JATIMTIMES - Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang mulai mematangkan skema penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2026 dengan sejumlah terobosan baru. Tidak hanya berfokus pada kuantitas penerimaan, madrasah ini menaruh perhatian serius pada kualitas input peserta didik melalui jalur prestasi, penguatan pendidikan inklusif, serta perubahan pola seleksi sejak tahap awal.
Kepala MIN 2 Kota Malang,l Nanang Sukmawan menjelaskan bahwa PPDB 2026 dirancang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, madrasah ingin sejak awal mendapatkan gambaran utuh tentang potensi calon peserta didik.
“Untuk PPDB 2026 ini, kami ingin mulai mencantumkan konsep madrasah prestasi. Jadi, input anak-anak yang masuk juga benar-benar kami siapkan sejak awal,” ujar Nanang saat diwawancarai, Kamis, (1/1/2026).
Baca Juga : Gubernur Jatim Sambut Meriah Putra Madura Sang Juara Terbaik D'Academy7
Salah satu kebijakan baru yang disiapkan adalah pembukaan jalur prestasi tahfid. Jalur ini ditujukan bagi calon peserta didik yang memiliki kemampuan menghafal Al-Quran, mulai dari satu juz hingga lima juz. Bahkan, untuk kriteria tertentu, peserta dari jalur ini dapat diterima tanpa melalui seleksi tambahan.
“Anak-anak yang memang bertahfid, misalnya lima sampai satu juz, itu bisa kami fasilitasi. Bahkan ada yang bisa free masuk tanpa harus seleksi,” jelasnya.
Selain jalur tahfid, MIN 2 Kota Malang juga membuka jalur prestasi akademik bagi calon peserta didik yang memiliki rekam jejak lomba-lomba akademik. Jalur ini melengkapi jalur terpadu (era permadani) dan jalur reguler yang selama ini telah berjalan. Nanang menegaskan bahwa seluruh jalur tersebut disiapkan untuk mengakomodasi keragaman potensi anak.
“Kami ingin semua potensi itu punya ruang. Baik prestasi akademik, tahfidz, maupun jalur reguler tetap kami fasilitasi,” katanya.
Pada PPDB 2026, MIN 2 Kota Malang juga menambahkan jalur khusus bagi anak-anak dengan kebutuhan atau keistimewaan tertentu. Namun, pendekatan yang diterapkan bersifat inklusif. Anak-anak tersebut tidak ditempatkan di kelas tersendiri, melainkan belajar bersama di kelas reguler dengan pendampingan khusus.
“Nanti tetap ada kelas reguler biasa dan kelas reguler inklusif. Anak-anaknya tetap bersama, hanya saja ada guru pendamping khusus,” ungkap Nanang.
Untuk mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif, pihak madrasah telah menyiapkan penguatan kompetensi guru melalui beberapa pola. Mulai dari studi banding ke wilayah Lawang, keikutsertaan guru dalam pelatihan dan workshop, hingga menghadirkan konsultan dari praktisi yang berpengalaman di bidang pendidikan inklusif. “Guru-guru nanti ada yang memang fokus memegang anak-anak yang istimewa. Kami siapkan melalui pelatihan, workshop, dan juga konsultasi dengan yang sudah berpengalaman,” jelasnya.
Baca Juga : Warga Kota Malang Ditemukan Tewas Misterius di Sungai Molek
Perubahan penting lainnya terletak pada mekanisme seleksi. Jika sebelumnya tes psikologi dilakukan setelah siswa diterima, pada PPDB 2026 tes tersebut akan dilaksanakan di awal, bersamaan dengan proses pemetaan kemampuan.
“Tahun ini polanya berbeda. Tes psikologi kami lakukan dulu bareng dengan pemetaan, baru kemudian pengumuman. Tujuannya supaya kami tahu kemampuan awal anak sejak awal,” kata Nanang.
Dari sisi kuota, MIN 2 Kota Malang menetapkan daya tampung sebanyak 210 peserta didik yang dibagi ke dalam tujuh kelas, jumlah yang tetap dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, kuota khusus untuk jalur reguler inklusif masih dalam tahap pematangan dan direncanakan akan diumumkan sekitar Februari mendatang.
“Kuota total masih 210, tujuh kelas tetap. Untuk reguler inklusif nanti ada kuotanya sendiri, insya Allah kami sampaikan sekitar Februari,” pungkasnya.
Dengan rancangan PPDB yang lebih selektif, inklusif, dan berbasis pemetaan sejak awal, MIN 2 Kota Malang menegaskan komitmennya sebagai madrasah yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. PPDB 2026 tidak hanya menjadi pintu masuk pendidikan dasar, tetapi juga fondasi awal dalam menumbuhkan potensi anak secara utuh dan berkelanjutan.
