Tim Ekspedisi Malang Purba dari MalangTIMES mengambil gambar dengan latar belakang bebatuan yang mengandung mineral dan termasuk di dalamnya emas primer di salah satu pebukitan di Malang Selatan.

Tim Ekspedisi Malang Purba dari MalangTIMES mengambil gambar dengan latar belakang bebatuan yang mengandung mineral dan termasuk di dalamnya emas primer di salah satu pebukitan di Malang Selatan.



Ekspedisi Malang Purba  5

MALANGTIMES - Tahukah Anda? Tanah Malang dan sekitarnya ini ternyata memiliki banyak sekali kekayaan alam yang terpendam. Kekayaan alam itu tersebar mulai dari Kota Malang, Batu, hingga Kabupaten Malang.

Munculnya kekayaan alam ini tak lepas dari asal-usul terbentuknya Kota Malang, Batu, dan Kabupaten Malang. Lantas, kekayaan alam apa sajakah itu?

Sebelumnya, Tim Ekspedisi Malang Purba yang terdiri MalangTIMES dan FMIPA UB (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya) telah mengungkap sejarah sains terbentuknya Kota Malang, Batu, dan Kabupaten Malang. Sejarah ini sementara masih belum ditulis di literasi manapun.

Dalam edisi sebelum-sebelumnya, diungkapkan bahwa Kota Malang terbentuk dari hasil lahar gunung Arjuno dan Welirang. Kota Malang awalnya adalah dataran rendah yang secara terus menerus ditumpuki lahar dari erupsi Gunung Arjuno, akhirnya menjadi dataran tinggi.

Sedangkan Kota Batu mendapatkan lahar dari lima gunung berapi, yakni Gunung Arjuno dan Gunung Welirang dari sebelah timur, serta Gunung Panderman, Gunung Kawi, dan Gunung Butak dari sebelah barat kota Batu.

Sementara itu, beberapa kecamatan di Malang Selatan seperti Dampit, Pagak, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Gedangan, Bantur, Ampelgading, dan Tirtoyudo dulunya adalah laut yang kemudian mengalami pengangkatan. Dalam lautan tersebut juga terdapat deretan gunung api.

Asal-usul itulah yang menjadikan kekayaan alam di Kota Malang, Batu, dan Kabupaten Malang melimpah. Nah, pada edisi kali ini, kami akan menguak kekayaan alam apa saja yang terpendam di Kota Malang, Batu, dan Kabupaten Malang.

Seperti yang diketahui, abu vulkanik gunung api menjadikan suatu daerah menjadi subur. Untuk itulah tanah Kota Malang dan Batu begitu subur. Maka dari itu juga, buah-buahannya lebih enak dibandingkan dengan di Malang Selatan ataupun daerah lainnya di Jawa Timur.

"Salah satu konsekuensi dari daerah gunung api itu mesti subur. Karena abu vulkanik itu nantinya akan menjadi tanah yang itu sebagai pupuk secara otomatis," ujar Pakar Geologi Drs. Adi Susilo, M.Si., Ph.D.

Selain itu, daerah gunung api juga memiliki kualitas air yang baik. Daerah gunung api adalah daerah yang tepat untuk dilakukan eksploitasi air. Sebab, pasir dan batuannya mengandung mineral yang diperlukan di dalam air dan juga di dalam tubuh manusia.

Daerah yang terkena dampak gunung api, yakni Malang dan Batu, menurut Adi, mengandung tambang utama pasir. Tentunya, yang dekat dengan gunung api kualitas pasirnya sangat bagus. Contohnya pasir di Lumajang dan Dampit. Tak heran jika harganya mahal.

"Karena tidak ada campuran-campuran dari pasir sungai," imbuh Adi.

Namun, ada pula pasir-pasir khusus. "Tambang utamanya adalah pasir. Tapi ada juga pasir-pasir yang khusus. Pasir yang seperti arang. Ada di tempat-tempat tertentu," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) tersebut.

Pasir arang sangat berpotensi untuk ekspor. Menurut penjelasan Adi, pasir arang itu adalah pasir yang sangat bisa menyerap air. Di Singapura, karena jarang ada lahan kosong, tumbuhan-tumbuhan ditempelkan begitu saja ke bangunan. Kemudian akar-akarnya ke pasir arang itu. Sehingga mereka mendapat air yang cukup.

Tentunya itu sangat berprospek untuk meningkatkan ekonomi warga. Lantas di mana letak pasir arang itu? "Ada di daerah Timur menjelang Semeru sana," ujar Adi.

Lebih lanjut ia bercerita bahwa dulu pasir arang sempat akan diekspor. Akan tetapi perizinannya cukup rumit.

Yang sudah pasti ada di wilayah gunung api adalah batu hitam. "Batu yang terdapat di Malang Raya banyak yang namanya batuan andesit," ujar Adi

Batuan andesit banyak digunakan untuk industri cobek dan patung. Sebab, batuan andesit kalah dengan tatah yang digunakan untuk membentuk patung.

Sekarang beralih ke wilayah selatan. Ada pasir yang kandungan gizinya cukup tinggi, yakni pasir besi. Cirinya, kalau kita ambil sedikit saja akan terasa berat.

Pasir besi adalah hancuran dari batuan-batuan yang banyak mengandung mineral besi. Hancuran itu terbawa sungai, kemudian terendapkan ke laut dan kembali ke pantai.

Pasir besi banyak ada di daerah Jolosutro. Di daerah Selatan tentu juga ada namun Adi tidak mau memberitahukan.

"Kayaknya sudah dieksploitasi dan saya nggak berani ngomong karena sudah masuk wilayah-wilayah sensitif," lanjutnya.

Hal yang lain yang menarik di selatan, yakni dengan adanya gunung api ataupun bekas gunung api, itu adalah salah satu indikasi adanya logam mulia, yakni emas. Emas tersebut akan muncul di sela-sela batuan beku atau batuan vulkanik. Dan emasnya adalah emas primer.

Emas primer keluar bersamaan dengan magma dari gunung api. Bentuknya butir-butir yang berada di urat-urat batuan beku.

"Kalau di Selatan itu gunungnya sudah mati sehingga seandainya bisa membongkar gunung itu akan ada banyak emas," sambung Adi.

Proses terbentuknya emas primer sendiri akan mengikuti keluarnya magma. Ia ada di sela-selanya batuan beku atau batuan vulkanik. Jadi kalau orang mengatakan tambang emas di sungai itu berarti emasnya adalah emas sekunder. "Ya, zona selatan itu daerah yang sebenarnya sangat kaya," tambah dia.

Berlimpahnya emas di Malang Selatan juga pernah dicatatkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya yang berjudul Arok Dedes. Dalam buku tersebut Pramoedya menceritakan, Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung mempunyai pendulangan emas tersembunyi di daerah bernama Kali Kanta.

Lokasi Kali Kanta ini letaknya berada di selatan. Diceritakan, untuk menembus Kali Kanta harus melewati bebatuan perbukitan dan hutan yang luas. Pendulangan emasnya ini ia sembunyikan dari Kediri, pemerintah pusat.

Untuk menjaga kerahasiaan tambang emasnya, Tunggul Ametung sampai memberlakukan aturan keji. Yakni para pekerja  lidahnya dipotong agar tak bisa bicara.

Emas itu ditambang untuk membiayai pergerakan Tunggul Ametung mengalahkan Kediri. Sayangnya, sebelum ambisi Tunggul Ametung berhasil, dia dikalahkan Arok. Tambang emasnya juga dikuasai Arok. Dan pada akhirnya Arok lah yang menumbangkan Kediri dan ia berhasil mendirikan Kerajaan Singhasari berpusat di Kutaraja.

Jika cerita Pramoedya itu memang benar adanya, tentu akan membuat tamparan sangat memalukan bagi pemerintahan saat ini. Betapa tidak! Tunggul Ametung yang hidup sembilan abad lalu sudah mampu mengeksploitasi emas, sedangkan saat ini kita baru sebatas mencari dimana titik tambang emas yang ada di Kabupaten Malang.

End of content

No more pages to load