JATIMTIMES - Di tengah menjamurnya ragam kuliner modern, Soto Kambing Pak Sukir Ngelo tetap berdiri kokoh sebagai salah satu ikon kuliner legendaris di Malang Raya. Aroma rempah yang kuat dan kuah hangatnya seolah tak pernah kehilangan penggemar, meski warung ini hanya menyajikan satu menu sejak puluhan tahun lalu.
Warung soto yang dirintis sejak 1985 oleh Sukirno ini kini berlokasi di Jalan Tegalgondo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Namun jejak sejarahnya jauh lebih panjang. Tradisi memasak soto kambing tersebut ternyata telah diwariskan secara turun-temurun sejak era 1940-an oleh almarhum Kasan, kakek Sukirno.
Baca Juga : Raker UIT Lirboyo Kediri 2026: Gus Reza Targetkan Prodi Umum dan Perkuat Paham Aswaja
“Dari cerita mertua saya, almarhum Kasan memang ingin membuat soto yang berbeda. Saat itu kebanyakan orang jual soto ayam, sementara soto kambing hampir belum ada,” ujar Gunawan, menantu Sukirno yang kini mengelola warung tersebut.
Awalnya, Soto Kambing Pak Sukir Ngelo berjualan di kawasan Landungsari, sekitar Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Seiring perluasan area kampus, warung tersebut kemudian berpindah lokasi pada 2014 dan menetap hingga kini di wilayah Junrejo.
Meski tampil sederhana seperti warung soto pada umumnya, tempat ini nyaris tak pernah sepi pembeli. Para penikmat kuliner rela datang dari berbagai daerah untuk menikmati seporsi soto kambing yang dikenal dengan sebutan ngeloh, istilah yang diambil dari nama kawasan Landungsari, yang dahulu ramai pedagang kuliner.
Keistimewaan soto ini terletak pada racikan bumbu dan cara memasaknya yang masih mempertahankan tradisi lama. Hingga kini, Soto Kambing Pak Sukir Ngelo masih dimasak menggunakan kayu bakar.
“Resep dan bumbu yang kami gunakan ini warisan dari almarhum Kasan. Dari dulu tidak kami ubah, termasuk cara memasaknya,” kata Gunawan, Sabtu (3/1/2026).
Seporsi soto kambing Pak Sukir Ngelo disajikan dengan kuah berempah, irisan daging kambing empuk, serta pilihan babat atau paru yang dipotong cukup besar. Di atasnya ditaburi bawang prei dan koya kelapa yang ditumbuk manual menggunakan lumpang elemen yang menjadi pembeda utama dari soto kambing lainnya.
“Yang paling dicari pelanggan itu koyanya. Dari kelapa yang ditumbuk sendiri, jadi rasanya gurih dan khas,” tambah Gunawan.
Perpaduan kuah soto, koya, kecap, sambal, dan perasan jeruk nipis menciptakan sensasi segar yang tetap ramah bagi lidah, termasuk bagi mereka yang tidak menyukai makanan terlalu pedas. Bagi pelanggan yang ingin porsi lebih, tersedia tambahan daging maupun jeroan seperti otak, paru, lidah, hati, hingga usus.
Baca Juga : Biro Wisata Noordwijk 36 Batavia: Cikal Bakal Promosi Turisme di Nusantara
“Tambahan daging atau jeroan hanya Rp 3 ribu per potong. Kalau mau pakai lontong atau minta isian tertentu juga bisa,” jelas Gunawan sambil meladeni pelanggan.
Menariknya, harga soto kambing legendaris ini tetap terjangkau. Jika dahulu dijual seharga Rp 100 per porsi, kini pelanggan cukup merogoh kocek Rp 25 ribu untuk menikmati satu porsi soto kambing Pak Sukir Ngelo. Kerupuk disediakan seharga Rp 1 ribu, sementara minuman seperti es jeruk dan teh dibanderol Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.
Dengan cita rasa yang konsisten, sejarah panjang, dan harga yang bersahabat, Soto Kambing Pak Sukir Ngelo bukan sekadar kuliner, melainkan bagian dari identitas rasa Kota Malang yang tetap hidup dari generasi ke generasi.
Sementara itu, salah satu pelanggan Suroso, mengaku telah menjadi penikmat setia soto kambing tersebut sejak lama. Ia menyebut, kekuatan utama Soto Kambing Pak Sukir Ngelo terletak pada racikan rempahnya yang kaya rasa, tanpa meninggalkan aroma prengus khas kambing.
“Rasanya kuat rempah, tapi bau kambingnya hampir tidak terasa. Itu yang bikin saya cocok dan sering kembali ke sini,” ujar Suroso.
