Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Melihat Jawa dari Kereta Api: Dari Weltevreden ke Surabaya Lama

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

09 - Jan - 2026, 09:19

Placeholder
Ilustrasi realis pembangunan rel kereta api di Jawa pada akhir abad ke-19. Pekerja pribumi terlihat mengangkat batu dan kayu di bawah pengawasan mandor Eropa dalam proyek infrastruktur kolonial Hindia Belanda. Pemandangan semacam ini dicatat dan disaksikan langsung oleh jurnalis Amerika Frank G. Carpenter dalam perjalanan kereta api melintasi Jawa, yang ia gambarkan sebagai bagian dari kemajuan transportasi untuk mendukung distribusi hasil perkebunan dan aktivitas ekonomi kolonial.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada penghujung abad ke-19, ketika Eropa dilanda gairah kemajuan dengan mesin uap, rel besi, dan kapal baja sebagai simbol peradaban, Jawa tampil di mata dunia sebagai taman yang telah dijinakkan. Ia bukan lagi pulau eksotis di tepi khatulistiwa, melainkan laboratorium kolonial tempat Belanda memamerkan keberhasilannya menata dunia tropis dengan logika Eropa. Pada dekade 1890-an, seorang jurnalis Amerika bernama Frank G. Carpenter menulis kesaksiannya tentang dunia yang baru itu.

Carpenter bukan sejarawan dan bukan pula pejabat kolonial. Ia adalah travel writer kelas dunia yang menjelajah Asia untuk menulis surat-surat perjalanan bagi pembaca Amerika. Namun catatannya tentang Jawa tidak sekadar laporan perjalanan, melainkan potret tentang bagaimana dunia Barat memandang Timur sebagai ruang keteraturan yang eksotis. Sebuah imajinasi kolonial yang menampilkan “modernitas tropis” sebagai bukti keberhasilan sebuah imperium.

Baca Juga : Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Momen Tepat Mengobati Hati dan Memperbanyak Tobat di Bulan Rajab

Carpenter tiba di Batavia (kini Jakarta), menumpang kapal uap yang berlayar dari Singapura. Dari sana ia menaiki kereta menuju Surabaya, melintasi jantung pulau yang digambarkannya “seindah taman Central Park yang diperluas sebesar negara bagian New York.” Dalam catatan yang ditulisnya di Stasiun Maos, ia menulis dengan penuh kekaguman:

“Tidak ada negeri seindah ini. Semua terawat, teratur, dan bersih. Jawa adalah taman raksasa di bawah tangan Belanda.”

Namun di balik kekaguman itu tersembunyi pertanyaan yang tak ia sadari: taman bagi siapa, dan kerja siapa yang menumbuhkannya?

Carpenter

Weltevreden: Kota yang Diciptakan untuk Merasa Eropa

Ketika Carpenter tiba di Batavia, kota itu telah lama berubah. Batavia lama yang dahulu disebut Oud Batavia telah ditinggalkan akibat wabah malaria. Pemerintah kolonial memindahkan pusat administrasi ke dataran yang lebih tinggi dan lebih sehat, lalu menamainya Weltevreden, yang berarti “puas sepenuhnya”. Di tempat inilah Eropa membangun dirinya kembali di tanah tropis.

Weltevreden adalah kota impian kolonial: jalan-jalan lebar, kanal yang teratur, taman dengan pohon-pohon flamboyan, rumah besar berpilar putih dengan veranda menghadap taman. Setiap detail dirancang untuk menciptakan kesan “Eropa di Timur.”
Dalam pandangan Carpenter, Weltevreden adalah bukti bahwa Barat dapat menundukkan tropis tanpa kehilangan moralitas modernnya. Ia menulis tentang stasiun, hotel, dan kantor-kantor yang “berdinding putih dan beratap merah,” serta “aroma jeruk nipis” yang menandai kebersihan setelah musim hujan.

Namun bagi sejarawan, arsitektur Weltevreden adalah pernyataan kuasa. Pembangunan kota ini menandai upaya Belanda menciptakan ruang moral kolonial, tempat kebersihan, keteraturan, dan warna putih dijadikan simbol keunggulan rasial dan spiritual. Weltevreden bukan sekadar kawasan tempat para pejabat tinggal, melainkan panggung ideologis di mana kolonialisme menampilkan dirinya sebagai peradaban.

Batavia

Kereta Api dan Imajinasi Kemajuan

Dalam perjalanan dari Batavia menuju timur, Carpenter duduk di gerbong kelas satu. Ia memandang keluar jendela, menyaksikan sawah bertingkat, kanal, dan rumah-rumah penduduk yang tampak “seperti rumah boneka di antara rumpun pisang.” Ia menulis dengan penuh kekaguman tentang tanggul-tanggul batu yang menahan banjir, gorong-gorong berlapis plester putih, dan jembatan bambu raksasa yang disebutnya “keranjang batu untuk menahan sungai.”

“Jalan-jalan kereta api di Jawa dibangun dengan cermat. Di bawah hujan tropis yang tak henti, tanggul-tanggulnya berdiri kokoh seperti di Eropa,” tulisnya.

Kereta api bagi Carpenter adalah lambang peradaban. Di matanya, Belanda telah membawa modernitas ke negeri tropis dengan efisiensi yang bahkan melampaui Filipina atau India. Ia mencatat bahwa jarak tempuh kereta api di Hindia Timur “lima kali lebih banyak” dibanding di Filipina.

Namun rel besi yang dikaguminya menyimpan sejarah kelam. Pembangunan jalur Batavia–Surabaya yang dimulai pada 1864 dilaksanakan oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Ribuan pekerja pribumi direkrut melalui sistem kerja wajib (heerendiensten) di bawah pengawasan mandor Eropa. Banyak di antara mereka meninggal karena malaria, longsor, dan kecelakaan. Bagi Belanda, rel itu adalah simbol kemajuan; bagi rakyat, ia menjadi garis besi yang membelah tanah dan tubuh.

Dalam pandangan historiografis, kereta api di Jawa bukan hanya infrastruktur ekonomi, tetapi juga alat disiplin sosial. Ia menertibkan ruang, menghubungkan perkebunan, dan memudahkan pengawasan kolonial terhadap produksi. Rel adalah saraf dari cultuurstelsel yang masih berlanjut dalam bentuk baru: kontrol terhadap ruang dan manusia melalui mesin.

Rel kereta

Estetika Putih: Ketika Kebersihan Menjadi Ideologi

Salah satu bagian paling mencolok dari catatan Carpenter adalah perhatiannya terhadap warna putih. Ia menulis dengan detail memikat:

“Jawa semuanya hijau dan putih. Orang Belanda memutihkan rumah, jembatan, pagar, dan bahkan pabrik gula mereka. Setiap bangunan tampak diselimuti kapur segar, setiap pekerja berpakaian krem, setiap atap berkilau di bawah matahari tropis.”

Bagi Carpenter, warna putih melambangkan kebersihan dan modernitas. Namun bagi sejarawan budaya kolonial, putih adalah metafora moralitas kekuasaan. Warna itu menandai batas antara “yang bersih” sebagai Eropa dan “yang kotor” sebagai pribumi. Dalam ruang kolonial, cat putih berfungsi sebagai bahasa kekuasaan visual, cara halus untuk menunjukkan siapa yang beradab dan siapa yang harus dijinakkan.

Sejarawan Belanda Henk Schulte Nordholt menyebut fenomena ini sebagai “moral geography of colonialism”, geografi moral kolonialisme, di mana kebersihan bukan sekadar persoalan estetika, melainkan alat kontrol sosial. Carpenter tanpa sadar menjadi penyampai moral itu. Ia memuji keteraturan yang dilihatnya, tanpa menyadari bahwa keteraturan tersebut berdiri di atas pemisahan rasial dan kerja paksa.

Putih

Kelas Sosial di Gerbong: Hierarki di Atas Roda

Baca Juga : Atlet Kota Malang Berprestasi di Sea Games, KONI Guyurkan Bonus

Carpenter juga menulis dengan rinci tentang kehidupan di dalam kereta. Ia menggambarkan perbedaan kelas dengan nada netral, tapi narasinya menyimpan hierarki sosial yang tajam:

“Penumpang kelas satu adalah orang Belanda gemuk berpakaian putih krem. Kelas dua diisi para Tionghoa kaya dengan cincin emas dan tongkat. Di kelas tiga, rakyat pribumi duduk berhimpitan di bangku kayu.”

Dalam satu paragraf, ia menulis bahwa pembantunya dikirim ke gerbong kelas tiga, “berdesakan seperti ikan sarden.”
Kereta api kolonial tidak hanya memindahkan manusia, tetapi juga mengatur jarak sosial. Ia memetakan kekuasaan: siapa yang duduk, siapa yang berdiri, siapa yang dilayani, dan siapa yang melayani.
Modernitas kolonial di Jawa, dengan segala kemegahan infrastrukturnya, sesungguhnya adalah sistem pemisahan yang dilembutkan oleh disiplin dan estetika.

Kelas sosial kereta api

Surabaya Lama: Puncak dari Modernitas Kolonial

Ketika kereta tiba di Surabaya, Carpenter menyebut kota itu sebagai “pelabuhan yang sibuk, penuh gudang, kapal uap, dan cerobong pabrik.” Ia mengagumi pabrik-pabrik gula yang “terhampar seperti istana industri” dengan cerobong putih menjulang di bawah langit biru.
Surabaya, pada masa itu, memang sedang menjadi pusat industri kolonial. Jalur kereta menghubungkannya dengan hinterland produksi gula, tembakau, dan kopi di Kediri, Jombang, dan Pasuruan.

Carpenter memandang semua itu sebagai tanda kemajuan. Namun di balik kemegahan Surabaya, sejarah mencatat sisi lain: perbudakan upah, kemiskinan buruh kontrak, dan eksploitasi perkebunan yang didominasi perusahaan-perusahaan swasta Belanda seperti Handelsvereniging Amsterdam (HVA).
Di pelabuhan yang “paling modern” itu, modernitas justru memisahkan manusia: antara yang menguasai teknologi dan yang menjadi bagiannya.

Surabaya Lama

Modernitas yang Dijinakkan: Antara Imajinasi dan Kekuasaan

Dalam pembacaan historiografis, catatan Carpenter dapat dipahami sebagai teks kolonial yang menunjukkan bagaimana teknologi berfungsi menata pandangan. Kereta api, kanal, dan kota putih bukan sekadar proyek fisik, melainkan dispositif, seperangkat alat yang membentuk cara melihat. Ketika menulis bahwa Jawa adalah taman besar yang tertata, Carpenter sebenarnya sedang menegaskan bahwa kolonialisme adalah proyek estetika: usaha menata dunia agar tampak indah, tertib, dan rasional di mata penguasa.

Di sinilah pentingnya membaca ulang teks semacam ini secara kritis. Dalam setiap deskripsi tentang “pemandangan yang indah,” tersembunyi logika penguasaan: sawah yang hijau adalah hasil kerja paksa; kanal yang bersih adalah simbol kontrol; gerbong berpendingin adalah cermin dari kelas sosial.

Modernitas kolonial di Jawa adalah modernitas yang dijinakkan, sebuah modernitas yang tidak membebaskan, melainkan menertibkan.

Surabaya

Jawa yang Diciptakan untuk Diperlihatkan

Pada akhir perjalanannya, Carpenter menulis dengan nada puitis:

“Aku tidak dapat menggambarkan keindahannya. Tidak ada negeri seperti ini di muka bumi.”

Ia menutup catatannya dengan kekaguman yang tulus, tapi juga dengan buta. Ia melihat Jawa seperti melihat taman: teratur, jinak, dan indah. Tapi taman, sebagaimana setiap lanskap buatan, selalu punya penjaga dan pekerja yang tak tampak.

Dalam perspektif sejarah, tulisan Carpenter menjadi cermin bagaimana modernitas kolonial bekerja: ia menciptakan pemandangan yang menenangkan untuk menutupi jerih payah, disiplin, dan luka.
Dari Weltevreden yang putih hingga Surabaya yang berasap, Jawa telah diubah menjadi panggung visual dari sebuah ideologi: bahwa kemajuan hanya mungkin jika ada yang diperintah.

Dan mungkin di sanalah ironi terbesar kolonialisme terletak: ia mengajarkan dunia untuk memandang, tapi tidak untuk melihat.


Topik

Serba Serbi Frank g carpenter KA Jawa weltevreden



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya