Sukaji Widiantoko, 7 Tahun Gagal jadi Petani Jeruk, Kini Kembangkan Bumi Kitir yang Ngehits

Aug 26, 2019 18:40
Hamparan kitir berwarna-warni di Bumi Kitir Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Hamparan kitir berwarna-warni di Bumi Kitir Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Merasa gagal menjadi petani jeruk di Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Sukaji Widiantoko merelakan lahannya untuk dijadikan wisata swafoto. 

Baca Juga : Tundukkan Rasa Takut untuk Kemanusiaan, Ini Kisah Bripka Jerry yang Banjir Apresiasi

Lahan seluas 6 ribu meter persegi itu diubahnya menjadi wisata yang diberi nama Bumi Kitir.

“Sebelumnya ini adalah lahan jeruk semuanya. Namuan hasilnya tidak pernah menjanjikan setiap panennya,” kata Sukaji, Senin (26/8/2019). 

Selama 7 tahun itu, lanjut Sukani, ia menggelontorkan Rp 40 juta mulai dari membeli bibit, tanam, hingga proses perawatannya. 

Sayang selama 7 tahun itu penghasilan dari buah jeruk hanya Rp 20 juta.

“Setiap panen jeruk enggak pernah untung. Dan setiap panen ketemunya selalu harganya rendah, Rp 4 ribu per kilogram. Panennya satu tahun sekali,” imbuhnya.

“Dan tidak hanya masalah harganya yang murah, tapi masalah penyakit pun juga yang butuh perawatan ekstra,” tambah pemilik Bumi Kitir.

Merasa gagal menjadi petani, akhirnya ia memulai memunculkan wisata swafoto yang digemari banyak orang saat ini. 

Pengerjaan pembuatan wisata ini sekitar tiga bulan sejak Mei lalu.

Objek wisata itu dibuka untuk umum sejak 18 Agustus 2019 lalu. 

Meskipun baru ternyata rata-rata perharinya mencapai 100-250 wisatawan berkunjung di wisata ini. 

Bahkan sudah ada warga Jogjakarta dan Surabaya mengunjungi Bumi Kitir. 

Baca Juga : Glenn Fredly Meninggal Dunia Tepat setelah 40 Hari Kelahiran Anak Pertamanya

Bukan sekadar tempet foto, ternyata pengambilan konsep ini ditujukan untuk anak-anak hingga pelajar SD. 

Tujuannya agar mereka tahu permainan tradisional yang dulunya menjadi mainan favorit dan nyaman.

“Kitiran ini dulu kan permainan tradisional. Karena itu Bumi Kitir ini menjadi tempat edukasi bagi mereka yang ingin mengenalkan permainan ini di sana,” ungkap pria yang juga berprofesi peternak ini. 

Sedang laham seluas 6 ribu meter persegi yang sebelumnya itu adalah lahan perkebunan. 

Yang  membentuk lembah itu kini tampil cantik dengan hiasan baling-baling plastik warna-warni. 

Pemandangan yang ditawarkan memang memanjakan mata. Kitiran itu ditata membentuk blok-blok warna.

Ada warna hijau, merah, kuning, biru, jingga, biru tua. Juga beberapa kitiran yang dirangkai dengan kerangka khusus misalnya kepala singa, bintang, dan lain-lain. 

Saat angin berembus, ribuan baling-baling itu akan berputar serempak dengan bunyi berdesir. 

Karena banyaknya kitiran hingga 25 ribu unit yang memiliki tinggi 60 centimeter.

Topik
MalangBerita MalangMerasa gagal menjadi petani jeruk di Dusun Binangun Desa Bumiaji7 Tahun Gagal jadi Petani Jeruk Kini Kembangkan Bumi Kitir yang Ngehits

Berita Lainnya

Berita

Terbaru