Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) saat mengisi rakor  perangkat daerah di Balai Kota Malang Senin (9/3). (Foto: Humas Pemkot Malang)
Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) saat mengisi rakor perangkat daerah di Balai Kota Malang Senin (9/3). (Foto: Humas Pemkot Malang)

MALANGTIMES - MALANGTIMES - Menyambut semarak HUT Kota Malang yang tinggal 20 hari lagi, tepatnya pada 1 April 2020 mendatang, beragam perayaan dengan mengangkat budaya bakal digelar.

Tema 'Satu untuk Malang', yang mendasari semangat spririt Kota Malang 'Salam Satu Jiwa' Arema, menjadi satu harapan agar nilai nilai keguyuban, kegotong-royongan, persatuan dan kesatuan terus digalakkan di Kota Malang.

"Ini harus kita jaga bersama, terlebih dengan ujaran-ujaran yang tak berbatas nilai di dunia sosial media. Kita harus kembali pada nilai-nilai budaya kita. Oleh karena itu, spirit budaya juga mewarnai HUT 106 tahun kota Malang," kata Wali Kota Malang Sutiaji saat mengisi rakor perangkat daerah di Balai Kota Malang Senin (9/3).

Nah, salah satu dalam penyambutan di hari besar Kota Malang ini, seluruh elemen masyarakat diimbau untuk menciptakan kreasi lampion. Baik itu di lingkungan perkantoran, pusat perbelanjaan (mal), hotel, restoran, kampus-kampus,  lingkungan sekolah, dan area perkampungan.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, di era tahun 80-an Kota Malang sudah punya event jalan sehat yang melegenda dan menciptakan kreasi gerak jalan lampion. Bahkan Kota Malang telah mempunyai industri lampion. Karena itu, pada HUT Kota Malang mendatang, semarak kreasi tersebut diharapkan kembali bisa dijalankan.

"Maka mari kita hidupkan kekayaan kreasi itu melalui pemasangan lampion di lingkungan masing masing," ucap Sutiaji.

Terlabih,  kekayaan budaya di Kota Malang sangat banyak. Namun, saat ini seakan kurang diminati oleh kalangan anak muda atau milenial. Maka, momen ini akan menjadi kesempatan untuk kembali mengedukasi anak-anak dengan nilai-nilai budaya.

Rencananya, pada HUT Kota Malang juga akan ada kegiatan arak-arakan budaya. Antara lain tumpengan dan selamatan. Hal ini dinilai sebagai kebiasaan warga Kota Malang dahulu kala saat merayakan sesuatu yang seharusnya terus dilestarikan.

"Orang orang dulu sangat familier dengan istilah 'barikan'. Anak-anak kita sekarang pasti tidak paham itu. Karena kita alpa, budaya itu makin kita pinggirkan. Karenanya nanti di hari H juga coba kami desain arak-arakan budaya (tumpengan/selamatan). Di titik akhir kita akan duduk bersama, berdoa dan bersyukur bersama sekaligus menikmati rezeki yang diberikan Allah sebagaimana barikan dulu mentradisi di kampung-kampung kita," tandasnya.