Pertunjukan drama musikal "Werewolf" di Gedung Kesenian Gajayana. (Foto: Rico Yogi SS for MalangTIMES)
Pertunjukan drama musikal "Werewolf" di Gedung Kesenian Gajayana. (Foto: Rico Yogi SS for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Anak-anak milenial setidaknya pasti pernah mendengar atau bahkan senang bermain permainan Werewolf. Werewolf adalah game yang sudah dikenal sejak tahun 90-an dengan tema saling tuduh, sama seperti permainan Algojo yang suka dimainkan anak SD angkatan 90-an.

Permainan ini cukup populer di banyak negara bahkan di Indonesia. Bermain Werewolf membutuhkan skill bermain peran, berasumsi, menginterogasi, dan logika.

Minggu malam (22/9/2019), Werewolf disajikan dalam bentuk drama musikal oleh Komunitas Malang Drama Musikal (MDM) di Gedung Kesenian Gajayana.

Sutradara pertunjukan Werewolf, Pupawa Arya Pratama menyatakan, cerita dalam pertunjukan yang ia tampilkan berasal dari legenda Werewolf atau Lycan di Yunani.

"Pertunjukan Werewolf ini adalah sebuah penggambaran legenda Yunani yang dibawa ke drama musikal. Di sini kita membungkusnya dengan permainan Werewolf sehingga ada banyak teka-teki dalam pertunjukan ini," ujarnya kepada MalangTIMES.

Pertunjukan tersebut menceritakan tentang anak-anak di kampung terpencil yang baru saja kedatangan sepasang suami istri. Sepasang suami istri ini rajin menemani mereka belajar.

Sementara kehidupan anak-anak ini jauh dari perhatian orang tua. Kedatangan sepasang suami istri ini membuat kehidupan kembali ceria.

Akan tetapi, keceriaan tersebut beriring dengan kemalangan. Satu per satu teman mereka hilang tak tau ke mana. Mereka yang tersisa berupaya mencari temannya yang hilang. Intrik-intrik dalam pencarian membuat anak-anak tercerai.

Werewolf sendiri adalah tokoh atau sosok makhluk yang dikenal sebagai manusia setengah serigala. Makhluk ini awalnya adalah manusia, namun ketika malam purnama tiba kekuatannya akan meningkat dan dia akan berubah menjadi serigala.

"Permainan Werewolf sempat trending di kalangan milenial. Kita membawanya ke atas panggung. Dibawakan dengan bermain-main di atas panggung," papar pria yang akrab disapa Ayak tersebut.

Meski dibawakan dengan permainan, pertunjukan Werewolf MDM juga memberikan pesan-pesan moral yang relevan dengan zaman sekarang. Beberapa di antaranya yakni menghormati orang tua, ada juga sindiran untuk PNS yang makan gaji buta, orang tua yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga kurang memperhatikan anak-anaknya, dan lain-lain.

"Pada dasarnya pertunjukan MDM memang membawakan nilai-nilai moral juga sindiran atas fenomena yang kerap terjadi saat ini sehingga banyaknya anak kecil yang nonton bisa mengambil pesan-pesan yang disampaikan," terangnya.

Ayak menyampaikan, pertunjukan drama musikal dari komunitas yang didirikan oleh beberapa pemuda pegiat seni di Kota Malang ini akan diadakan kembali untuk tahun depan.

"Kemungkinan tetap fokus ke cerita yang bisa dinikmati anak-anak," pungkasnya.