3 Fakta Kelam di Balik Gemerlapnya Industri Fashion

Jan 29, 2019 20:32
Ilustrasi (Foto: Fabrice Monteiro)
Ilustrasi (Foto: Fabrice Monteiro)

MALANGTIMES - Fashion adalah salah satu sarana ekspresi diri kita. Selain itu fashion juga dapat membuat penampilan kita terlihat lebih cantik dan menarik. Namun ternyata, dunia fashion tidak selalu positif dan gemerlapan. Industri fashion ternyata juga menyimpan sisi kelam. Berikut fakta-fakta kelam di balik gemerlapnya industri fashion.

1. Pencemar Lingkungan Terbesar
Industri fashion adalah pencemar lingkungan nomor dua di dunia setelah industri minyak. Tren fast fashion di kota-kota besar turut memperparah kondisi ini. Menurut penelitian, industri fashion menghasilkan emisi gas lebih merusak dibanding industri batubara dan petrokimia.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Jumlah limbah dari aktivitas pembuatan baju, celana, hingga sepatu di seluruh dunia semakin meningkat seiring dengan makin banyaknya juga air bersih terbuang dengan mengikuti tren fashion. Menurut riset, volume air yang dikonsumsi untuk memproduksi pakaian mencapai 79 miliar kubik meter per tahun.

Ellen MacArthur, peneliti yang fokus mempelajari polusi industri fashion memperkirakan limbah bisnis busana sedunia bernilai Rp 500 miliar dolar per tahun.

2. Bunuh Diri Petani Kapas
Akibat dirundung hutang tak berkesudahan sejak 15 tahun lalu, lebih dari 270 ribu petani kapas di dunia mengakhiri hidupnya. India adalah salah satu penghasil kapas yang memasok industri garmen. Fenomena ini berkaitan dengan tingginya harga bibit kapas hasil rekayasa genetik. Sementara penghasilan petani itu terbilang rendah akibat harga kapas yang anjlok.

Untuk menyiasati itu petani terpaksa berhutang dan akhirnya menjebak mereka di lingkaran setan yang tak terputus. Petani yang dilanda stres terkait hutang memutuskan untuk bunuh diri.

Produsen bibit rekayasa genetik Monsato dituding di balik semua ini. Sementara industri fashion dikecam karena diam atas situasi tersebut. Padahal mereka diuntungkan atas pasokan bahan baku murah.

3. Upah Pekerja Garmen
Dalam sebuah dokumenter yang menghebohkan The True Cost mengungkapkan fakta mencengangkan mengenai berapa sebenarnya biaya dalam industri fashion. Film besutan Andrew Morgan ini menunjukkan kondisi hidup buruh pabrik tekstil di Bangladesh, India, dan Kamboja.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Dalam video itu disebutkan bahwa gaji seorang CEO perusahaan fashion dalam setahun bisa setara dengan 10 ribu pekerja garmen di Bangladesh. Sementara buruh garmen di Bangladesh hanya mendapatkan Rp 1 juta perbulan. Sementara ongkos kebutuhan perbulan untuk bisa menghidupi keluarga bisa mencapai Rp 2,4 juta.

Situasi ini tidak hanya di Bangladesh, melainkan Indonesia, Kamboja, atau negara-negara miskin lainnya. Selain itu, dilaporkan bahwa beberapa pabrik penyuplai item Forever 21 memperjakan buruh mereka dengan upah yang sangat rendah di kawasan Los Angeles.

Fakta ini juga dibeberkan Elizabeth Cline dalam bukunya berjudul Overdressed, bahwa buruh garmen di Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Selandia baru juga dieksploitasi dan mendapatkan situasi yang sama.

Topik
Berita MalangIndustri FashionDunia fashion

Berita Lainnya

Berita

Terbaru