Tampungan Waduk Berkurang, Bendungan Sutami Kehilangan 100 Juta Meter Kubik Air

Jun 22, 2019 11:15
Suasana di Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Suasana di Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Fungsi tampungan air waduk-waduk di wilayah kerja Perum Jasa Tirta I (PJT I) terus mengalami penyusutan setiap tahun. Masalah sedimentasi masih menjadi persoalan utama yang menyebabkan pendangkalan bendungan. 

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Bahkan akibatnya, Bendungan Sutami atau juga dikenal sebagai Bendungan Karangkates di Kabupaten Malang telah kehilangan daya tampung air sekitar 100 juta meter kubik. 

Direktur Utama PJT I Raymond Valiant Ruritan mengakui adanya penurunan daya tampung air waduk. "Tampungan waduk pasti akan berkurang setiap tahun. Kalau yang dikelola PJT I, yang terbesar penurunannya di Bendungan Sutami. Sekarang daya tampungnya sekitar 160 juta meter kubik lebih. Sekitar 100 jutaan meter kubik yang hilang, selain sedimentasi juga karena umurnya sudah lebih dari 50 tahun," urainya.

Untuk diketahui, ada delapan bendungan besar yang dikelola oleh PJT I meliputi 7 bendungan di Wilayah Sungai Brantas dan 1 bendungan di Wilayah Sungai Bengawan Solo. Kedelapan bendungan tersebut adalah Bendungan Sengguruh, Bendungan Sutami, Bendungan Lahor, Bendungan Wlingi, Bendungan Selorejo, Bendungan Wonorejo, Bendungan Bening, dan Bendungan Wonogiri.

Dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh PJT I, diketahui bahwa kondisi elevasi beberapa waduk di akhir musim hujan berada di bawah elevasi muka air tinggi atau high water level (HWL). Elevasi Sutami per 1 Juni 2019 tercapai 272,34 meter (SHVP) atau 0,16 meter di bawah HWL. Sedangkan Bendungan Wonogiri di awal Mei hanya tercapai 135,51 meter (SHVP) atau 0,49 meter di bawah HWL.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

"Elevasi pada prinsipnya aman dan berada di atas pola. Ini kan awal kemarau. Tapi beberapa tahun belakangan ini sulit memperkirakan cuaca. Harapan kami, pemakaian air bagi masyarakat tidak terganggu," sebutnya. Dia menegaskan bahwa, meskipun elevasi waduk berada dibawah pola, tetapi hingga saat ini layanan suplai air permukaan baik untuk kebutuhan irigasi maupun domestik masih terpenuhi sesuai kebutuhan. 

Layanan ini akan menjadi perhatian utama dan selalu dipantau secara real time oleh PJT I. Pihaknya akan mengambil tindakan jika diketahui ketersediaan air yang ada sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan. Utamanya, suplai irigasi yang merupakan pengguna air permukaan terbesar hingga 70 persen. 

"Maka PJT I berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) akan mengusulkan adanya koordinasi untuk melakukan review terhadap kesesuaian pola dengan kondisi yang ada. Jika diperlukan maka akan dilakukan perubahan pola operasi waduk dan alokasi air," pungkasnya. 

Topik
MalangBerita MalangBendungan SutamiKabupaten MalangPerum Jasa Tirta IBendungan KarangkatesBalai Besar Wilayah Sungai
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru