Petugas gabungan saat mengevakuasi orok bayi yang ditemukan di perairan Bendungan Sengguruh, Kecamatan Kepanjen (Foto : Polsek Kepanjen for MalangTIMES)

Petugas gabungan saat mengevakuasi orok bayi yang ditemukan di perairan Bendungan Sengguruh, Kecamatan Kepanjen (Foto : Polsek Kepanjen for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Masyarakat sekitar yang tinggal di kawasan Bendungan Sengguruh, kembali digemparkan dengan pristiwa penemuan orok bayi, Rabu (27/3/2019) pagi. Adalah Kamari warga Desa Gampingan Kecamatan Pagak, yang kali pertama menemukan mayat bayi tersebut.

Diperoleh keterangan, sejak pagi hari kakek yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung ini, sudah berangkat menyisiri aliran bendungan sengguruh untuk mencari botol bekas. Tepatnya sekitar pukul 07.30, Kamari mendayung prahu yang ditumpanginya, menuju ke bendungan senguruh yang berada di 200 meter sisi timur pintu turbin.

“Ketika mengais sampah plastik yang ada didekat bego (pengeruk sampah), saya melihat ada mayat bayi mengapung diantara tumpukan sampah,” kata Kamari saat dimintai keterangan polisi.

Mengetahui hal ini, kakek yang kini berusia 63 tahun itu, bergegas mengangkat orok bayi dan dinaikkan ke atas prahu sampan miliknya. Setibanya di pinggir bendungan, saksi bergegas melaporkannya ke satpam setempat, yang kemudian dilanjutkan ke Polsek Kepanjen.

Mendapat laporan, tim gabungan dari kepolisian, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Malang, serta beberapa relawan diterjunkan ke lokasi kejadian. “Saat ini mayat bayi sudah dievakuasi ke RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar) Malang, guna kepentingan penyidikan,” kata Kanit Reskrim Polsek Kepanjen, Iptu Supriyadi.

Kepada MalangTIMES, Supriyadi mengaku jika pihaknya sudah menginstruksikan anggotanya untuk proses penyelidikan. Termasuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), serta menghimpun keterangan dari berbagai saksi. “Kasus ini masih dalam proses lidik, kami masih memburu identitas pelaku dan motif dibalik pembuanagan bayi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kapolsek Kepanjen Kompol Bindriyo menuturkan, orok bayi yang diketahui berjenis kelamin laki-laki ini, diperkirakan merupakan korban aborsi. Hal ini dikuatkan dengan ukurannya yang lebih kecil jika dibandingkan dengan bayi pada umumnya. “Diperkirakan bayi korban aborsi ini sudah meninggal sekitar 6 hingga 7 hari sebelum akhirnya ditemukan oleh saksi,” terang Bindriyo.

Perwira polisi dengan pangkat satu melati dibahu ini menambahkan, jika melihat hasil olah TKP serta pendalaman sementara ini, diduga kuat bayi korban aborsi ini, memang sengaja dibuang ke sungai oleh orang tuanya. “Jika melihat kondisi bendungan sengguruh yang merupakan muara terakhir, kemungkinan besar bayi sengaja dibuang disepanjang aliran DAS Brantas mulai dari wilayah Kota Malang,” ujar Bindriyo.

End of content

No more pages to load