Ilustrasi minum dengan sedotan plastik

Ilustrasi minum dengan sedotan plastik



Berantas Sampah Plastik dari Malang  1

MALANGTIMES - Sampah plastik merupakan persoalan yang tak terpecahkan hingga sekarang.

Sudah banyak cara dilakukan termasuk daur ulang sampah namun ternyata hanya bisa membantu mengurangi saja.

Sementara, sampah plastik jumlahnya semakin hari semakin tak terbendung. 

Hal ini tentu butuh komitmen semua pihak terutama pemerintah untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat agar mengurangi penggunaan alat-alat berbahan dasar plastik.

Sebab, menurut data terbaru kota-kota di dunia menghasilkan sampah plastik hingga 1,3 miliar ton setiap tahun.

Menurut perkiraan Bank Dunia, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton pada tahun 2025.

Tak heran jika selama Iebih dari 50 tahun, produksi dan konsumsi plastik global terus meningkat.

Ini berakibat pada timbulnya masalah lingkungan hidup yang sangat serius bagi manusia.  Plastik menjadi salah penyebab pencemaran tanah di perkotaan.

Selain itu, sekitar 10 hingga 20 juta ton sampah plastik mencemari Iautan setiap tahun. Sebuah studi memperkirakan bahwa sekitar 5 triliun partikel plastik dengan berat total 268.940 ton mengambang di Iautan.

Sampah plastik menghasilkan kerugian sekitar 13 miliar dolar setiap tahun, mulai dari kerusakan ekosistem laut hingga wisata aIam. Hewan seperti burung laut, paus, lumba-lumba mati akibat memakan atau terjerat sampah plastik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh kelompok kerja ilmiah di Pusat Nasional UC Santa Barbara telah diterbitkan dalam jurnal Science.

Studi ini menghitung masukan sampah plastik dari tanah ke Iaut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 juta metrik ton sampah plastik mencemari Iautan setiap tahun. Pada tahun 2025, input tahunan diperkirakan mencapai dua kali Iebih besar.

Sampah plastik juga telah menjadi salah satu sumber pencemaran Iaut di Indonesia. Faktanya, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar nomor dua setelah Tiongkok.

Hal itu sinergi dengan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyebut plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik.

Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Untuk itu, kondisi pencemaran Iaut di Indonesia bisa dibilang cukup memprihatinkan. Ancaman krisis sampah plastik di Indonesia sudah di depan mata dan menjadi perhatian dunia.

Salah satu jenis plastik yang memberikan kontribusi cukup besar pada eksistensi sampah berjenis plastik ialah sedotan plastik.

Sedotan plastik kerap berakhir di tempat pembuangan sampah dan mencemari lautan. Setiap ada pembersihan garis pantai, sedotan plastik selalu masuk dalam daftar salah satu sampah lautan yang paling banyak ditemukan.

Mengutip data dari Ocean Conservancy, sampah sedotan plastik sekali pakai merupakan satu dari 10 jenis sampah yang paling sering ditemukan di pantai dan lautan dunia setelah kantong plastik kemasan dan beberapa jenis sampah lainnya.

Data mencengangkan yang dirilis oleh penelitian Divers Clean Action menunjukkan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya diperkirakan mencapai 93,2 juta batang.

Dengan kata lain, jika jutaan batang sedotan itu direntangkan, jaraknya sama seperti perjalanan dari Jakarta ke Meksiko.

"Data dari Divers Clean Action, mereka menyebutkan penggunaan sedotan di Indonesia bulan Desember tahun 2017 itu sekitar 93 juta lebih per hari," ujar Eko Baskoro, Founder Climate Change Frontier (CCF).

Mengenai sedotan plastik, Baskoro menyatakan, sedotan plastik menjadi masalah karena memiliki kandungan polypropylene.

Polypropylene merupakan bahan yang tidak dapat dicerna oleh bumi dan didesain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk dapat hancur dan terurai.

Sekitar 500 hingga 1.000 tahun. Padahal, penggunaannya sendiri hanya dalam waktu 30 sampai 45 menit kemudian dibuang.

"Jadi untuk daur ulang butuh waktu ratusan tahun. Masalahnya di situ sebenarnya," tandas Baskoro.

Tak hanya itu, sedotan plastik juga merugikan kesehatan. Sedotan terbuat dari senyawa polietilen dan mengandung bahan kimia berbahaya yang masuk ke tubuh yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit.

"Mikroplastiknya itu dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Makanya kayak botol air mineral itu nggak boleh sebenarnya setelah habis diisi yang baru karena itu berbahaya," pungkas Baskoro.

Kabar baiknya, sejumlah sejumlah hotel, resto, dan cafe di Kota Malang sudah aware akan permasalahan lingkungan ini dan mulai mengurangi penggunaan sedotan plastik dan mengikuti kampanye #byesedotanplastik yang diinisiasi oleh CCF.

Namun dengan menjamurnya hotel, resto, terlebih cafe di Kota Malang, sepertinya kampanye pengurangan sedotan plastik ini butuh support yang besar. Kalau sudah begini, masihkah Anda tetap menggunakan sedotan plastik?

Bertolak dari hal tersebut MalangTIMES.com secara khusus akan menghadirkan tulisan berseri yang mengulas terkait upaya memberantas sampah plastik. Salah satunya dengan tidak menggunakan sedotan plastik.

Pada seri selanjutnya, kami akan memotret bagaimana hotel dan restoran di Kota Malang melaksanakan komitmen tidak menggunakan sedotan plastik di tempat usahanya.

Apa kendala yang mereka hadapi untuk menjalankan komitmen tersebut? Bagaimana pula Climate Change Frontier (CCF) sebagai lembaga yang menginisiasi gerakan ini mengawal setiap komitmen hotel dan restoran agar tidak menggunakan sedotan plastik?

Bagaimana pula tanggapan masyarakat dan pemerintah terhadap gerakan ini? Simak terus ulasan selanjutnya hanya di MalangTIMES.com

End of content

No more pages to load