Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono (Dok. MalangTIMES)
Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono (Dok. MalangTIMES)

MALANGTIMES - Persebaran agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik di Malang Raya tidak serta merta terjadi ketika bangsa Eropa datang. Saat itu, agama Kristen masih cenderung eksklusif dalam artian hanya tersebar di kalangan tertentu. Namun, ada perkembangannya makin terbuka sekitar tahun 1830-an. 

Seperti yang dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, masuknya Kristen di Malang Raya baru pada abad ke 18, tepatnya sekitar tahun 1767. Saat itu, Belanda mulai menyebarluaskan kekuasaannya ke wilayah Malang Raya. 

Awal mula, ajaran Kristen hanya dianut oleh prajurit dan pegawai Belanda saja. Hingga akhirnya dikenalkan ke masyarakat bumiputera sekitar abad ke 19 Masehi atau sekitar tahun 1800-an.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan, saat datang ke Malang untuk pertama kali, Belanda mendirikan pemukiman khusus atau yang biasa kita kenal sebagai benteng. Benteng pertama yang didirikan berada di sebelah utara aliran Sungai Brantas, atau yang kini kita kenal sebagai kawasan Claket atau RSSA Malang. 

Kemudian benteng ke dua didirikan di kawasan selatan alun-alun kotak atau Alun-Alun Merdeka Kota Malang. "Saat itu hanya prajurit atau pegawai saja yang memeluk Kristen, tepatnya Kristen Protestan," katanya pada MalangTIMES.

Pertumbuhan Kristen Protestan mulai meluas saat pemukiman orang Eropa tak lagi terbatas pada benteng, yaitu sekitar tahun 1800-an. Ajaran Kristen mulai diajarkan, bahkan kepada para pembantu rumah tangga keluarga Eropa. 

Diperkirakan pemukiman yang banyak terpengaruh ajaran Kristen pada mulanya adalah kawasan Talun, Tongan, dan Sawahan yang saat itu dikenal sebagai kawasan Loji Selatan. "Sejak 1830-an, Kristenisasi semakin terbuka," terang Dwi.

Bapak dua anak ini menjelaskan, Kristenisasi juga terjadi di wilayah utara. Khususnya wilayah Lawang, Kabupaten Malang yang merupakan daerah perkebunan awal di lereng Gunung Arjuno. Sampai saat ini, bahkan sebuah gereja tua di Lawang  masih berdiri megah.

Kristenisasi kemudian semakin berkembang pesat dengan kehadiran orang Eropa selain Belanda, seperti Inggris, Perancis dan Jerman. Saat itu mereka mengenalkan ajaran Kristen  Katolik dan mulai banyak dianut juga. 

 

Hingga pada perkembangan berikutnya, Kristen Katolik semakin kuat dan membuat Kristen Protestan meluaskan ajaran ke wilayah lain di Malang Raya. Terutama pada kawasan selatan dan timur, ajaran Kristen Protestan tumbuh subur hingga sekarang. 

 

Misalnya saja di kawasan Sitiarjo hingga Sendang Biru dan sederet kawasan pantai lain di pesisir Kabupaten Malang. Masyarakat mulai mengenal ajaran Kristen sekitar tahun 1900-an dan lestari hingga sekarang. "Kemudian juga muncul Sekte Jawi Wetan," tambah Dwi.

Pada 1900-an atau abad 20 Masehi, kondisi sosial ekonomi di Malang Raya terbilang stabil. Itu juga menjadi salah satu faktor tumbuh suburnya ajaran Kristen di berbagai daerah di Malang Raya.

Selain itu, pertumbuhan demografis pada 1900-an terbilang sangat positif. Terlebih, Malang bukan lagi sebagai daerah yang ditinggalkan, melainkan menjadi tujuan para pendatang dari berbagai daerah.

"Pada 1900-an demografi di Malang luar biasa, semakin banyak jumlah penduduk yang masuk," terangnya.

Dalam perkembangannya, Kristen Protestan dan Katolik tak hanya menyebarkan ajaran agama saja. Melainkan juga berpengaruh dalam berbagai bidang sosial budaya. Saat itu, banyak tumbuh yayasan di bawah naungan Protestan dan Katolik yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

"Mulai dari Cor Jesu, Frateran, Dempo hingga sekolah teologi lainnya. Untuk rumah sakit, kita kenal RKZ salah satunya," tambah dia.

Perkembangan ajaran Kristen pun terus tumbuh, namun sempat mengalami sedikit masalah saat Perang Dunia Dua. Namun kondisi kembali membaik pasca Indonesia merdeka. Saat itu, jumlah penganut Kristen menurut Dwi bertambah banyak.

"Setelah kemerdekaan, jumlah Kristiani semakin bertambah dan ada banyak gereja yang dibangun," jelas dia.

Perkembangan ajaran Kristen menurutnya juga dapat dipelajari dan ditelusuri melalui keberadaan beberapa makam kuno yang ada di Malang Raya. Salah satu yang terkenal adalah Makan Sukun di Kota Malang yang masih digunakan hingga saat ini.

Nah, untuk lebih jelasnya, simak wawancara eksklusif MalangTIMES dengan Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono selanjutnya. Selamat menyelam dengan ilmu baru.