Tapak Sejarah Dalam Kalender Hijriyah  5

MALANGTIMES - Bermodal santap sahur roti, telor dan sardines di kediaman Laksamana Maeda, tepat hari kesembilan Ramadan 1364 Hijriyah, Soekarno dan Hatta beserta Sayuti Melik, Ahmad Subardjo, Iwa Kusumasumatri dan lain-lainnya menyelesaikan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kita mencatatnya, dini hari itu tanggal 17 Agustus 1945.

Sebelumnya, rangkaian perjuangan kaum muda yang mengantarkan Soekarno-Hatta di kediaman Maeda. Para pemuda yang mendengar luluh lantaknya dua kota strategis Jepang yang dihajar dua bom atom Amerika, bergerak cepat. Setelah DN Aidit beserta Wikana dan lainnya melakukan rapat di belakang areal laboratorium Bacteriologi & Higiene Genees Kundige Hooge School (kini menjadi gedung laboratorium mikrobiologi Universitas Indonesia). Hasil rapat, Suroto Kunto, Subadio, Wikana, dan Aidit jadi utusan para pemuda untuk mendatangi rumah Soekarno. 

Ramadan ketiga, sekitar pukul 23.00 WIB,  para pemuda tersebut mendesak Soekarno untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Sayangnya, Soekarno terlihat enggan menanggapi keinginan para pemuda yang dianggapnya terlalu terburu-buru itu. Perdebatan sengit dan panas pun terjadi di rumah Soekarno. Seperti yang dituliskan Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (1988).

Wikana pun mengatakan, "Apabila Bung Karno tidak mau mengumumkan kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah," ucapnya  mengancam. Sukarno membalas tak kalah keras, "Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu dan sudahi saja nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu besok.".

Sehari sebelum perdebatan para pemuda dengan Soekarno, Jepang menandatangani Japanese Intrument of Surrender di atas kapal USS Missouri, sebagai tanda kekalahan. Itu terjadi tanggal 6 Ramadan 1364 Hijriyah.

Perdebatan panjang dan panas itu, sebelum pagi hari di hari kedelapan Ramadan, dimungkinkan setelah makan sahur. Para pemuda membawa Soekarno-beserta anak istri- dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Peristiwa ini dikenal sebagai penculikan Rengasdengklok, yang menghasilkan sebuah komunikasi sengit antara golongan muda dan golongan tua. 
 


Malam puasa kedelapan, Soekarno-Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Setelah Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, penasihat panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) mampu meyakinkan para pemuda di Rengasdengklok. 

Di malam itu juga Soekarno-Hatta bersama tokoh lainnya begadang di rumah Laksamana Maeda. Menyusun naskah Proklamasi dalam tempo sesingkat-singkatnya, sampai dini hari. Ramadan telah menginjak hari kesembilan.


Suhartono Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007), menuliskan, naskah Proklamasi selesai dan disepakati menjelang waktu sahur. “Sebelum pulang dari rumah Laksamana Maeda, Sukarno dan Hatta makan sahur dengan roti, telor, dan sardines,” tulis Suhartono.

Di hari kesembilan Ramadan, Soekarno diserang demam. Tiga hari di dalam bulan puasa, energinya hampir tersedot dalam proses singkat menuju kemerdekaan Indonesia. Soekarno baru bisa bangun dengan demam yang masih menyerang sekitar pukul 09.30 WIB. Setengah jam kemudian, suara Soekarno menggema membacakan proklamasi kemerdekaan di hari kesembilan bulan Ramadan.

Hanya butuh satu hari, di Pejambon, PPKI mengesahkan Undang-undang Dasar. Sukarno dipilih sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Di hari kesebelas puasa Ramadan, kabinet pertama Republik Indonesia terbentuk. Serta ditindaklanjuti di hari keempatbelas-nya,  tentara nasional yang bernama Badan Keamanan Rakyat didirikan.