Para peserta Sinau Sejarah saat mengikuti diskusi di Museum Mpu Purwa Kota Malang. (Foto: Disbudpar Kota Malang for MalangTIMES)
Para peserta Sinau Sejarah saat mengikuti diskusi di Museum Mpu Purwa Kota Malang. (Foto: Disbudpar Kota Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tak kenal maka tak sayang, sambil kenalan bisa sekaligus belajar agar semakin sayang. Semangat itu tampak dari antusiasme puluhan orang yang hari ini (17/7/2019) mengikuti kegiatan Sinau Sejarah di Museum Mpu Purwa yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang. 

Berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Griya Santa Blok B No 210, Mojolangu, Kota Malang, para peserta diajak untuk lebih mengenal koleksi-koleksi yang disimpan di Museum Mpu Purwa. Selain itu, mereka juga diajak berdiskusi mengenai keberadaan museum sebagai sumber belajar para generasi milenial. 

Kasi Promosi Wisata Disbudpar Kota Malang Agung Harjaya Buana mengungkapkan, kegiatan Sinau Sejarah tersebut merupakan upaya pembelajaran publik mengenai sejarah dan permuseuman. Pelaksanaannya didukung dari Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik BOP Museum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

"Pelaksanaan kegiatan Sinau Sejarah ini ditujukan kepada milenial untuk mencintai dan menghargai kebudayaan leluhur melalui koleksi Museum Mpu Purwa," tuturnya. Sejumlah narasumber baik praktisi maupun akademisi dihadirkan agar para peserta bisa menuntaskan keingintahuannya tentang permuseuman.

Agung mengungkapkan, banyak pengetahuan-pengetahuan yang masih relevan dipelajari dari berbagai koleksi museum. "Selain siswa sekolah, komunitas, Sinau Sejarah juga diikuti oleh 20 orang mahasiswa asing yang sedang mengikuti program Summer Project AIESEC Universitas Brawijaya dari 8 negara," tambahnya. 

Saat ini, Museum Mpu Purwa memiliki 136 benda yang terdiri dari koleksi arca, prasasti, bangunan candi, prasejarah dan antropologi. Pusat pembelajaran sejarah klasik era Hindu Buddha khususnya era Tumapel, Kanjuruhan hingga Singhasari ini juga dilengkapi diorama serta tata pamer yang modern.

Salah satu pemateri, arkeolog dan sejarahwan Universitas Negeri Malang (UM) M Dwi Cahyono juga mengupas soal museum sebagai sumber belajar. Menurut Dwi, manusia pada dasarnya suka sejarah. 

"Setiap orang dengan gaya hidup dan lapis sosialnya menikmati sejarah sesuai keinginannya. Ada yang lewat bacaan sebagai pusat referensi, ada yang lewat audio visual, ada pula yang menjelajah," tuturnya.

Bagi masyarakat modern saat ini, sejarah dan masa lalu justru menjadi sebuah pengalaman baru. "Untuk itulah keberadaan museum sebagai sumber belajar ini penting, terutama menghadirkan pengalaman belajar yang juga modern, tidak membosankan," pungkasnya.