Kaliku, Kelompok Aktivis Lingkungan Anti-Proposal

Feb 23, 2020 16:44
Anggota Kaliku (Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Budaya) sedang melakukan kegiatan rutinan, yakni membersihkan Sungai Anak Metro. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Anggota Kaliku (Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Budaya) sedang melakukan kegiatan rutinan, yakni membersihkan Sungai Anak Metro. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Kali atau sungai memiliki banyak sekali manfaat. Sejak zaman nenek moyang, sungai sudah digunakan untuk segala macam aktivitas dan juga disakralkan. Sangat miris ketika melihat sungai yang kotor tak dapat diperuntukkan sebagaimana mestinya. 

Di salah satu desa di Kabupaten Malang, terdapat kelompok masyarakat yang mengatasnamakan sebagai Kaliku. "Kaliku memiliki kepanjangan Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Budaya," ujar Ketua Kaliku  Sugeng Widodo.

Salahbsatu aktivitas Kaliku adalah membersihkan Sungai Anak Metro. "Sungai yang merupakan Sungai Anak Metro ini sudetan bikinan Belanda. Kalau sejarahnya, ini sungai untuk irigasi ke sawah. Jadi, pintu airnya ada di Kebon Agung, melintasi Genengan, terus Pakisaji, Karangpandan, sampai Glanggang," tambahnya. 

Sugeng menjelaskan bahwa Kaliku merupakan kelompok aktivis lingkungan yang berlokasi di Desa Pakisaji. Lokasinya di Jalan Pahlawan Bajuri RT 002/RW 01, Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Sugeng juga membeberkan bahwa Kaliku hanya ada di Desa Pakisaji. Belum ada di tempat lain. Di tempat lain terdapat kelompok aktivis lingkungan yang hampir sama, tetapi sifatnya berkolaborasi dengan Kaliku. "Kaliku hanya ada di sini. Kebetulan berkolaborasi dengan rekan-rekan komunitas pecinta sungai juga di Malang Raya. Ada di Wagir itu Dares 07. Juga Cakrawala Mandala Dwipantara di Sudimoro, Kota Malang," beber Sugeng. 

Kaliku sendiri awal terbentuknya dari kesadaran beberapa warga masyarakat.  Tetapi seiring berjalannya waktu, banyak masyarakat yang ikut serta dalam pembersihan sungai agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. 

"Jadi awalnya dari kesadaran masyarakat. Hanya beberapa orang. Ada saya, Pak Udin, Mas Samsul, Pak Jikin, Pak Jiono. Hanya sekitar 5 orang  di bulan Agustus 2019. Karena saat itu kondisi sungai cukup parah, kami membersihkan sungai biar bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Kemudian banyak rekan, terutama muda-mudi, yang ikut bergabung. Akhirnya rekan-rekan ngajak bikin komunitas. Kalau pikiran kami, agar tidak mudah diganggu oleh oknum atau kelompok. Akhirnya secara struktural diresmikan terbentuknya pada Oktober 2019. Ada SK resmi dari desa," ungkapnya. 

Terdapat cara menarik yang dilakukan Kaliku untuk menggugah kesadaran masyarakat yang sering membuang sampah di kali. Apa itu? "Waktu kami kerja, ada orang yang membuang sampah, kami juga nggak menegur, nggak melarang, atau apa pun. Ya kami biarkan. Nanti daripada jadi musuh. Kedua saya percepat perbaikan di sungai, orang biar sungkan dengan sendirinya. Kami menggugah kesadaran lah. Itulah program kami, yaitu sungkanisasi. Akhirnya sekarang tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan," beber Sugeng. 

Kaliku merupakan organisasi yang berbasis sosial dan tidak menerima bantuan jika ada syarat. Tetapi yang memberi bantuan ikhlas akan diterima. 

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Sugeng sebagai ketua juga menjelaskan bahwa dia melarang anggotanya untuk membuat proposal-proposal. "Kami  nggak mau memohon-mohon. Termasuk bikin proposal juga saya larang anggota saya. Kalau ada orang mau memberi, kami terima. Kalau ada orang mau bersedekah kembang atau apa pun, kami terima. Tapi kami nggak mau kalau dibantu dengan syarat apa pun. Kami di sini sosial, tanpa syarat. Jadi, kalau mereka mau membantu tanpa syarat, ikhlas, monggo. Kalau nggak ikhlas, mendingan nggak usah," tandas Sugeng.

Kaliku berkeinginan agar dapat berguna bagi bangsa dalam hal lingkungan, terutama kebersihan kali atau sungai. "Kami pingin berguna bagi semuanya, bagi bangsa ini. Ya ini wujud pengabdian kami.  Kami  nggak pingin seperti apa, kami ngalir aja. Pasti jadi kok nanti, jadi sesuatu. Entah jadi apa itu. Yang penting bukan soal politik. Kami nggak mau itu," tutup Sugeng.

Topik
MalangBerita MalangKelompok Aktivis LingkunganAnti Proposal

Berita Lainnya

Berita

Terbaru