Bhagavan Sri Ramana Maharshi (foto: fullyoga.wordpress.com)

Bhagavan Sri Ramana Maharshi (foto: fullyoga.wordpress.com)



MALANGTIMES - Pertapaan atau tapa berasal dari akar kata tap yang berarti energi. Tapa adalah mengendalikan energi agar terpusat sehingga dapat digunakan untuk suatu tujuan. Ada berbagai alasan seseorang untuk bertapa dan memilih hidup menyendiri. Alasannya biasanya dikaitkan dengan aktivitas spiritual.

Fenomena pertapa sendiri tak hanya terjadi di Indonesia saja. Sejak dulu di berbagai belahan dunia, sudah banyak orang-orang yang memutuskan dirinya untuk menjadi pertapa. Namun beberapa aktivitas pertapaan itu tak melulu berkaitan dengan keyakinan aliran tertentu dan kebutuhan spiritual. Ada pula yang memilih hidup menyendiri tanpa alasan yang jelas.

Berikut ini 7 kisah para pertapa nyentrik di dunia.

1. Mbah Fanani, Pertapa dari Dieng, Wonosobo, Jawa tengah.
Mbah Fanani telah menghabiskan waktunya untuk bertapa selama 20 tahun di pinggir jalan di daerah Dieng. Tepatnya di jalan yang menghubungkan Wonosobo dan Banjarnegara dalam tenda biru depan rumah warga.

Pria yang kabarnya sudah berusia lebih dari 100 tahun ini dulunya bertapa di dalam gua kawasan Dieng. Kemudian dia berjalan merangkak pindah ke depan rumah penduduk.

Kabarnya dulu saat pertama datang ke Dieng, Mbah Fanani masih suka diajak bicara dan kerap marah jika ada warga yang datang kepadanya dan meminta nomor undian untuk berjudi. Kini ia hanya menggeleng dan mengangguk saja saat diajak bicara.

Mbah Fanani pernah berkata bahwa ia akan selesai bertapa sampai ada kapal yang menjemputnya. Pada 12 April 2017 kemarin, belasan orang menjemput Mbah Fanani untuk menuju Indramayu.

Banyak yang beranggapan bahwa kepindahannya mengandung banyak makna. Salah satunya sebagai pertanda akan terjadi suatu hal. Dalam pertapaannya, Mbah Fanani selalu memanjatkan doa untuk daerah yang disinggahinya.

2. Gregory Smith, Pertapa Akademisi dari Australia
Pertapa yang satu ini adalah pertapa yang cerdas dalam bidang akademik. Gregory Smith merupakan pertapa asal Australia. Ia adalah seorang akademisi School of Arts and Social Science di Southern Cross University, Australia.

Dalam satu wawancara, Smith mengaku ia menghabiskan 10 tahun di hutan untuk bertapa. Menurutnya, hutan lah yang benar-benar tulus kepadanya di saat ia tak punya tempat lain untuk dituju. Sebelum menjadi akademisi seperti saat ini, Smith menghabiskan masa kecil di panti asuhan dan menjadi tunawisma saat masa tuanya.

3. Christopher Thomas Knight, Pertapa dari Amerika Serikat
Christopher Knight yang juga dikenal sebagai North Pond Hermit, adalah seorang mantan pertapa dan pencuri yang hidup hampir tanpa kontak manusia selama 27 tahun antara tahun 1986 dan 2013 di daerah North Pond di Danau Belgrade di Maine. Ia bertahan hidup dengan menjadi seorang pertapa selama 27 tahun dengan mencuri makanan dari pemukiman warga atau perkemahan para pendaki.

Christopher sebenarnya tak punya rencana apapun untuk menetap dalam hutan hingga tiba-tiba ia menjadi pertapa yang tak banyak bicara. Hanya sesekali saja ia mengucap kata "Hai" kepada pendaki yang ia temui. Hal tragis pernah dialami Christopher saat ia ditangkap pada tahun 2013. Dua tahun kemudian ia dibebaskan karena dianggap memiliki kelainan mental.

4. Bhagavan Sri Ramana Maharshi, Pertapa dari India
Awal mulanya, ketika masih kecil, Bhagavan Sri Ramana Maharshi pernah sakit dan dokter pun tak bisa mengobati penyakitnya. Kemudian ia berpikir untuk mencari penyembuhannya sendiri yaitu dengan cara bertapa dan menggunakan aliran spiritual.

Ia kemudian tinggal di gua sebagai tempatnya bertapa. Ia juga sempat berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Salah satu tempat yang paling lama ia tinggali adalah gua Virupaksha di India. Tercatat ia tinggal di gua ini selama 17 tahun.

5. Mbah Kijem, Pertapa dari Yogyakarta
Perempuan berusia sekitar 64 tahun ini memilih untuk menyendiri dan mencari ketenangan di goa dekat tebing-tebing curam. Meskipun telah dijemput oleh anak-anaknya, Mbah Sakijem tetap bersikukuh untuk tinggal di Gua Langse, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Tempatnya bertapa adalah tempat yang jarang dilalui masyarakat karena berada di tengah tebing yang langsung menghadap ke pantai. Lokasinya yang curam membuat tak sembarang orang berani ke sana.

Mbah Sakijem telah tinggal dan menjadi pertapa di gua tersebut selama 48 tahun. Menurut Mbah, hatinya tentram setelah tinggal di gua sehingga ia tak ingin kembali ke rumah walaupun sudah dijemput oleh anak-anaknya. Gua yang Mbah tempati juga disebut-sebut sebagai tempat pertapaan dengan nilai-nilai spiritual tinggi terutama pada saat bulan Suro.

6. Prahlad Jani, Pertapa Sadhu dari India
Bernafas, makan, dan minum adalah beberapa cara manusia untuk bertahan hidup. Namun jika salah satu kebutuhan tersebut tak terpenuhi, akankah manusia tetap dapat hidup? Rasa-rasanya tidak.

Namun hal ini seolah ditepis oleh Prahlad Jani. Pertapa asal India ini meninggalkan rumah pada usia 7 tahun dan hidup sebagai pengembara Sadhu atau orang suci yang mencari ilmu spiritual. Para Sadhu hidup menyendiri demi mencapai moksa.

Jani memulai hidup sebagai seorang pertapa hingga usianya memasuki 87 tahun. Hebatnya, ia dapat tahan tidak makan dan minum selama 70 tahun. Menurutnya, saat perjalanan bertapa, ia bertemu dengan tiga Dewi yang menuangkan ramuan gaib melalui langit-langit mulutnya. Hingga saat itu ia tak pernah mengkhawatirkan makanan dan minuman lagi.

7. Emak Khing, Pertapa Omahan dari Rembang, Banten, Jawa Tengah
Seorang perempuan tua asal Rembang, Banten, Jawa Tengah telah memutuskan untuk menjadi pertapa pada 1953 sampai saat ini. Lie Khing Nio atau biasa dipanggil Emak Khing menyebut dirinya sebagai pertapa omahan atau orang yang bertapa di rumah. Menjadi seorang pertapa adalah warisan turun-temurun dari keluarganya.

Ia bersumpah untuk tidak menikah, makan daging, dan selalu puasa dalam waktu yang cukup lama yaitu sejak jam 12 siang sampai matahari terbit. Sebagai seorang pertapa ia sering mengobati orang sakit dan tidak pernah menerima imbalan apapun.

Walaupun tak pernah mengharapkan imbalan, selalu ada saja yang memberi Emak Khing makanan. Meskipun Emak Khing dikabarkan telah meninggal pada tahun 2013, jasanya tetap dikenang oleh masyarakat sekitar yang telah dibantu olehnya.

End of content

No more pages to load