MALANGTIMES - Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali terjadi di berbagai daerah, hari ini (24/9/2019). Aksi tersebut merupakan lanjutan dari unjuk rasa yang digelar kemarin (23/9/2019) di antaranya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, juga Malang. Namun, berbeda dengan nuansa demonstrasi yang berapi-api, sejumlah poster yang dibawa justru tampak "santai".

Mereka menggunakan idiom-idiom keseharian sebagai bentuk protes. Mulai dari membawa-bawa kandasnya kisah cinta, hingga menyindir menggunakan tokoh kartun atau tokoh yang viral. MalangTIMES merangkum dari berbagai sumber, poster-poster yang terkesan nyleneh. 

1. Sindir Kinerja DPR 

Salah satu poster berwarna merah muda yang dibawa mahasiswa bertuliskan: Asline Mager Pol, Tapi Piye Meneh? DPRe Pekok!! yang bisa diterjemahkan: sebenarnya benar-benar malas ikut aksi, tapi bagaimana lagi kalau DPR gila. 

2. Pelemahan KPK

Aku kira yang lemah cuma hatiku, ternyata KPK juga. 

3. Kontroversi RUU KUHP Soal Hewan Ternak

Rembo salah apa? Sebuah poster menunjukkan seekor ayam bernama Rembo. Ayam tersebut merupakan tokoh animasi dalam serial kartun Upin-Ipin. Rembo adalah ayam peliharaan Tok Dalang yang berkeliaran bebas. Tak hanya mencari makan di sembarang ladang dan halaman orang, hobi Rembo adalah mencuri sandal anak-anak. 

4. Rela Kulit Terbakar Matahari

Bagi perempuan, kulit yang terbakar akibat terpapar matahari menimbulkan ketidaknyamanan. Sehari-hari, sebagian wanita bahkan mengeluarkan anggaran khusus untuk produk perawatan kulit atau skincare. Tertulis: Skincare mahal gakpapa buat panas-panasan, lebih mahal NKRI soalnya. 

5. Pemerintah Saingi Sikap Pacar 

Aku kira yang posesif cuma pacar, ternyata pemerintah juga. 

6. Demi Tuhan atau Demi Hutan

Salah satu poster yang menggelitik menunjukkan sosok Arya Wiguna. Pria yang sempat viral di berbagai media sosial serta entertaimet itu lekat dengan idiom Demi Tuhan saat mengomentari Eyang Subur. Idiom itu lantas diplesetkan Demi Hutan untuk menyindir beberapa RUU yang berpotensi mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia.

7. Dorong Pengesahan RUU PK-S 

Pemerintah tampaknya masih menunda-nunda melakukan pembahasan lanjutan terhadap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PK-S). Aksi massa salah satunya mendorong agar aturan yang bakal memberi perlindungan tersebut segera disahkan. Ada yang berdiri tegak, tapi itu bukan keadilan. Itu titit!!!