Kantor PDAM Kabupaten Malang (surabayapost.id)

Kantor PDAM Kabupaten Malang (surabayapost.id)


Pewarta

Dede nana

Editor

Heryanto


Cara Cerdik PDAM Kabupaten Kuras Dompet Pelanggan  1

MALANGTIMES - Layanan berbagai unit usaha yang dimiliki pemerintah kerap menjadi sasaran protes masyarakat selaku konsumen. 

Kasus pemadaman  listrik secara mendadak di Jakarta yang membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) marah besar kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah salah satu contoh nyata. 

Pelayanan air bersih di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Malang di bawah pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang kini berubah nama menjadi Perumda Tirta Kanjuruhan juga tak sepi dari keluhan dan protes warga. 

Berbagai protes masyarakat atas buruknya pelayanan tersebut bukan kali pertama. Tapi mengalir terus disebabkan rasa jengkel masyarakat yang memuncak terhadap buruknya layanan air bersih selama ini. 

Persoalan buruknya layanan air bersih di Kabupaten Malang memang bukanlah hal baru. Protes masyarakat yang dilayangkan lewat situs resmi Lapor atau protes langsung kepada petugas di lapangan sudah sangat sering terjadi. 

Hal ini menjadi persoalan klasik yang terus berulang-ulang terjadi. Yang artinya semakin menegaskan bahwa tidak ada proses evaluasi dari pihak Perumda Tirta Kanjuruhan atas ketidaknyamanan dan kerugian yang menimpa warga sebagai konsumen selama ini.

Ida Rochani, warga Desa Ngono, Kecamatan Karangploso adalah bagian kecil konsumen yang merasa dicekik oleh Perumda Tirta Kanjuruhan. 

Betapa tidak, dirinya harus membayar iuran air bersih di luar nalar. Untuk pemakaian normal kebutuhan rumah tangga kecil yang terdiri dari 4 orang (dirinya sendiri dan tiga anaknya yang masih kecil), ia harus merogoh kocek hingga Rp 751 ribu untuk pembayaran satu bulan pemakaian air.

Padahal, ia tinggal di rumah kontrakannya yang masuk dalam golongan rumah tangga A3.

"Saya kaget dengan itu. Padahal biasanya setiap bulan hanya bayar antara Rp 60 ribu dan tertinggi Rp 100 ribu. Tapi tiba-tiba di bulan Juni saya harus bayar Rp 751 ribu," ucapnya kepada MalangTIMES.

Ida juga menegaskan pemakaian air bersih setiap bulan hanya untuk kebutuhan sehari-hari.

"Hanya untuk mandi, kebutuhan masak dan lainnya. Dan yang pakai hanya saya dan tiga anak saya yang masih kecil," imbuhnya.

Ida bukan orang pertama yang kaget dengan todongan tagihan di luar nalar atas pemakaian yang standart di rumahnya. Masih banyak warga yang merupakan konsumen Perumda Tirta Kanjuruhan yang bernasib sama.

Buka saja situs Lapor Perumda Tirta Kanjuruhan. Maka akan cukup banyak keluhan dan protes keras atas pelayanan unit usaha pemerintah daerah Kabupaten Malang ini. 

Baik lantaran bengkaknya kewajiban bayar yang tidak sesuai dengan pemakaian, air macet atau tidak mengalir berhari-hari, debit air kecil, dan banyak keluhan lain yang membuat masyarakat kecewa atas pelayanan itu.

Abu Al Kindi, warga Sekarpuro, Pakis, menuliskan di situs Lapor (situs yang disiapkan untuk layanan aspirasi dan keluhan bagi pelanggan, red) terkait air PDAM yang debitnya sangat kecil pada 2018 lalu. 

Namun, yang didapat Abu adalah kekecewaan, karena keluhannya tidak mendapat tanggapan atau respons apapun dari Perumda Tirta Kanjuruhan.

"Sudah hampir 12 hari kami menulis keluhan ini pada situs Lapor. Tapi belum ada tanggapan dari PDAM Kabupaten Malang dan debit air tidak mengalami perubahan..." tulisnya kecewa dengan layanan situs Lapor yang digembar-gemborkan  menjadi ruang aspirasi dan keluhan masyarakat.

Masih banyak warga lain yang juga bernasib sama. Berbagai persoalan pelayanan air bersih di Perumda Tirta Kanjuruhan tak terselesaikan hingga kini sehingga membuat mereka tidak berdaya. Padahal mereka membayar rutin atas layanan tersebut, bukan gratis.

Saat kanal keluhan masyarakat  tidak bisa difungsikan, warga hanya bisa pasrah dengan berbagai ketidakadilan yang terjadi. Seperti Ida yang akhirnya hanya pasrah untuk membayar tagihan yang membengkak dan tidak masuk akal tersebut.

Bagaimana kasus yang sebenarnya menimpa Ida, pelanggan Perumda Tirta Kanjuruhan yang mengeluh karena tagihannya tak normal? Bagaimana pula tanggapan tokoh masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atas persoalan ini?

Bagaimana pula respons atau jawaban Perumda Tirta Kanjuruhan terhadap banyaknya protes dan keluhan warga atas buruknya pelayanan air bersih selama ini?

Jawaban atas persoalan-persoalan tersebut akan kami ulas secara detail pada seri berikutnya.

Ulasan ini kami kemas dalam laporan khusus “Cara Cerdik PDAM Kabupaten Kuras Dompet Pelanggan”. 

Simak terus ulasannya hanya di MalangTIMES.com!!

End of content

No more pages to load