Mengenal Budaya Bangsa Melalui Keris Era Singhasari Hingga Pasca Kemerdekaan

Nov 23, 2019 15:41
Pengunjung tengah melihat dan menikmati koleksi keris dalam Babad Pusaka Singhasari di Pendopo Kabupaten Malang (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Pengunjung tengah melihat dan menikmati koleksi keris dalam Babad Pusaka Singhasari di Pendopo Kabupaten Malang (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Keris menjadi salah satu hasil kebudayaan bangsa yang tetap populer hingga kini. Bukan hanya sebagai senjata, keris juga memiliki peran penting untuk menunjukkan kearifan lokal bangsa Indonesia dari masa ke masa.

Namun mengenalkan budaya keris, utamanya di era milenial seperti sekarang tentu memiliki tantangan tersendiri. Terlebih, tak sedikit yang selalu mengaitkan keris dengan hal-hal mistis. Itu sebabnya, edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan.

Baca Juga : 189 Tahun Dirampas, Keris Kiai Naga Siluman Milik Pangeran Diponegoro Dikembalikan oleh Belanda

Pegiat perkerisan di Malang Raya, Wahyu Eko Setiawan menyebut, edukasi terkait keris sebagai sebuah hasil kebudayaan harus terus digelorakan. Dengan pengenalan yang dilakukan secara terus menerus, dia optimis keris sebagai sebuah hasil kebudayaan akan mampu mengalami perkembangan yang lebih pesat lagi.

"Masyarakat harus dipahamkan jika keris bukan sebuah hal yang harus ditakuti atau mistis. Namun lebih sebagai hasil budaya yang sudah ada sejak era nenek moyang kita," katanya pada MalangTIMES di sela kegiatan Babad Pusaka Singhasari yang digelar di Pendopo Kabupaten Malang, Sabtu (23/11/2019).

Melalui pameran, bursa, dan edukasi yang berkaitan dengan dunia perkerisan itu, Wahyu menyebut jika ketertarikan masyarakat akan terus bertambah. Sehingga potensi yang dimiliki di Malang Raya akan mampu dikenalkan mulai dari lokal hingga kancah internasional.

Sebab keris menurutnya juga erat kaitannya dengan ekonomi kreatif yang kini tengah digelorakan Pemerintah Indonesia. Selain itu, keris juga terus diproduksi oleh Mpu dan para perajin di berbagai penjuru daerah yang terus aktif hingga saat ini.

"Potensi di Malang Raya ini amat luar biasa, termasuk pelopor pertumbuhan komunitas dan paguyuban keris di nusantara," imbuh Wahyu.

Sementara untuk kegiatan Babad Pusaka Singhasari itu sendiri, Wahyu menyampaikan jika ada ribuan keris yang dihadirkan untuk bisa dinikmati dan dijadikan bahan edukasi. Keris-keris tersebut kebanyakan berasal dari era Kerajaan Singhasari.

Selain itu juga terdapat banyak keris sejak era Kerajaan Majapahit, Mataram, hingga pasca kemerdekaan. Keris-keris dan sederet benda pusaka lainnnya pun tertata rapi di putaran kawasan Pendopo Kabupaten Malang.

"Karena temanya Singhasari, maka di sini banyak yang berasal di era Kerajaan Singhasari. Keris masa Singhasari ini memiliki ciri tersendiri. Diantaranya sederhana namun memiliki penegasan tersendiri," jelas dia.

Baca Juga : Hidupkan Budaya Sambut HUT Kota Malang, Sutiaji Imbau Masyarakat Pasang Lampion

Kegiatan yang juga untuk memperingati hari jadi Kabupaten Malang ke 1259 dan hari keris nasional itu mengajak masyarakat mengenal lebih jauh tentang keris dan budaya bangsa melalui dialog atau Jagongan Budaya.

Jagongan Budaya itu akan digelar sejak pukul 19.00 WIB dengan menghadirkan sederet pakar yang berkomoeten dibidangnya. Mulai dari Ki Cokro Wibowo Sumarsono sebagai Pemerhati Sejarah Singosari yang akan menjadi pembicara dalam Jagongan Budaya pada Sabtu (23/11/2019) nanti malam.

Kemudian Mpu Fanani akan menjadi pembicara pada Minggu (24/11/2019) besok, dan Ki Mangir Segaran sebagai pembicara dalam Jagongan Budaya yang digelar pada Senin (25/11/2019) mendatang.

Sebagai informasi, Babad Pusaka Singhasari ini di dalamnya terdiri dari bursa, pameran, dan edukasi Tosan Aji yang digelar di Pendopo Kabupaten Malang sejak 23 November 2019 hingga 25 November 2019. Buat kalian yang ingin mengenal lebih jauh tentang dunia perkerisan, bisa langsung merapat. 

 

Topik
MalangBerita MalangkerisBabad Pusaka SinghasariPendopo Kabupaten Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru