Pupuk Bawang Cafe di Jalan Sudirman nomor 116 Kota Batu merupakan salah satu cafe yang ikut Campaign #byesedotanplastik sejak beberapa bulan lalu (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)

Pupuk Bawang Cafe di Jalan Sudirman nomor 116 Kota Batu merupakan salah satu cafe yang ikut Campaign #byesedotanplastik sejak beberapa bulan lalu (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)



Berantas Sampah Plastik dari Malang  4

MALANGTIMES - Sejumlah resto dan cafe di Malang dan Batu mulai melakukan pengurangan sedotan plastik. Mereka turut serta dalam campaign #byesedotanplastik yang diinisiasi CCFrontier.

Beberapa di antara resto dan cafe itu antara lain Lalapan Aneka Sambal (LAS), Mie Kudusan, HOTPAN House of Teppanyaki, Pilozz Kopi Alas, Seulawah Resort and Cafe, dan Pupuk Bawang Cafe & Dining. Mereka tidak lagi menyediakan sedotan plastik kecuali by request atau jika tamu meminta.

Dika CH, Owner Pupuk Bawang menyatakan bahwa pengurangan sedotan plastik di Pupuk Bawang sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan, pengurangan plastik tidak hanya pada sedotan saja namun juga sterofoam.

"Sebenarnya nggak hanya sedotan aja. Bahkan sedotan ini yang paling terakhir. Kita udah mulai dari packaging kita. Packaging yang tadinya menggunakan plastik untuk makanan yang dibungkus, sekarang benar-benar dari kertas. Dan bahkan kita nggak hanya plastik aja yang kita kurangi, sterofom pun kita kurangi," ungkap Dika.

Bahkan Pupuk Bawang malah sudah mulai mengganti sedotan plastik dengan sedotan besi (stainless).

Namun, karena produsen sedotan besi belum banyak, jadi sedotan plastik tetap diberikan, hanya pada saat customer meminta.

"Memang masalah atau kendala yang kita hadapi adalah mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan sedotan. Sedotan plastik kalau mereka minta baru kita kasih. Jadi memulai dari kitanya dulu yang menghalang," terang Dika.

Lantas mengapa Pupuk Bawang turut bergabung dalam aksi ini? Dika menjelaskan, semuanya berawal dari kekhawatirannya akan banjir yang terjadi di mana-mana di kota-kota di Indonesia.

Mengenai persoalan ini, pihaknya tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Namun melakukan introspeksi dari kebiasaan masyarakat.

"Kita lihat sampah menumpuk padahal pemerintah sudah naruh semacem buldozer untuk membersihkan kali. Akhirnya setelah kita pelajari sampah apa yang susah direcycle, yaitu plastik. Makanya kita dukung  program untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik ini," jelasnya.

Sama halnya dengan Pupuk Bawang, kendala mengenai kebiasaan masyarakat menggunakan sedotan juga ditemui di Mie Kudusan.

Supervisor Mie Kudusan Dian Ayu menyatakan, customer-nya kerap menanyakan sedotan, terlebih pada saat minum jus. Sedotan akan diberikan hanya saat customer meminta. Pihak Mie Kudusan juga menawarkan sedotan stainless.

"Kita sampaikan ke customer bahwa kita sudah mengurangi sampah plastik dengan tidak adanya sedotan di outlet kita. Kalau customer tetap meminta baru kita kasih," jelasnya.

Lebih lanjut Dian menyatakan, Mie Kudusan juga menyiasati kendala ini dengan menawarkan sedotan ramah lingkungan yang stainless kepada customer.

"Kita peduli sama sampah yang semakin menumpuk di Indonesia. Jadi kita mulai menyadarkan semua masyarakat," tandas Dian.

End of content

No more pages to load