Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Rotasi Bumi Melambat, Sehari Tak Selalu Berdurasi 24 Jam

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Dede Nana

01 - Jan - 2026, 07:59

Placeholder
Ilustrasi bumi. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Durasi satu hari di Bumi ternyata tidak selalu sama seperti yang dikenal manusia saat ini. Penelitian terbaru mengungkap bahwa dalam kurun waktu sangat panjang di masa lalu, satu hari di Bumi pernah berlangsung jauh lebih singkat dari 24 jam.

Riset tersebut menunjukkan bahwa selama sekitar satu miliar tahun, panjang satu hari di Bumi bertahan di kisaran 19 jam. Kondisi itu terjadi akibat keseimbangan unik antara dinamika lautan, atmosfer, serta tarikan gravitasi Bulan terhadap Bumi.

Baca Juga : Serunya Malam Pergantian Tahun di Desa Rabasan Sampang

Penelitian ini dipimpin oleh Ross Mitchell, seorang geofisikawan dari Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences. Tim peneliti menganalisis puluhan catatan geologis berupa batuan sedimen yang merekam sejarah Bumi hingga 2,5 miliar tahun ke belakang.

Dengan menggunakan metode siklostratigrafi, para ilmuwan membaca pola-pola berulang pada lapisan batuan. Pola tersebut menyimpan jejak perubahan orbit dan rotasi Bumi dari waktu ke waktu.

Hasil analisis menunjukkan bahwa perlambatan rotasi Bumi tidak berlangsung secara lurus dan konsisten. Sebaliknya, terdapat fase-fase tertentu di mana laju rotasi relatif stabil dalam waktu lama, lalu diselingi periode perlambatan yang lebih cepat.

Salah satu fase paling mencolok terjadi sekitar dua hingga satu miliar tahun lalu, saat panjang hari di Bumi bertahan di sekitar 19 jam. Temuan ini dikutip dari Earth.com, Kamis (1/1/2026).

Menurut Mitchell, pada periode tersebut, dorongan pasang surut atmosfer yang dipicu pemanasan Matahari hampir sepenuhnya menyeimbangkan efek pengereman gravitasi Bulan. Kondisi ini menciptakan semacam resonansi yang membuat perubahan rotasi Bumi tertahan dalam waktu sangat lama.

Tak hanya berdampak pada dinamika planet, fenomena ini juga berpengaruh besar terhadap evolusi kehidupan di Bumi. Pada era tersebut, produksi oksigen global masih didominasi oleh mikroba fotosintetik yang hidup di perairan laut dangkal.

Lamanya waktu siang hari menjadi faktor krusial dalam proses ini. Seberapa lama Matahari bersinar menentukan seberapa banyak oksigen yang dapat dilepaskan ke lingkungan melalui fotosintesis.

Eksperimen menunjukkan bahwa ketika durasi siang terlalu pendek, ekosistem mikroba justru menyerap lebih banyak oksigen dibandingkan yang dihasilkannya. Akibatnya, meski kehidupan mikroba sudah aktif, kadar oksigen di atmosfer tidak mengalami lonjakan signifikan.

Baca Juga : 85 Personel Polresta Malang Kota Naik Pangkat, Kapolresta Ingatkan Amanah dan Tanggung Jawab Lebih Besar

Dengan kondisi hari yang “terkunci” di durasi 19 jam, suplai oksigen global pun tertahan. Hal ini menjelaskan mengapa kadar oksigen Bumi relatif stabil selama periode panjang tersebut.

Baru setelah Bumi keluar dari fase resonansi dan panjang hari perlahan mendekati 24 jam, produksi oksigen meningkat tajam. Tambahan waktu siang memungkinkan fotosintesis berlangsung lebih intens, membuka jalan bagi kemunculan kehidupan yang lebih kompleks.

Meski peristiwa hari 19 jam ini terjadi dalam skala miliaran tahun, rotasi Bumi hingga kini masih terus mengalami perubahan. Data dari jam atom menunjukkan bahwa panjang hari modern dapat berfluktuasi dalam hitungan milidetik.

Fluktuasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika atmosfer dan laut, hingga pergerakan logam cair di inti Bumi. Penelitian sebelumnya juga menemukan adanya osilasi rutin setiap 5,9 tahun, serta lonjakan mendadak yang berkaitan dengan perubahan medan magnet Bumi, yang dikenal sebagai geomagnetic jerks.

Studi ini dinilai secara mendasar mengubah pemahaman ilmuwan mengenai dinamika jangka pendek pada inti fluida Bumi. Selain itu, temuan ini mengindikasikan bahwa mantel bawah Bumi menghantarkan listrik dengan buruk, sehingga membatasi interaksi antara inti yang bergerak dan mantel planet.

Wawasan baru ini memberikan gambaran lebih jelas tentang proses kompleks yang terjadi di bagian terdalam Bumi, sekaligus menunjukkan bahwa perubahan rotasi planet masih terus berlangsung hingga hari ini.


Topik

Peristiwa bumi rotasi bumi jam magnet bumi dasar bumi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana