Puncak Launching Glintung Kultur, Tanda Kembalinya Jati Diri sebagai Kampung Kuno

Apr 28, 2019 17:41
Penampilan dalam puncak launching Glintung Kultur yang berlangsung begitu meriah dan penuh akan makna. Menjadi pertanda kembalinya Glintung sebagai kampung kuno (Istimewa).
Penampilan dalam puncak launching Glintung Kultur yang berlangsung begitu meriah dan penuh akan makna. Menjadi pertanda kembalinya Glintung sebagai kampung kuno (Istimewa).

MALANGTIMES - Sebelum dikenal sebagai kampung 3G (Glintung Go Green), Kampung Glintung dulunya merupakan sebuah perkampungan tua yang sangat penuh kenangan dan sejarah.

Baca Juga : WORO & The Night Owls Gebrak Maret dengan Album Perdananya

Saat berkunjung ke sana, tak sedikit warga yang bercerita tentang kehangatan Kampung Glintung yang usianya sudah begitu tua. 

Kini, setelah melalui berbagai fase, identitas dan jati diri sebagai kampung kuno itu pun coba dikembalikan.

Salah satunya melalui puncak launching Glintung Kultur yang digelar pada Sabtu (27/4/2019) malam. 

Perhelatan yang digelar pada 20, 26, dan 27 April 2019 itu menjadi sebuah perayaan atas mulai ditemukannya kembali identitas dan jati diri Glintung RW 23 yang berada di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

"Karena selain sukses menggerakkan warga untuk bergiat dalam aktivitas seni budaya tradisional, juga berhasil menggali kembali identitas kampung kuno yang telah tercatat keberadaannya sejak abad ke 9-10 Masehi itu," kata Ketua Panitia Launching Glintung Kultur, Agus Januar Sawer melalui keterangan tertulis yang diterima MalangTIMES, Minggu (28/4/2019).

Dia menyampaikan, dalam rangkaian pertama event Launching Glintung Kultur yang dilaksanakan tanggal 20 April 2019 lalu, telah dikupas dan dikaji berbagai puzzle. 

Mulai dari sejarah Kampung Glintung berdasarkan penelusuran toponimi (kajian nama-nama yang masih terjejak), kajian tekstual (naskah kuno dan prasasti), kajian artefaktual (temuan-temuan artefak kuno), dan kajian ekofaktual (kajian kondisi bentang alam, detil-detil alam, apa-apa yang ada di alam kampung Glintung).

Kegiatan dilanjutkan dengan Event Pentas Launching Glintung Kultur tanggal 26 dan 27 April 2019 dengan menampilkan aneka pentas seni budaya tradisional. 

Karena dalam beberapa bulan terakhir telah dilakukan latihan rutin dan dikembangkan oleh warga.

"Mulai anak-anak, remaja, sampai orang-orang tua, serta beberapa sumbangan partisipasi performance dari seniman-seniman dari kota Malang, dari beberapa kota/kabupaten lain (Tuban, Situbondo, Banyuwangi, Bengakayan), dan beberapa musisi mancanegara (Italia dan Canada)," jelasnya.

Sementara puncak acara Launching Glintung Kultur yang dilaksanakan Sabtu (27/4/2019) tetap terlaksana dengan sukses meskipun telah diwarnai dengan hujan lebat yang mengguyur Kota Malang. 

Sehingga event yang sedianya dimulai jam 19.30 WIB terpaksa mundur sampai jam 21.10 WIB, dan berakhir pada jam 01.30 dini hari.

"Dan memang sempat terjeda beberapa saat karena hujan yang kembali tumpah," urainya.

Tari Bapang menjadi pembuka di malam puncak acara tersebut dan dilanjutkan tari Remo, tari Candi Ayu, yang dimainkan oleh anak-anak dan remaja kampung Glintung dan para anggota karawitan kampung yang didominasi kaum ibu.

Acara dilanjutkan dengan kesenian Jaranan, Jathilan, dan Kucingan yang dimainkan oleh Sanggar Glintung Kultur pimpinan Bpk Soel dan Bpk Budi. 

Kemudian Teater Telulikur digelar oleh kaum remaja kampung, disambung oleh kesenian rampak oleh Sanggar Rampak Rea-Reo Crew, pimpinan Ibu Mukti, warga Glintung.

Kemudiam oleh kelompok Unen-Unen Rangel dari Tuban tampil pada jam 23.30 WIB yang berhasil membawakan beberapa komposisi eksplorasi bunyi-bunyian dengan menggunakan aneka instrumen musik tradisional dari berbagai daerah di nusantara. 

Baca Juga : Film Dokumenter The Beatles 'Get Back' Rilis September 2020

Seperti suling Sumatra, rebab Jawa, karinding Sunda, sape Dayak, dan lain-lain.

Tampilan berikutnya adalah perkawinan alat musik tradisional dengan teknologi musik digital yang dibawakan oleh Ali Gardy Ber3 dari Situbondo. 

Lagu tradisional Sunda Es Lilin dan Man Upon The Hill (Star & Rabbit) dimainkan dengan aransemen yang unik dengan suling.

Selanjutnya dawai Karmawibhangga Borobudur, dipadukan dengan permainan sequencer dan MIDI, ditunjang dengan efek digital pedal board untuk efek loop yang di-mix dengan aplikasi handphone Coustik dan software Logic Pro di MacBook.

"Instrumen dawai Karmawibhangga Borobudur adalah alat musik dawai yang bentuknya diambil dari relief Karmawibhangga yang ada di Candi Borobudur, tahun 2016 yang lalu Ali Gardy membuat kembali alat musik yang berasal dari abad ke-8 tersebut," urai Januar.

Di tengah performance Ali Gardy Ber3 hujan kembali mengguyur, dengan sigap panitia dan warga kampung berupaya melindungi dan mengamankan berbagai alat musik digital di atas panggung dengan payung dan menggelar atap terpal.

"Biar hujan tercurah dari langit, pentas Ali Gardy Ber3 di panggung tetap jalan terus, dengan panggung yang dipenuhi panitia yang memegangi payung dan terpal," ujar dia.

Usai performance Ali Gardy Ber3, panitia berusaha memasang atap terpal dengan lebih rapi, dipasanglah beberapa tiang penyangga dan tali-tali pengikat, sembari menunggu hujan sedikit mereda.

Performance puncak di Launching Glintung Kultur digelar pada jam 00.45 dini hari, berupa pentas kolaborasi musik tradisional, musik modern, tari tradisional, rampak, tari kontemporer, teater gerak, dan puisi narasi histori kampung.

Penampilan tersebut dimainkan oleh The Maspoh (band akustik, dari Malang), Unen-Unen Rangel (dari Tuban), Tejo (pemain harmonika dari Banyuwangi), Sanggar karawitan Seni Tradisi Glintung Kultur, Rampak Rea Reo Crew, Teater Celoteh, Caca Nini Mranggi (penari difable dari Jogja) dan teater anak-anak warga Kampung Glintung, serta puisi narasi histori kampung oleh Dwi Cahyono sejarahwan dan arkeolog dosen Sejarah Universitas Negeri Malang.

Penampilan dengan durasi hampir 30 menit ini menceritakan tentang bagaimana perjalanan sejarah masyarakat Kampung Glintung. 

Terutama dalam mengenali dan menemukan jati diri kampungnya, menghancurkan sifat tirani dalam diri berupa ego, keserakahan, manipulasi, pikiran negatif.

Selain itu memiliki makna mendominasi satu dan lainnya, menuju budaya gotong-royong, saling mengayomi, kompak, bersinergi, dan saling peduli terhadap segenap potensi warga.

"Tirani di dalam diri disimbolkan dengan makhluk-makhluk zombie yang diperankan anak-anak kecil, penghancuran ego disimbolkan dengan memecah balon-balon bertuliskan "TIRANI, EGO, KESERAKAHAN," dll. Gotong-royong dan kekompakan disimbolkan oleh penampilan kesenian rampak," pungkasnya.

Di akhir pertunjukan puncak, para seniman berkolaborasi mengajak ratusan penonton yang hadir menyanyikan bersama lagu nasional "Padamu Negeri", sebagai simbol pengabdian pada negeri dengan mengabdi dan berkarya untuk kampungnya.

Topik
MalangBerita MalangPuncak Launching Glintung KulturKampung Glintung

Berita Lainnya

Berita

Terbaru