Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Viral Gelondongan Kayu Terbawa Banjir di Sumut, Ini Penjelasan Content Creator ITB 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

30 - Nov - 2025, 18:05

Placeholder
Potongan kayu berukuran besar itu terbawa arus di sungai hingga ke permukiman di Sumatera Utara. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Video gelondongan kayu ikut hanyut terbawa arus banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera Utara ramai jadi sorotan publik. Potongan kayu berukuran besar itu terbawa arus di sungai hingga ke permukiman. Fenomena ini kemudian mengundang tanda tanya, dari mana asal kayu-kayu tersebut?

Tak sedikit warganet yang mengaitkan temuan kayu itu dengan dugaan pembalakan liar yang memperparah bencana banjir dan longsor di wilayah hulu.

Baca Juga : Desakan Status Bencana Nasional untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Makin Menguat

Gelondongan kayu itu diketahui muncul di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga. Hingga kini, asal usul kayu gelondongan tersebut masih belum jelas.

Tak hanya di Sumatera Utara, gelondongan kayu juga berserakan di sepanjang Pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat. 

Content creator yang juga alumni Matematika ITB Alif Towew ikut mengulas viralnya fenomena ini. Diketahui, Alif dikenal sering menyampaikan analisis edukatif dengan pendekatan matematika dan fisika.

Dalam videonya, Alif mencoba menjelaskan apakah kayu yang hanyut itu berasal dari pohon tumbang alami atau hasil tebang terlebih dulu. “Yang lagi viral, katanya Kemenhut sebut kayu gelondongan di banjir Sumut bukan hasil pembalakan liar, tapi itu adalah murni tumbang katanya. Nah, apakah ini betul? Yuk kita hitung bareng-bareng,” ujar Alif dalam videonya.

Alif memulai dengan membahas massa jenis kayu. “Di sini benda yang terapung itu terjadi kalau masa jenisnya lebih kecil dari masa jenis air. Kalau tenggelam, masa jenis bendanya lebih besar daripada masa jenis airnya,” jelasnya.

Ia menyebut kayu yang sudah lama ditebang biasanya lebih ringan karena kadar airnya berkurang sehingga cenderung terapung lebih banyak di permukaan. Sementara kayu yang baru tertebang atau masih menyimpan banyak air akan cenderung tenggelam.

Berdasarkan pengamatan visual dari video viral, Alif menilai banyak potongan kayu yang terapung tinggi di permukaan air. “Kemungkinan ini berarti pohon yang sudah lama karena massa jenisnya sudah turun,” ungkapnya.

Baca Juga : Kenapa Urus Sertifikat Tanah Lama? Begini Penjelasannya

Alif juga menyoroti bentuk dan kondisi kayu yang tampak serupa satu sama lain, potongannya rapi, tanpa ranting maupun dahan. “Kayunya ini bersih, tidak ada dahan dan ranting. Dan kulit kayunya sudah terkelupas. Jadi, kemungkinan ini tidak alami,” katanya.

Alif melanjutkan analisisnya dengan menghitung estimasi volume kayu yang hanyut. Ia berasumsi jumlahnya sekitar 3.000 batang kayu, masing-masing berdiameter 70 cm dengan panjang 4 meter. Dari hitungan tersebut, total volume kayu diperkirakan sekitar 4.620 meter kubik.

Mengacu pada jumlah pohon di hutan sekunder yang berkisar 80 sampai 200 pohon per hektare, Alif memperkirakan luas hutan yang harus rusak untuk menghasilkan volume kayu sebanyak itu mencapai 57 hingga 231 hektare. 

“Ini segede 80 lapangan sepak bola. Nah, ini apakah ada nggak sih lapangan longsor yang seluas 57,7 hektare sehingga 3.000 pohon ini pada hanyut semua akibat banjir?” ujar Alif.  


Topik

Peristiwa Banjir Sumatera kayu gelondongan dugaan pembalakan liar kejadian viral



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy