Nana Bintan, kreator dan pencipta replika hewan purba yang kini dipasang di Tanam Contong Kepanjen (Nana)

Nana Bintan, kreator dan pencipta replika hewan purba yang kini dipasang di Tanam Contong Kepanjen (Nana)



MALANGTIMES - Sejenak, tengoklah taman kota di wilayah Kepanjen yang dinamakan Contong. Terletak di area keramaian antara Pasar Kepanjen dan Stasiun Kereta Api (KA). Keberadaannya kini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dibandingkan beberapa tahun lalu dengan kondisi yang terlihat tidak terawat dan menghilangkan fungsi taman kota sebagai ruang interaksi dan relaksasi masyarakat.

Taman Contong Kepanjen kini telah disulap oleh kegelisahan masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Nababan. Mereka terjun dengan mandiri mengubah wajah Taman Contong menjadi ruang hijau sekaligus ruang bermain anak-anak. Misalnya, dengan adanya berbagai replika hewan-hewan purba berukuran raksasa. Sebut saja dinosaurus bergigi runcing, kalajengking, gorila, dan naga.

Adanya hewan-hewan purba di Taman Contong tersebut lahir dari tangan seorang warga bernama Nana Bintan (54). Pengurus TPS 3R di Pasar Sumedang, Kepanjen, yang memiliki bakat seni mumpuni dalam memanfaatkan limbah sampah menjadi karya seni.

MalangTIMES berkesempatan bertemu dengan sang maestro lukisan sampah tersebut saat bersama rekan komunitas Nababan Kepanjen terus melakukan penambahan fasilitas di Taman Contong. Tentunya dengan biaya mereka sendiri tanpa adanya campur tangan pemerintah yang seharusnya tersentil dengan geliat masyarakat membangun berbagai fasilitas umum tersebut. Inilah petikan wawancaranya.

Taman Contong Kepanjen kini telah berubah 180 derajat. Bagaimana  awalnya warga bisa bergerak secara sukarela mengubahnya?

Kita melihat Kepanjen sebagai rumah kita bersama. Ada fasilitas umum berupa taman kota yang seharusnya dimaksimalkan fungsinya untuk masyarakat. Tapi, sayangnya taman-taman kota tidak dibuat secara maksimal. Sehingga akhirnya terlihat setelah dibangun dibiarkan begitu saja.

Kondisi tersebut yang membuat kami bergerak untuk mengubah itu. Secara swadaya melalui warga yang sadar mengenai pentingnya ruang bermain dan bernilai lebih. Maka, terciptalah komunitas Nababan Kepanjen. Taman Contong yang jadi salah satu sasaran kita karena letaknya yang berada di Kota Kepanjen.

Peran pemerintah daerah dengan adanya kegiatan Komunitas Nababan?

Sebelum melakukan perubahan wajah taman, kita memang melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang. Setelah ada persetujuan, baru kita bergerak. Dari penambahan fasilitas taman berupa replika hewan purba, kanopi, lampu-lampu sampai pada kegiatan musik setiap malam minggu. Semua dana dari kita-kita untuk itu. Swadaya.

Sedangkan DLH membantu pot tanaman dan tanaman hiasnya. Sedang kalau lainnya tidak ada itu. Padahal saya baca berita di beberapa media, katanya ada anggaran cukup besar untuk taman kota.

Nana Bintan sang kreator replika hewan-hewan purba yang berbahan ban bekas adalah bagian dari wajah masyarakat yang ingin berbuat banyak terhadap kotanya. Walau dengan berbagai keterbatasan yang ada, misalnya dalam menyediakan bahan replika dari berbagai ban bekas sampai pembelian dengan merogoh koceknya sendiri untuk berbagai alat lain. Dia tidak menyatakan kekecewaannya atau merasa rugi dengan karyanya yang kini dinikmati oleh anak-anak di seputaran Kepanjen.

"Tidaklah. Walau tentunya kalau dihitung-hitung ya lumayan besar dananya. Satu replikasi hewan ini (sambil menunjukkan gorilla) menghabiskan sekitar 37 ban bekas. Sekrup juga untuk menempelkannya karena tidak bisa pakai lem. Ini belum catnya yang kadang dari sumbangan warga lainnya," ujar Nana yang terlihat sumringah saat karyanya dinikmati anak-anak.

Jadi, dari mana mendapat bahan-bahan replika tersebut, beli atau bagaimana?

Saya ini kan kerjanya di TPS 3R Sumedang. Banyak limbah sampah dibuang ke sana. Jadi, selain saya mendaur ulang sampah menjadi kompos, saya juga memilah yang bisa dibuat karya seni. Seperti dibuat lukisan dari limbah sampah pasar. Kalau untuk replikasi hewan-hewan ini, kebetulan juga banyak yang buang ke TPS. Jadi saya pilih dan jadikan bahan replika hewan. Tapi kaya sekrup ya beli sendiri, Mas. Begitu juga alat-alat untuk membentuk ban jadi hewan-hewanan kayak ini.

Banyak yang buang ban bekas ke TPS ?

Dulu cukup banyak. Ini dari ban bekas buangan semua yang kini jadi di Taman Contong ini. Tapi sekarang mulai berkurang. Jadi, saya kadang keliling ke bengkel-bengkel dan meminta ban bekas yang tidak mereka pakai. Ibaratnya sekarang saya harus gerilya untuk dapat ban bekas.

Berapa lama pembuatan, seperti replika gorila ini?

Hampir seminggu, tapi tergantung bahannya. Kalau lengkap semua satu minggu selesai. Semua saya yang kerjakan, dari kerangka tubuh hewan sampai selesai. Kalau yang kadal raksasa itu juga sekitar seminggu dan menghabiskan sekitar 40 ban bekas. 

Anak-anak TK yang memanfaatkan replikasi hewan purba dari ban bekas di taman Contong Kepanjen (Nana)

Ada kendala dalam pembuatannya selama ini?

Teknis tidak ada kendala karena memang saya suka dengan bidang ini. Kalau ada kendala, ya di pengadaan bahan saja, seperti ban bekas yang mulai sulit saya dapatkan gratis. 

Nana Bintan juga menyampaikan bahwa proses pembuatan berbagai replikasi hewan dari ukuran raksasa yang bisa ditunggangi anak-anak sampai yang berukuran normal dari bahan dasar ban. Tidak hanya dibuat untuk taman kota saja. Di domisilinya juga sudah mulai marak replikasi-replikasi hewan ciptaannya yang mempercantik perkampungan dan jadi daya tarik tersendiri.
"Kendala tersebut tentunya menjadi persoalan serius, kalau beli kan butuh banyak anggaran lagi," ujarnya.

Nana Bintan bukanlah pengusaha atau orang yang secara materi berlimpah. Pekerjaannya di TPS 3R Sumedang mengolah limbah sampah pasar menjadi kompos tidaklah seberapa. Dirinya juga tidak mendapat pemasukan atau gaji dalam pengabdiannya di TPS 3R Sumedang yang tidak ada lagi pekerja, selain dirinya sendiri.

Tapi, kepeduliannya terhadap limbah sampah khususnya di area Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang tidak surut dengan berbagai keterbatasan yang ada. Bahkan terus menyala agar fasilitas umum seperti taman kota Kepanjen menjadi lebih ramah dan memiliki nilai lebih.

Jadi tidak ada itu sentuhan atau bantuan dari Pemkab Malang?

Saya pribadi tidak pernah mendapatkan bantuan dalam pengadaan replikasi hewan untuk mempercantik taman kota. Walau saya dengar dan baca di media ada anggaran itu. Tapi, ya sudahlah, Mas.

Nana Bintan bersama Komunitas Nababan sebenarnya memiliki rencana. Bukan sekadar menghidupkan Taman Contong saja, tapi taman lainnya yang ada di wilayah Kepanjen. Tapi dengan kemampuan swadaya masyarakat dan komunitasnya tentu menjadi cukup berat bila seluruhnya mereka yang menangani.

"Harapan saya pribadi, taman-taman kota jadi ruang bermain anak-anak. Sekaligus tempat relaksasi dan belajar. Ini di Contong telah berjalan," ungkapnya.

Saatnya Pemkab Malang untuk merangkul komunitas-komunitas yang ada dalam rangka menciptakan ibu kota Kabupaten Malang sebagai ruang ramah anak-anak melalui medium taman kota yang dibangun dengan anggaran puluhan juta rupiah tersebut. Jangan sampai hasil pembangunan hanya terjebak pada fisik semata serta sebagai simbol seremoni saja.

"Kesan masyarakat itu kalau ada lomba seperti Adipura, baru seluruhnya digerakkan dan ada anggaran besar digelontorkan. Tapi setelah selesai, kembali ke asalnya," pungkas Nana Bintan yang juga seorang pemain gitar ini. 
 

 

End of content

No more pages to load