Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP (Foto: Humas)
Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Agroindustri merupakan bagian penting dari pembangunan nasional. Perannya sangat strategis dalam meningkatkan nilai tambah produk primer hasil pertanian dan bahkan menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di hulu (on farm).

Kontribusi ini makin signifikan dilihat dari serapan jumlah tenaga kerja, berkembangnya jumlah dan jenis produk yang dihasilkan, peningkatan segmen pasar yang makin luas, dan tumbuhnya industri terkait.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP dalam pidato Pengukuhan Profesor, Rabu (2/10/2019), yang berjudul "Strategi Pengembangan Agroindustri 4.0: Perspektif Kesisteman dan Manajemen Risiko".

Bertempat di Gedung Widyaloka, Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sistem dan Manajemen Agroindustri pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP-UB).

Saat menyampaikan pidatonya, Imam Santoso menyebutkan, dalam pengembangan agroindustri, setiap aspek-aspeknya memiliki potensi risiko.

Pertama, menurunnya jumlah lahan pertanian produktif, yang belum diimbangi oleh program ekstensifikasi berupa penambahan lahan baru. Kedua, sistem produksi  pertanian yang umumnya masih tradisional dengan sejumlah persoalan sosiokultural yang melingkupinya.

Ketiga, sistem penanganan panen dan pascapanen yang belum mendukung sistem panen terjadwal dan belum menjamin mutu hasil pertanian. Keempat, sistem distribusi dan rantai pasok hasil pertanian dan produk agroindustri yang belum mendukung ketepatan dan kecepatan pemenuhan kebutuhan konsumen.

Kelima, sistem produksi agroindustri umumnya skala UMKM dengan keterbatasan sarana dan sistem produksi yang berimplikasi pada belum terjaminnya mutu produk dan bahkan tidak mampu menjawab dinamika preferensi konsumen.

"Jika potensi risiko tersebut dianalisis dan dikelola dengan baik, maka agroindustri dapat dikembangkan dan memiliki daya saing. Pengembangan agroindustri 4.0 memiliki potensi untuk dapat membantu memberikan solusi atas sejumlah permasalahan tersebut," papar Dekan Fakultas Teknologi Pertanian ini.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, dikatakan Imam, otomatisasi dan digitalisasi menjadi tren yang sangat penting di industri ini, termasuk industri pengolahan. "Jadi industri pengolahan itu sekarang sudah tidak bisa menggunakan teknologi konvensional," ujarnya.

Ia menjelaskan, industri pengolahan harus fleksibel sesuai dengan preferensi konsumen. "Ini akan menjadi tren sebagai mitigasi di industri pengolahan," terangnya.

Untuk itu, otomatisasi dan digitalisasi ke depan menjadi tren yang sangat penting di industri pengolahan. Saat ini, mau pasar adalah uniqueness dalam produk. "Tiap orang bisa dilayani berbeda, kemudian maunya cepat, dan sebagainya. Maka sekarang digital ini sudah menjadi sebuah keniscayaan. Dan agroindustri sudah harus support ke sana," tandasnya.

Maka dari itulah agroindustri 4.0 perlu dikembangkan. Bukan hanya di industri pengolahan, sektor pertanian hingga distribusi juga harus mensupport. "Sehingga nanti secara agregatif penggunaan teknologi digital, otomatisasi, semuanya nanti akan support pada pengembangan industri yang makin memiliki daya saing," pungkasnya.

Untuk diketahui, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP merupakan profesor ke-12 di FTP, dan ke-247 di UB. Saat ini ia juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UB.