Suasana audiensi Forum Koordinasi KOMDA Lansia melakukan audiensi di Balaikota Malang, Rabu (16/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana audiensi Forum Koordinasi KOMDA Lansia melakukan audiensi di Balaikota Malang, Rabu (16/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keberadaan lansia turut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Upaya dalam pemenuhan hak-hak hingga fasilitas lansia juga mulai dilakukan, salah satunya yang disoroti adalah untuk menjadikan Kota Malang sebagai kota ramah lansia.

Terlebih, penerapan untuk kota ramah lansia juga sudah tertuang dalam Perda no 13 tahun 2015. Hanya saja, saat ini di Kota Malang masih perlu ditingkatkan terutama demi memenuhi hak-hak para lansia ini.

Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko menyatakan dalam mewujudkan hal itu memang ada berbagai aspek yang harus menjadi acuan. Seperti, identifikasi potensi yang dimiliki para lansia yang harus mecakup sejumlah aspek, yakni aspek hukum, kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan.

"Identifikasi potensi lansia inilah yang bisa menjadi acuan dalam menentukan langkah-langkah strategis kedepan seperti apa," ujar dia saat menghadiri Forum Koordinasi KOMDA Lansia melakukan audiensi di Balaikota Malang, Rabu (16/10).

Ia menjelaskan, hal itu bisa melalui beberapa program yang dirancang dengan bekal keterampilan. Sehingga para lansia dapat memanfaatkan bekal tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

"Dari setiap program yang telah dirancang, bekal keterampilan akan disesuaikan dengan kemampuan mereka. Sehingga ini juga bisa menjadi salah satu hal yang mewujudkan Kota Malang sebagai kota ramah lansi," imbuhnya.

Dalam acara tersebut, Ketua Forkom Lansia Kota Malang Sulastri menyampaikan jika keberadaan lansia memang membutuhkan fasilitas yang perlu pengembangan. Artinya bukan hanya sebatas bangunan fisik saja, tetapi juga dalam hal kesejahteraan manusianya.

Salah satunya, dengan mendorong Pemkot Malang untuk memiliki pondok lansia yang lebih luas di semua kecamatan. Sehingga, lansia yang kurang beruntung tidak memiliki nasib yang terlantar.

"Lansia tidak hanya butuh makan, tapi juga perlu hal yang lain. Seperti sentuhan kemanusiaan," ungkapnya.

Tak hanya itu, dalam mewujudkan kota ramah lansia juga perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak. Hal itu menurutnya akan memberikan nilai semangat hidup yang lebih bagi para lansia.

"Ini untuk membangun gotong royong antar sesama, sehingga para lansia juga lebih semangat. Kemudian secara otomatis mereka akan lebih bahagia, yang bakal berimbas pada angka kehidupan rata-rata bagi lansia sendiri," pungkasnya.