MALANGTIMES - Tren gaya rustik yang banyak diminati kalangan muda beberapa tahun terakhir membuat kerajinan keranjang rotan masih jadi idola. Terutama menjelang Lebaran dan hari-hari besar seperti Natal dan tahun baru (Nataru). Keranjang rotan dipilih untuk menjadi tempat hantaran lantaran kesan alami dan natural yang ditampilkan. 
 

Seperti momen Ramadan-Lebaran 1440 H tahun ini, para perajin di sentra kerajinan rotan di Balearjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang mengaku kebanjiran pesanan. Salah satu perajin rotan Beni Irawan mengungkapkan bahwa produksinya meningkat sejak memasuki awal bulan puasa. "Tahun ini produksi keranjang rotan naik 15 persen lah," ujarnya. 
 

Untuk menjamin keberadaan barang, Beni mengaku sudah mulai memperbanyak stok sejak awal Ramadan. "Banyak yang cari buat parsel Lebaran. Kalau yang grosiran itu malah sebelum bulan puasa sudah digarap. Tapi yang langsung datang untuk beli bijian juga lumayan," tuturnya. Tahun ini, dia mengaku membuat lebih dari seribu pieces keranjang rotan. 
 

Saat ini, lanjutnya, model yang paling banyak disukai adalah keranjang berbentuk persegi. "Sudah nggak banyak yang cari keranjang bentuk oval atau model-model lama. Yang persegi ini kesannya lebih kekinian. Warnanya juga paling laku cokelat, hitam dan hijau lumut," sebutnya. 
 

Dia mengaku  keranjang rotan buatannya dibanderol mulai harga Rp 35 ribu hingga ratusan ribu, bergantung dari ukuran dan tingkat kerumitannya. Untuk pemesanan dengan desain khusus, para pembeli harus memesan lebih awal. Pasalnya, stok harian yang tersedia rata-rata adalah model konvensional. "Di sini memang ada langganan, misalnya dari toko-toko kue. Juga kirim ke kota-kota lain seperti Surabaya," ungkapnya. 
 

Beni menyebut, saat ini mulai terjadi pergeseran tren di masyarakat. "Dulu sempat agak sepi pas Lebaran karena banyak yang memilih menggunakan kardus untuk parcel. Kan itu lebih murah. Tapi sekarang balik lagi cari keranjang rotan karena dari sisi tampilan kan lebih menarik," kata dia.