Hotel Pelangi, saksi bisu perjuangan arek-arek Malang yang masih berdiri kokoh meski sempat hancur saat Agresi Militer Belanda tahun 1947. (Istimewa)
Hotel Pelangi, saksi bisu perjuangan arek-arek Malang yang masih berdiri kokoh meski sempat hancur saat Agresi Militer Belanda tahun 1947. (Istimewa)

MALANGTIMES - Kota Malang memiliki sejumlah hotel tua yang selalu menjadi ikon wisata heritage. Salah satu yang tertua adalah Hotel Pelangi atau dulunya dikenal sebagai Hotel Palace.

Hotel dengan nuansa bangunan kuno di kawasan Alun-Alun Kota Malang itu memiliki sejarah panjang. Pernah hancur lantaran serangan agresi militer Belanda, hotel yang beberapa kali pindah tangan itu pun masih beroperasi hingga hari ini.

Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Agung H. Buana menyampaikan, hotel tersebut awalnya dibangun oleh seorang Belanda yang bernama Abraham Lapidoth. Dan hotel ini diberi nama sesuai dirinya, yaitu Hotel Lapidoth, pada 1860. Kemudian namanya pun diubah menjadi Hotel Malang sebelum akhirnya dijual ke pemerintah Hindia Belanda.

"Setelah itu, hotel ini dibangun dan diresmikan kembali pada tahun 1915 dengan nama Hotel Palace," ungkapnya

Lantas pada 1942, Hotel Palace kembali berganti nama menjadi Hotel Assoma karena saat itu dikuasai  Jepang. Setelah Jepang tak lagi berkuasa, nama hotel pun kembali menjadi Hotel Palace pada 1945. 

Kemudian saat terjadi agresi militer Belanda I pada 1947, bangunan hotel ini menjadi salah satu yang terkena imbasnya. "Saat agresi militer, kerusakan hotel sangat parah," imbuhnya.

Salah satu menara yang menjadi ikon dari hotel mengalami kerusakan dan tak tersisa. Saat agresi militer terjadi, Hotel Palace ini juga menjadi salah satu tempat pengungsian, sebelum akhirnya pemerintahan saat itu mengungsi ke kawasan Kepanjen.

Selanjutnya pada 1953, hotel tersebut dibeli oleh pengusaha ternama asal Kalimantan bernama H. Sjacran Hoesin. Hotel pun kemudian kembali dibangun sesuai dengan bentuk aslinya. Namun pembangunan tersebut tak sepenuhnya sama dengan bangunan awal. "Karena menara kembar yang ada di tengah-tengah dan menjadi ikon dari hotel tersebut tak terbangun," kata Agung.

Setelah pembangunan selesai, Hotel Palace berganti nama menjadi Hotel Pelangi hingga sekarang. Peninggalan arsitektur kuno dari hotel lawas itu pun masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Lantai hingga bentuk bangunan serta daun pintu dan jendela masih utuh. Selain itu, ada sekitar 22 lukisan keramik yang saat itu dilukis langsung oleh seorang seniman Belanda dan dibawa ke Malang pada 1915.