MALANGTIMES - Kasus kekerasan seksual terus terjadi di mana-mana. Bahkan tak ketinggalan di lingkup pendidikan Kota Malang.
Baru-baru ini terkuak kasus pencabulan yang dilakukan seorang guru terhadap 20 siswi SD di SDN Kauman 3.
Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Dr. Hariyono menyebut bahwa hal ini dan kasus-kasus kekerasan seksual lainnya bisa saja merupakan dampak dari tidak diajarkannya Pancasila di sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari awal reformasi.
Dijelaskannya, sebab dalam pancasila terdapat sila pertama mengenai ketuhanan.
Dalam sila ini, terkandung salah satu maknanya bahwa kita sebagai makhluk Tuhan itu tidak boleh semena-mena dengan makhluk lain.
"Lalu kalau kita sekadar melampiaskan seenaknya sendiri apa bedanya kita dengan ayam atau kambing setiap ada kelamin berbeda dinaiki begitu saja?" ujarnya saat ditemui di Kampung Cempluk belum lama ini.
Kemudian sila kedua yakni kemanusiaan. Di mana terkadung makna bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak orang lain.
Lebih lanjut Hariyono menyayangkan bahwa selama ini pelajaran pancasila di sekolah berubah menjadi pendidikan pancasila dan kewarganegaraan.
Hal ini menjadikan substansi kepancasilaan kalah dengan kewargaranegaraan.
"Ironisnya kewarganegaraan yang di sini kita masih belum mampu mengeksplorasi pancasila sebagai epistimologi ilmu politik, termasuk ilmu negara. Dampaknya apa? Kehidupan hubungan relasi masyarakat dan negara itu selalu mengacu pada budaya barat bukan mengacu budaya pancasila," paparnya.
Hal ini menjadi satu tantangan di kalangan kampus khususnya, dalam menjadikan pancasila sebagai epistimologi keilmuan.
Nah, tantangan pancasila bagi generasi milenial saat ini adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai asasi pancasila sesuai dengan konteks yang dipahami oleh anak2 milenial.
"Untuk itulah kita ingin pancasila diajarkan kembali secara bermakna, secara efektif, baik di pendidikan dasar maupun perguruan tinggi," pungkasnya.
