Gua Hira tempat pertama kalinya Alquran diturunkan ke dunia melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw (Ist)
Gua Hira tempat pertama kalinya Alquran diturunkan ke dunia melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw (Ist)

MALANGTIMES - Ada tercatat, berbagai peristiwa yang membuat umat Islam berduka begitu dalam di bulan penuh ampunan dan barakah, yaitu bulan Ramadan. Bahkan, Rasulullah saw pun sempat didera duka mendalam di bulan Ramadan tersebut, yakni saat sang paman tercinta Abu Thalib wafat serta di tahun yang sama ummul mukminin, Sayyidah Khadijah Kubro, istri Nabi saw juga meninggal setelah sakit berkepanjangan. 

Tahun itu bahkan disebut sebagai tahun kesedihan atau aamul huzni.
Berbagai peristiwa lainnya pun ikut mewarnai bulan Ramadan di zaman Nabi Muhammad saw hidup sampai beliau wafat. Dari peristiwa wafatnya orang-orang tercinta Rasulullah saw sampai tragedi berdarah-darah yang menjadi sejarah Islam. 

Semua peristiwa tersebut tercatat di tanggal 17 Ramadan. Tanggal dimana Alquran diturunkan atau disebut peristiwa Nuzulul Quran (turunnya Al-Qur’an). Walau di kalangan para ulama terjadi perbedaan pendapat terkait tanggal turunnya Al-Qur'an di bulan Ramadan. Tapi, pendapat yang masyhur adalah 5 ayat turun pertama kali di gua Hira’ melalui malaikat Jibril pada tanggal 17 Ramadan. 

Di tanggal 17 Ramadan, kaum muslimin tidak akan pernah melupakan sebuah perang yang disebut Perang Badar atau biasa disebut Ghazwah Badr al-Kubra. Perang yang menjadi pembeda, menandai awal kejayaan kaum Muslimin. Dengannya Allah memuliakan Islam, meninggikan menaranya, dan mengikis berhala-berhala.

Dalam Perang Badar yang letaknya lebih kurang 145 km arah barat laut dari kota Madinah al-Munawwarah, Nabi saw membawa 313 pasukan. Sedangkan di pihak kaum kafir Quraisy terdapat 950 pasukan. Perbedaan jumlah pasukan tersebut, tidak membuat gentar pasukan Nabi. Allah menguatkan mereka dengan malaikat-malaikat. Hasil Perang Badar yang terjadi hari Jumat, 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah, adalah gugurnya 14  pasukan Muslim. Dari pasukan kafir, yang terbunuh dan tertawan masing-masing 70 orang. Di antara yang terbunuh adalah Abu Jahal.
 

Peristiwa Ali bin Abu Thalib diserang dan mengakibatnya kematian oleh Ibnu Muljam (Ist)


Di tengah kemenangan kaum muslim itu, Sayyidah Ruqayyah (22), putri Rasulullah saw wafat, di tengah-tengah berlangsungnya perang Badar. Saat Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar. 

Tidak hanya tragedi itu, di tanggal 17 Ramadan, istri terdekat Rasulullah saw, Sayyidah Aisyah di usia 67 tahun setelah salat witir, juga wafat. Setelah Sayyidah Aisyah jatuh sakit pada Ramadan 58 Hijriyah. Duka mendalam umat Islam pada saat itu begitu menghujam atas wafatnya Aisyah. 

Tragedi tak kalah menyayat hati sekaligus bagian dari rentetan krisis politik terjadi pada era Khalifah keempat yaitu Ali bin Abu Thalib. Sepupu dan menantu Nabi saw yang ditunjuk para pemberontak di era Utsman bin Affan, untuk menjadi Khalifah keempat. Ali awalnya menolak ditunjuk oleh orang-orang yang memberontak terhadap Khalifah Utsman. Sampai akhirnya, beliau diyakinkan tokoh-tokoh utama lain di Madinah bahwa dirinya yang paling memenuhi syarat dan paling mampu untuk mengembalikan kedamaian di dunia Islam. 

Krisis politik di era Ali mulai menekannya terkait penyelesaian kasus pembunuhan Utsman. Sentimen umum merebak untuk menghukum para pemberontak. Muawiyah bin Abu Sofyan, rival politik Ali, bahkan menekankan bahwa ia takkan bersumpah setia kepada khalifah baru sampai diambil langkah-langkah untuk menghukum orang yang telah membunuh sepupunya. 

Dalam Parable and Politics in Early Islamic History: The Rashidun Caliphs (2010) karya Tayeb El-Hibri, Ali tahu bahwa keputusan untuk menghukum mereka kemungkinan besar akan berakibat pada pembunuhan dirinya karena pemberontak masih menguasai Madinah. Ini dikhawatirkan akan menjerat dunia Islam ke dalam lingkaran pertumpahan darah. 

Hal ini yang akhirnya terjadi. Saat Ali memasuki masjid di Kufa untuk sembahyang Subuh hari Jumat. Di sana, seseorang bernama Abd al-Rahman ibn ‘Amr ibn Muljam, seorang pengikut Khawarij, menerobos kerumunan jamaah salat sambil berteriak, “Penghakiman milik Allah, bukan milik engkau, wahai Ali.”

Ibn Muljam menyabet pedang beracunnya dan tepat mengenai kepala Ali. Meskipun hanya tergores kecil, tapi cukup membuat racunnya bekerja dengan cepat. Dua hari kemudian, Ali wafat pada malam 21 Ramadan 40 Hijriah.

Sebelum pembunuhan Ali, aibnu Muljam bersekongkol dengan 2 orang temannya, al Burak bin Abdillah dan Amru bin Abi Bakr at-Tamimi. Masing-masing berikrar untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Amru bin Ash. Mereka mengikat perjanjian untuk tidak mundur atau terbunuh. Mereka sepakat untuk melakukannya pada tanggal 17 Ramadan tahun 40 Hijriyah. 

Di bulan Ramadan pula, peristiwa terpenting dalam perjalanan negara Republik Indonesia pun terjadi. Diawali dengan beberapa kejadian yang terbilang linier dan saling berhubungan dalam bulan suci penuh berkah dan peristiwa besar yang mengubah wajah dunia. Semuanya, tepat terjadi di bulan Ramadan. (Bersambung)...