Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ekonomi

Bertahan di Tengah Gempuran Persaingan, Para Pengrajin Ini Andalkan Alat Tradisional

Penulis : Luqmanul Hakim - Editor : A Yahya

28 - Jan - 2019, 00:28

Placeholder
Tumpukan gerabah buatan suhartoko yang masih mentah. (foto Luqmanul Hakim/MalangTimes)

MALANGTIMES - Industri kerajinan gerabah masih tumbuh subur di Kota Malang. Salah satunya, pada industri kerajinan tangan Gerabah yang bertempat di kawasan Jl Mayjen Panjahitan. Di kawasan ini ada banyak pengrajin dan juga toko tempat jualan gerabah. 

Terdapat sebanyak 15 pengrajin gerabah yang bisa dikunjungi untuk melihat langsung proses pembuatan gerabah. Mulai dari awal pembuatan,  finishing hingga produk siap dijual.

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Suhartoko salah satunya. Selain pembuat gerabah, ia juga sebagai ketua paguyuban gerebah Betek yang tinggal di Jl.  Mayjend Panjahitan gang 17 A. Ia sudah puluhan tahun menekuni industri gerabah. Hingga saat ini, pembuatan gerabah masih menggunakan sederhana dan bisa dibilang masih kuno.

"Alat ini merupakan peninggalan turun temurun dari buyut saya, tapi sudah saya perbaiki lagi," ujar Suhartoko saat ditemui di rumahnya Minggu (27/01/2019).

Gerabah yang terbuat dari tanah liat tersebut, dibuat dengan berbagai macam bentuk yang menarik dan unik. Ada vas bunga, pot bunga, souvenir, celengan, dan lain - lain.

 Souvenir hasil buatan Suhartoko yang di berikan sebagai contoh, peemintaan dari kampung coklat Pujon (foto Luqmanul Hakim/MalangTimes)

Suhartoko menyebutkan banyak gerabah yang dibuat saat ini sudah menggunakan alat yang modern. Namun, di zaman modern ini ia masih menggunakan alat yang tradisional dan tak mau menggunakan alat yang modern seperti cetakan yang banyak digunakan saat ini. Hal ini dikarenakan Suhartoko memiliki alasan tersendiri yang membuatnya masih tetap menggunakan alat tradisional. "Seninya membuat gerabah itu ada pada saat kita mengayuh, kemudian saat berputar bisa merasakan getarannya terus ada rasa juga saat pake alat ini," papar Suhartoko saar ditanya alasan menggunakan alat tradisional miliknya.

Meskipun menggunakan alat tradisional, dalam sehari minimal pengrajin gerabah mampu menghasilan sedikitnya 100 biji gerabah untuk ukuran kecil hingga tanggung. Selama sebulan, rata - rata setiap pengrajin bisa membuat kurang lebih 4000 biji untuk ukuran tersebut, baik gerabah yang sudah di finishing maupun yang belum karena ads juga permintaan untuk yang masih belum di finishing. 

Untuk ukuran besar, biasanya mereka membutuhkan waktu minimal tiga hari untuk menyelesaikannya. Hal tersebut dikarenakan orderan untuk ukuran kecil sampai tanggung lebih banyak daripada ukuran yang besar serta proses yang lama untuk membuat sebuah gerabah ukuran besar.

Pembuatan gerabah bentuk pot bunga ukuran sedang (foto Luqmanul Hakim/MalangTimes)

Wilayah pemasarannya pun, gerabah buatan paguyuban Gerebah Betek ini sudah dipasarkan sampai ke seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur, bahkan ke pulau Bali. Selain itu juga harga yang diberikan cukup terjangkau. Mulai dari harga Rp 2000,- hingga ratusan ribu tergantung ukuran dan tingkat kesuliatan dalam pembuatannya.

Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19

Dalam pembuatannya, bahan dasar berupa tanah liat yang digunakannya masih mudah untuk didapatkan. Karena masih dalam lingkup wilayah Kabupaten Malang. Namun, ia juga mengatakan bahwa jauhnya tempat pembelian tersebut juga berpengaruh pada pendapatannya. Karena, tanah liat yang ia gunakan dulu hanya ia ambil masih dekat rumahnya, yaitu di tanah yang sekarang menjadi tempat berdirinya Malang Town Square (Matos)  dan Transmart Malang. 

Sekarang ia harus mengambil di daerah Wagir yang cukup jauh dari rumah sekaligus tempat produksi gerabahnya. "Ya dulu ambilnya di sini aja, deket mas, di lahannya Matos, sekarang saya ambilnya di wagir, berat di ongkosnya" ujar Suhartoko.

Namun hal tersebut ia sadari, karena ia melihat kota malang yang sudah berkembang. Ia juga berpendapat kalau tanah liat yang bagus bahan dasar pembuatan gerabah masih bisa dicari di Malang, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Namun, musim hujan yang terus mengguyut Kota Malang sebulan terakhir, membuat proses pengeringan gerabah mentah menjadi terhambat. Karena kondisi cuaca saat ini, ia harus menunggu selama 7 - 10 hari untuk mengeringkan sebuah gerabah yang biasanya hanya butuh waktu 3 hari jika cuaca cerah. Untuk mengatasinya hal tersebut, ia membagi tugas dengan anggota paguyuban Gerabah Betek lainnya.

Selain itu, ia juga sering mendapatkan proyek untuk membuat souvenir oleh - oleh. Biasanya ia didatangi oleh owner atau staff dari tempat wisata atau pemesan lainnya. Kemudian ia diminta membuat souvenir sesuai dengan ketentuan yang sudah disepakati yang kemudian ia berikan hasilnya.  Jika cocok, maka ia akan menduplikasi souvenir tersebut sebanyak pesanan yang diberikan, seperti permintaan souvenir dari Kampung Coklat daerah Pujon Kabupaten Malang yang saat ini sedang ia garap. 

 


Topik

Ekonomi malang berita-malang kerajinan Industri-kerajinan-gerabah kerajinan-gerabah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Luqmanul Hakim

Editor

A Yahya