Keseruan Pewara Kodew saat pelatihan membatik. (Istimewa)
Keseruan Pewara Kodew saat pelatihan membatik. (Istimewa)

MALANGTIMES - Membatik memang bukan hal mudah. Terlebih jika itu adalah batik tulis. Tentu harus memiliki keahlian tersendiri  bagi siapa pun yang hendak merasakan sensasi membatik tulis. 

Tapi, tahukah kalian, ternyata ada banyak keseruan saat membatik tulis. Para pemula, utamanya pecinta batik, harus mencoba sendiri.

Sebab, meski sulit, membatik akan menawarkan sensasi dan rasa bangga tersendiri. Penulis pun turut merasakannya dalam pelatihan kelas membatik tulis yang kebetulan diadakan Batik Lintang bersama Pewarta Kodew Malang.

Pertama menggoreskan canting ke kain, tangan auto-tremor (gemetar) dan membuat malam di dalam canting berjatuhan tak karuan di atas kain. Tapi bukan masalah. Begitu menggoreskan lagi canting di bagian yang lain, tangan mulai lincah bergerak. 

Namun, jangan senang dulu. Tidak lama tangan kembali gemetaran. Alasannya, tangan kanan mulai terasa pegel. Sedangkan dengan tangan kiri, banyak tetesan malam yang panas.

Saya dan para jurnalis perempuan di Malang Raya pun beberapa kali harus berhenti saat menggoreskan malam dengan canting. Proses mencanting ini memang tak mudah, tapi terasa menyenangkan begitu kami menemukan alurnya.

Sensasi baru pun terasa begitu memasuki sesi mewarnai. Mewarnai merupakan proses yang paling menyenangkan.  Apalagi kami dibebaskan memilih warna apa pun yang kami sukai sesuai dengan imajinasi. Satu per satu bagian pun akhirnya penuh dengan warna yang berbeda.

"Jadi, jangan lupa dengan warna dasar. Karena bagian yang tadi kita canting akan berubah jadi putih. Sedangkan bahan kain akan berubah sesuai warna yang kita pasang," kata pelatih sekaligus pemilik Batik Lintang, Ita Fitriyah ST, saat  pelatihan berlangsung.

Usai mewarnai, kami kemudian dituntun ke tahapan berikutnya, yaitu proses finishing. Dalam tahapan ini, kain yang telah diwarani akan dibalur dengan faiber glass, cairan khusus untuk memastikan warna menempel pada kain. Kemudian kain dikeringkan sejenak. 

Terakhir adalah proses plorotan atau memasak kain di dalam air mendidih selama beberapa saat. Dilanjutkan dengan mencuci kain dan mengeringkannya dengan angin dan usahakan tak langsung terkena sinar matahari.

"Supaya warna tak nempel dengan yang lain, usahakan kain yang berwarna erang terlebih dulu yang dimasak," tambahnya.

Sementara itu, ketika ditemui usai pelatihan, perempuan berhijab itu menyampaikan, membatik memang bukan hal mudah. Namun, generasi penerus wajib untuk dikenalkan. Sehingga batik tetap membumi dengan waktu yang lebih lama.

Melalui berbagai pelatihan yang dibuat, Ita optimistis generasi muda akan terus mengingat tentang batik tulis. Dia berharap agar masayarakat dan generasi muda yang mendapat pelatihan tak hanya berhenti melatih skill-nya saja, melainkan juga mulai memproduksi untuk bisa dipasarkan.

"Edukasi sangat penting. Kemudian, kalau bisa, masyarakat juga memproduksi," ucap Ita.

Dalam kesempatan pelatihan tersebut, Ita sengaja mengajarkan tentang motif Garudea. Pasalnya, Garudea merupakan salah satu tokoh ternama dalam sejarah Malang. Melalui motif Garudea, diharapkan masyarakat bisa mengenal lebih jauh lagi sejarah Malang Raya.

"Garudea merupakan sosok yang terus dikenalkan dan dapat dikatakan sebagai salah satu ikon Kabupaten Malang," pungkasnya.