JATIMTIMES - Tanggal 9 Januari 2026 bertepatan dengan Jumat Legi dalam penanggalan Jawa. Hari ini masuk Wuku Marakèh dengan neptu 11, serta bersamaan dengan 19 Rejeb 1959 Jawa dan 19 Rajab 1447 Hijriah.
Perpaduan weton dan wuku ini menggambarkan hari yang sarat akan peluang, terutama dalam urusan rezeki. Namun, mengendalikan emosi perlu diperhatikan agar kesempatan baik tidak berubah menjadi persoalan.
Baca Juga : Wabup Sidoarjo Bersama Gubernur Jatim dan Forkopimda Panen Raya Jagung Kuartal I 2026
Jumat Legi dikenal sebagai weton dengan karakter tegas dan cenderung keras. Wataknya mudah tersulut emosi, tetapi dalam primbon Jawa disebut memiliki kelancaran sandang dan pangan. Rezeki jarang benar-benar terputus, meski jalan hidupnya kerap diwarnai ujian batin.
Di balik sikap keras tersebut, Jumat Legi menyimpan daya tahan hidup yang kuat. Selama mampu menahan amarah, alur rezeki diyakini tetap mengalir stabil.
Dalam hitungan pangarasan, Jumat Legi berada pada Aras Tuding. Watak ini menandakan sering mendapat sorotan. Dalam sisi positif, peluang untuk dipercaya mengemban posisi penting cukup terbuka, baik dalam lingkungan kerja maupun organisasi sosial.
Namun Aras Tuding juga membawa konsekuensi. Sorotan yang datang bisa berubah menjadi tudingan jika langkah kurang hati-hati. Karena itu, menjaga sikap dan tutur kata menjadi kunci agar nama baik tetap terjaga.
Sementara itu, Pancasuda Jumat Legi berada pada Satriya Wirang. Maknanya, budi pekerti tergolong luhur, tetapi kerap menghadapi situasi yang memalukan atau menjatuhkan wibawa. Kondisi ini menuntut keteguhan hati agar tidak mudah patah oleh penilaian orang lain.
Wuku Marakèh dilambangkan oleh Dewa Bathara Surènggana. Wataknya mencerminkan sikap menerima garis hidup dengan lapang dada. Gedhong dipanggul melambangkan kemampuan menunjukkan anugerah yang dimiliki, meski tidak selalu tampil mencolok.
Simbol pohon trengguli menggambarkan pribadi yang kurang menyukai keramaian dan memiliki cara pandang berbeda dari kebanyakan orang. Umbul-umbul terbalik menandakan keberuntungan yang sejatinya sudah dekat, meski sering datang tanpa disadari.
Baca Juga : Program MBG di Kabupaten Malang Masih Sasar 43 Persen Penerima Manfaat
Gambaran bunga setaman yang dirahasiakan menunjukkan sifat hemat dan tertutup, namun tetap manis dalam bertutur. Ada peringatan agar berhati-hati menerima masukan, karena tidak semua nasihat membawa arah yang tepat. Lambang bunga layu juga menjadi pengingat untuk waspada terhadap risiko, terutama yang berkaitan dengan air.
Dalam tujuh hari Wuku Marakèh, terdapat pantangan untuk tidak bepergian jauh ke arah barat laut jika menyangkut urusan penting.
Kabar baiknya, Jumat Legi di Wuku Marakèh dinilai sebagai hari yang tepat untuk aktivitas yang berkaitan dengan perairan. Primbon Jawa menyebut hari ini baik untuk memasang perangkap ikan, seperti rajeg, lubang, seser, maupun jala. Usaha yang dilakukan dengan ketekunan dipercaya berpeluang memberi hasil.
Dalam urusan pekerjaan, Jumat Legi cocok menekuni bidang konsultasi, pengajaran, pertanian, peternakan, hingga wirausaha yang bersentuhan dengan alam dan lingkungan.
Untuk urusan asmara, Jumat Legi disebut selaras dengan weton berneptu 7, 12, atau 17, seperti Selasa Pon, Rabu Kliwon, Kamis Legi, atau Minggu Kliwon. Sementara itu, pertemuan dengan neptu 11 disarankan lebih berhati-hati karena rawan memicu gesekan.
