MALANGTIMES - Tim Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah usai melakukan penggalian tahap ke dua penemuan batu bata yang diduga peninggalan kerajaan di Dusun Pendem, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo pada 18-20 Desember 2019.
Arkeolog BPCB Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan, jika bisa disimpulkan dalam ekskavasi yang berlangsung selama du tahapan itu diperkirakan sebutan nama desa ini, di mana telah ditemukan situs bangunan terpendam tersebut.
Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19
“Dalam kegiatan penggalian atau eskavasi situs pendem tengah membuahkan hasil kesimpulan sementara dari bentuk struktur bangunan,” katanya.
Karena temuan adalah stuktur bata dan batu-batuan yang diperkirakan tahun 1800an. Ia menambahkan saat dilakukan ekskavasi struktur batu bata berhasil dilakukan seluas 300 meter persegi, yang posisinya di sebelah utara Punden Pendem. Tim berhasil membuka enam buah kotak di titik yang berbeda-beda.
“Di setiap kotak yang digali berukuran 4×4 meter dengan kedalamam 0,5-1,5 meter,” imbuh Wicak. Karena temuan adalah stuktur bata dan batu-batuan yang diperkirakan tahun 1800an.
Kemudian juga satu sudut dari sebuah bangunan. Bagian tersebut, diduga merupakan sudut pintu masuk sisi barat dari bangunan bertipe Batur atau Mandapa. “Baturaja, di sini, diprediksi secara keseluruhan berbentuk persegi empat,” tambahnya.
Bukan hanya itu saja, dalam ekskavasi juga ditemukan koin yang diketahui peninggalan masa penjajahan Belanda. Koin ini terbuat dari bahan tembaga yang didapat saat penggalian di kedalaman 64 centimter dari permukaan tanah.
Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat
“Diperkirakan koin itu peninggalan zaman Belanda, yang terbuat dari bahan tembaga dan bertuliskan ‘Nderland Indie 1825′ dan Java 1810’,” ujar Wicak.
Dengan hasil temuan-temuan tersebut, yang bisa disimpulkan, bahwa penemuan Situs Pendem ini, diperkirakan juga yang menjadi asal usul nama Desa Pendem. Melihat di masa tahun 1800 bangunan Batur atau Mandapa ini sudah nampak.
“Kemudian di masa berikutnya terpendam atau juga dipendam,” tutupnya.
