Dekan FMIPA UB Drs Adi Susilo M.Si, Ph.D (tengah) General Manager MalangTIMES Lazuardi Firdaus (kanan) saat melakukan Ekspedisi Malang Purba beberapa waktu lalu.

Dekan FMIPA UB Drs Adi Susilo M.Si, Ph.D (tengah) General Manager MalangTIMES Lazuardi Firdaus (kanan) saat melakukan Ekspedisi Malang Purba beberapa waktu lalu.



Ekspedisi Malang Purba  3

MALANGTIMES - Kenapa Kota Batu, Pujon, dan Ngantang lebih tinggi dibandingkan Kota Malang dan sekitarnya? Ekspedisi Malang Purba yang digelar MALANGTIMES dan FMIPA UB (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya) akan mengungkap sejarah sains terbentuknya kota yang jadi salah satu jujugan wisata di Indonesia tersebut.

Sejarah terbentuknya Kota Malang telah diungkap dalam "Kota Malang Lahir dari Lahar Letusan Gunung Arjuna" seri kedua di MalangTIMES, media online berjejaring terbesar di Indonesia di bawah grup Jatim Times Network. Kota Malang yang dulunya merupakan dataran rendah, kini berubah menjadi dataran tinggi karena endapan lahar dari Gunung Arjuno dan Welirang.

Sama halnya dengan Kota Malang, Kota Batu awalnya juga merupakan dataran rendah. Namun, karena seringnya menjadi tempat tujuan akhir lahar ketika gunung api meletus, maka lama-kelamaan Kota Batu dan sekitarnya menjadi tinggi. Bahkan saat ini ketinggiannya melebihi Kota Malang.

Kota Batu dan Pujon lebih tinggi dari Kota Malang karena sumber laharnya lebih banyak. Kota Malang hanya mendapatkan lahar dari letusan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Sedangkan Kota Batu mendapatkan lahar dari lima gunung berapi saat itu.

Selain mendapatkan lahar dari Gunung Arjuno dan Gunung Welirang dari sebelah timur, Kota Batu juga mendapatkan lahar dari gunung-gunung lainnya seperti Gunung Panderman, Gunung Kawi, dan Gunung Butak yang lokasinya ada di sebelah barat kota.

Jadi, ketika lima gunung tersebut erupsi, laharnya lari ke Kota Batu dan Pujon. Tumpukan lahar yang terus-menerus selama jutaan tahun itulah yang akhirnya membentuk kota wisata ini.

Pakar Geologi Drs. Adi Susilo, M.Si, Ph.D menjelaskan, selain karena banyaknya gunung berapi yang menyumbangkan laharnya, lokasi Kota Batu juga lebih dekat dengan sumber lahar itu sendiri.

Kedekatan Kota Batu dengan gunung berapi (sumber lahar) bisa dilihat dari adanya dua sumber air panas di daerah tersebut. Dia lantas menyebutkan Sumber Air Panas Songgoriti dan Cangar. "Kalau Songgoriti itu sumber panasnya dari Gunung Kawi, sedangkan Cangar berasal dari Gunung Arjuno," terang Adi

Pria yang juga menjadi Dekan FMIPA UB tersebut menyatakan, gunung-gunung yang mengitari Malang ini usianya masih terbilang muda. Yakni baru berusia sekitaran lima jutaan. Karena usianya masih muda, maka endapan lahar dari gunung-gunung api di Malang masih belum padat.

Adi memaparkan, saat ini penyumbang lahar di Kota Batu dan Pujon yang masih aktif hanya Gunung Arjuna dan Gunung Welirang. Seperti halnya gunung berapi aktif lainnya, sewaktu-waktu dua gunung tersebut bisa erupsi.

Sedangkan dua gunung lainnya sudah tidak aktif, yakni Gunung Butak dan Gunung Panderman. Di dalam dua gunung tersebut sudah tidak terdapat magma lagi.

Sebelum mati seperti saat ini, urai Adi, setiap gunung yang muncul ke permukaan pasti gunung berapi. Karena kemunculannya ke bumi didorong oleh magma. Jadi, pada masa lalu, Panderman dan Butak juga kerap meletus dan laharnya mengalir ke Kota Batu sekitarnya.

Satu gunung lainnya, yakni Gunung Kawi kondisinya sedang tidur. Berbeda dengan Gunung Butak dan Gunung Panderman yang sangat sulit aktif, Gunung Kawi ini sewaktu-waktu bisa aktif lagi. Karena di dalam Gunung Kawi masih terdapat magma, walau kondisinya saat ini sedang tidur.

Adi memaparkan, tanda-tanda bahwa gunung tidur itu adalah adanya gumpalan di atasnya walau tidak ada kawahnya. Sedangkan gunung aktif adalah ada kawah yang berisi lahar. Dan tanda gunung mati adalah tidak ada kawah dan tidak adanya gumpalan di atas gunung.

Karena berasal dari lahar lima gunung api, lapisan tanah Kota Batu yang di atas tidak akan tebal, hanya beberapa meter saja. Dan itu adalah hasil lapukan dari batuan-batuan vulkanik dulu. Kemudian jadilah tanah yang subur. "Kenapa subur? Karena abu vulkanik itu sangat subur," tandasnya.

Karena abu vulkanik menciptakan tanah yang subur, hal ini juga berdampak pada rasa buah-buahan di daerah Batu dan kawasan gunung api. Ini adalah salah satu ciri khas dari wilayah yang dibentuk dari lahar gunung api.

"Buah-buahan di daerah gunung api itu mesti akan lebih enak dibandingkan buah-buah di daerah kapur," tandasnya.

Selain itu, keuntungan yang lain adalah kualitas airnya yang tinggi. Daerah gunung api adalah daerah yang tepat untuk dilakukan eksploitasi air. Sebab, pasir dan bantuannya mengandung mineral yang diperlukan di dalam air mineral dan juga di dalam tubuh manusia.

Namun, bukan berarti wilayah gunung api selalu untung dan tak pernah rugi. Ada pula kerugian yang cukup berbahaya, salah satunya adalah kondisi tanahnya itu. Lantaran terbentuk dari lahar gunung api yang masih muda, maka tanah di Kota Batu tidak akan padat. Banyaknya penggundulan akan membuat wilayah Kota Batu rawan longsor dan banyak mata air yang mati.

"Sekarang tumbuh-tumbuhan itu banyak yang sudah dipotong, reboisasi, jadi resapan yang ke tanah itu sangat berkurang sehingga tidak mengherankan daerah Batu itu sudah banyak mata air-mata air yang sudah mati," tandasnya.

Nah, karena resapan air sudah berkurang, air hujan tidak akan bisa maksimal meresap tapi malah menggerus tanah dan terjadi erosi. Bagian atas tanah terbawa air sampai air menghitam dan masuk ke Sungai Brantas.

"Coba kita lihat, Brantas itu airnya selalu coklat karena itu membawa lumpur-lumpur dari atas," imbuh Adi.

Seperti halnya di Kota Malang, untuk membuktikan bahwa tanah Batu mengandung pasir dari abu vulkanik adalah dengan menggalinya pada kedalaman 13-17 meter. Lantaran kayanya pasir di Kota Batu, banyak aktivitas penambangan pasir di sana.

Ada sedikit cerita dulu pada tahun 2009, terdapat kejadian rumah ambles yang dilaporkan kepada Adi. Menurut cerita dari Adi, hal itu karena terdapat penambangan pasir di sekitar rumah warga.

"Ada sebuah kejadian tahun 2009 itu dulu saya dilapori ada rumah ambles. Setelah kita teliti ternyata dulu orang menambang pasir itu bukan di sungai atau di tempat yang lain, tapi orang itu kayak menggali sumur," paparnya.

Nah, penambang itu mengambil pasir pada kedalaman 10 meter. Kemudian disisakan 4 meter yang tidak diambil sebagai penyangga beban bangunan di atas. Nah, dengan banyaknya beban di atas, tidak heran banyak wilayah di Kota Batu yang rentan ambles. Terlebih lagi pembangunan di Kota Batu begitu masif.

"Karena nggak kuat. Sementara beban di atas itu sudah berat. Kalau tidak ada bebannya tidak masalah. Ketika beban sudah mulai berat ini yang potensi," ungkapnya.

Daerah mana saja itu? Sayangnya Adi enggan mengatakannya. "Nanti menakutkan yang ada di daerah sana," pungkasnya.

End of content

No more pages to load