banyak band-band baru Ska Malang yang terbentuk di tengah-tengah medio 2009-2011. "Banyak band-band baru waktu itu, seperti Richcracker, Veskaria, Skarasa, Skarikatur, One Struggle, Skakster, Alaska, Skallen Modric, dan lain-lain,"ujar Agek.
"Pada tahun 2009-2011 banyak band-band Ska Malang bermunculan, sampai saya kaget pernah ada yang mendata di Facebook Ska Indonesia, band Ska Malang berjumlah hampir 100 band," tambahnya.
Agek menyebut, Mlg Ska berupaya terus menggelar gigs untuk menjadi alternatif pilihan bagi para pecinta musik ska. Terlebih di tengah terpaan pergeseran selera musik di kalangan anak muda, gigs seperti ini merupakan kebutuhan.
"Menurutku ini hobi dan juga kebutuhan teman-teman. Ini untuk teman-teman yang juga selera musiknya sama. Jika band hanya buat latihan aja, kan ya percuma," tegas Agek.
Dalam acara tersebut banyak sekali yang hadir, padahal dalam kondisi cuaca sedang hujan. "Dalam acara ini tiket terjual hampir 500 tiket, dan penonton sangat menikmati aksi-aksi dari band-band yang tampil, mulai berdansa, pogo, hingga moshing," beber Agek.
Agek berharapan, pergerakan musik di Malang khususnya pergerakan musik Ska agar terus konsisten. Termasuk dalam membuat gigs untuk memfasilitasi kebutuhan para pendengan musik Ska.